
Arriel yang merasakan suara tepat di telinganya, membuat jantungnya berdegup dengan kencangnya. Suara yang lirih itu membuatkan dirinya merasakan gelenyar aneh pada tubuhnya. Berada dekat di kamar berdua seperti ini sudah untuk yang kedua kali, tetapi kali ini status mereka sudah berubah.
Adriel memutar tubuh Arriel. Membuat sang istri menghadap ke arahnya. Tangannya membelai lembut wajah Arriel. “Apa kamu tahu, aku bahagia sekali bisa menikah denganmu.”
“Aku juga senang ketika menikah denganmu.” Ketika jatuh cinta lagi dan akhirnya menuju ke pelaminan, tentu saja adalah hal yang diharapkan oleh Arriel, dan beruntungnya semua terwujud.
Mereka saling menatap. Perlahan Adriel mengikis jarak di antara mereka berdua. Mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang kini menjadi istrinya. Tempat yang Adriel tuju adalah bibir merekah milik sang istri. Kini dia bisa lebih leluasa lagi ketika melakukannya. Mengingat sekarang mereka sudah resmi menjadi sepasang suami-istri.
Adriel menyesap manis bibir sang istri. Tangannya merengkuh pinggang sang istri agar membuat tubuhnya semakin menempel dengan sang istri. Tangan Arriel yang melingkar di lehernya membuat ciuman mereka lebih dalam. Keduanya larut dalam pertukaran saliva. Mengakses setiap sudut tanpa terlewatkan. Suara kecapan pun terdengar mengisi heningnya malam. Suara yang hanya bisa didengar oleh mereka sendiri.
Tangan Adriel yang berada di pinggang, perlahan naik ke atas. Menurunkan ritsleting gaun yang dipakai oleh sang istri.
Melihat hal itu, Arriel melepaskan tautan bibirnya. Dia menatap sang suami dengan lekat. Seolah masih ada yang menganjal di hatinya.
“Kenapa?” Adriel menatap sang istri yang seolah tidak suka dengan apa yang dilakukannya.
“Apa tidak apa-apa jika kamu tidak akan mendapatkan keperawanan?” Arriel memastikan lebih dulu. Dia tidak mau ada penyesalan setelahnya.
“Apa cinta hanya diukur dengan keperawanan saja? Ada banyak hal yang bisa dilihat dari wanita. Terlepas dia perawan atau tidak. Aku sudah bilang bukan. Jika aku tidak bisa dapat yang pertama, aku mau jadi yang terakhir dan selamanya mendapatkanmu.” Adriel menghargai wanita terlepas hal itu. Mungkin bisa jadi di luar sana banyak wanita seperti Arriel yang takut memulai hubungan, karena alasan yang sama.
Mereka berdua hanya saling pandang sambil melepas apa yang melekat di tubuh mereka. Tatapan keduanya menyiratkan cinta.
Saat gaun Arriel jatuh ke lantai, Adriel mendaratkan kecupan di bahu sang istri. Suara indah pun terdengar dari bibir Arriel ketika merasa sentuhan itu membuat hasratnya mulai muncul
Suara itu sudah seperti bel masuk rumah. Tinggal menunggu rumah dibuka, dan dirinya bisa masuk. Suara itu juga membuat Adriel segera mendaratkan bibirnya pada bibir sang istri. Membungkam sang istri yang mulai bersuara indah.
Adriel perlahan mendorong tubuh Arriel ke tempat tidur. Tautan yang tak terlepas membuat keduanya masih larut dengan kegiatan itu.
Saat napas mulai terengah, Adriel melepaskan tautan bibirnya. Senyumnya merekah ketika melihat wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Perlahan Adriel melepaskan apa yang melekat di tubuhnya. Kemudian beralih pada sang istri. Membuang pakaian yang melekat di tubuh mereka ke sembarang tempat.
Pertemuan dua tubuh tanpa sehelai benang itu mengantarkan mereka pada kenikmatan dunia. Bagi Adriel ini yang pertama. Tentu saja memberikan sensi luar biasa. Tak pernah didapatinya kenikmatan ini sebelumnya.
Walaupun bagi Arriel ini bukan yang pertama kali, tentu saja tetap terasa sakit. Mengingat sudah sekian lama dia tidak merasakan hal itu. Cengkeraman di punggung sang suami, menandakan seberapa kuat dia menahan benda asing itu masuk. Adriel yang paham, tentu saja menunggu sang istri mulai rileks. Kemudian membuat irama tubuh saat sang istri mulai menerima kedatangannya.
Pertemuan dua tubuh itu mengantarkan mereka mencari kenikmatan. Suara indah yang keluar dari bibir keduanya menandakan seberapa nikmat irama tubuh dibuat. Pendingin ruangan pun tak mampu menghalau peluh menetes. Keduanya larut dalam kegiatan baru yang akan membuat candu bagi keduanya.