Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 39


Saat mata terbuka untuk Adriel melihat sang istri yang masih tidur. Tampak sang istri yang tidur begitu pulas sekali. Senyum Adriel pun menghiasi wajahnya. Menunjukkan seberapa bahagia dirinya kali ini. Apalagi saat bangun tidur melihat sang istri di depannya.


Adriel tidak pernah menduga akan jatuh pada pesona Arriel-wanita yang usianya jauh lebih tua dibanding dirinya. Namun, hatinya seolah sudah terpatri dengan nama Arriel.


Bagi Adriel, status bukanlah penghalang. Cinta bisa hadir pada siapa saja dan dengan siapa saja.


Tangan Adriel membelai lembut wajah Arriel. Menyelipkan rambut sang istri yang sudah kering ke belakang telinga. Semalam, setelah mandi, sang istri memang langsung tidur. Dia terlalu lelah ketika harus mengeringkan rambutnya. Beruntung pendingin ruangan mampu mengeringkan rambut basah sang istri.


“Sayang.” Adriel memanggil sang istri yang terlelap. Sebenarnya dia tidak tega, tetapi mereka harus bangun dan bersiap ke bandara.


Arriel masih nyaman dalam selimut yang membungkus tubuhnya. Tubuhnya terlalu lelah. Lelah karena acara pernikahan dan tentu saja lelah karena penyatuannya dengan sang suami.


Adriel yang gemas langsung mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Menyesapnya dan menikmati ciuman tanpa pembalasan.


Arriel merasakan gerakan tepat di bibirnya, hanya bisa membatin. Kenapa bibirnya serasa aneh sekali. Seperti sedang diedot oleh vacum cleaner . Saat gerakan itu semakin kencang, Arriel segera membuka matanya. Alangkah terkejutnya ketika ada orang tepat di depannya. Reflek Arriel mendorong tubuh orang yang di depannya.


“Mau apa kamu?” Pertanyaan Arriel seketika terlontar dari bibirnya. Namun, beberapa detik kemudian dia sadar jika itu adalah sang suami. Dengan malunya Arriel menarik tangannya yang baru saja mendorong sang suami.


Adriel tidak marah. Dia justru tertawa melihat aksi sang istri. “Apa kamu lupa punya suami?” tanyanya.


Arriel menarik selimut menyembunyikan wajahnya di balik selimut. Malu sekali ketika ketahuan melupakan sang suami.


“Maaf aku lupa.” Dengan polosnya Arriel menjelaskan pada Adriel. Dia terbiasa tidur sendiri. Jadi sedikit terkejut ketika ada orang yang tidur bersamanya.


“Karena hari ini masih hari pertama maka aku memaafkanmu. Jika nanti kamu lupa lagi. Aku akan membuat tanda di seluruh tubuhmu hingga kamu ingat jika kamu milikiku.” Adriel tersenyum sambil menempelkan hidungnya pada hidung Arriel yang mancung.


“Aku tidak akan lupa lagi karena aku tidak mau kamu meninggalkan tanda di seluruh tubuhku, karena orang akan melihatnya nanti.” Arriel tersipu malu dengan ucapannya sendiri.


“Biar saja orang melihatnya. Agar mereka tahu, milik siapa kamu sekarang.” Adriel mendaratkan bibirnya di leher Arriel.


Tawa Arriel pun terdengar. Dia merasa geli dengan yang dilakukan sang suami.


“Cukup.” Arriel terdengar memohon. Tawanya masih terdengar renyah sekali.


Adriel melepaskan Arriel. Dia harus segera bersiap untuk bulan madu. Jadi tentu saja dia harus segera melepaskan sang istri.


“Kita lanjutkan nanti.” Adriel mengedipkan matanya. Menggoda sang istri.


Arriel hanya tersenyum saja. Otaknya sudah dipenuhi dengan bayangan indah bulan madu. Membayangkan saja dia sudah bahagia. Apalagi menjalaninya. Karena tak sabar dia bergegas bangun. Segera bersiap untuk bulan madu.


Adriel pun segera bersiap. Menahan hasratnya lebih dulu, karena mereka harus segera ke bandara. Dia masih bisa melanjutkannya nanti. Setelah sampai di pulau dewata.