Suami Terpilih

Suami Terpilih
Bab 48


Arriel mencoba alat tes kehamilan di kamar mandi. Sudah tiga bulan dia menikah, dan ini ke tiga kalinya dia mengecek menggunakan alat tes kehamilan. Dua kali alat tes kehamilan sebelumnya dicoba, semuanya gagal. Kini untuk ketiga kalinya, Arriel berharap jika tidak akan gagal.


Arriel menggunakan sesuai dengan petunjuk penggunaan. Kemudian menunggu alat tes kehamilan bekerja. Saat alat terlihat hasilnya, Arriel harus kecewa lagi. Karena ternyata hanya satu garis yang didapatkannya. Rasanya, Arriel benar-benar sedih. Harapannya untuk segera mendapatkan anak, ternyata tak semudah itu.


Dengan kekecewaannya itu, Arriel keluar dari kamar mandi. Adriel yang sudah menunggu dengan cemas di luar, melihat jika sang istri berwajah kecewa ketika keluar. Hal itu membuatnya yakin jika hasilnya adalah negatif.


Adriel segera meraih tubuh sang istri. Membawanya ke dalam pelukannya. Menenangkan sang istri.


“Kita coba lagi nanti.” Adriel tahu sang istri pasti kecewa. Sudah tiga kali mencoba, jadi tentu saja itu membuat sang istri begitu kecewa sekali.


Arriel hanya mengembuskan napasnya. Berusaha untuk tetap kuat. Tak mau sampai bersedih. Karena pasti tidak baik untuknya.


“Hari ini kita akan jemput Lolo. Jadi kita bisa bermain dengan Lolo.” Adriel mengalihkan pikiran Arriel.


Arriel tersenyum. Mungkin mengalihkan kegiatan dengan Loveta akan membuat dia sedikit lupa dengan kesedihannya.


“Baiklah, ayo bersiap. Kita jemput Lolo.” Adriel mendaratkan kecupan di puncak rambut Arriel. Dia berharap sang istri tidak sedih karena gagal memiliki anak.


Mereka pun segera bersiap. Menjemput Loveta di rumah Dathan. Dengan adanya Loveta, Arriel berharap jika kebahagiaannya tetap ada.


...****************...


Seharian Adriel dan Arriel bermain dengan Loveta. Menemai gadis kecil itu bermain di playground. Arriel juga seketika lupa kesedihannya saat anaknya bersamanya. Hanya tawa yang menghiasi wajah mereka.


“Kita sudah bermain, bagaimana jika kita beli baju.” Arriel memberikan ide.


“Ayo kalau begitu.” Adriel pun menuruti apa yang diminta sang istri.


Mereka bertiga segera berlalu ke toko baju. Arriel memilih baju yang senada dengan Loveta dan Adriel. Mereka pun mencoba baju-baju tersebut. Tampak begitu menyenangkan ketika memilih baju bersama anak-anak. Loveta yang centil pun ikut mengomentari apa yang dipilih sang mama.


“Mama, aku tidak mau pakai baju seperti kue rainbow.” Ketika Arriel memilih baju yang berwarna-warni Loveta menolak. Dia lebih suka satu warna atau dua warna. Jika terlalu banyak warna dia tidak suka.


“Baiklah, kalau begitu kita pilih yang ini saja.” Arriel mengambil baju dengan warna pink. Satu warna, tetapi tampak cantik.


“Lolo mau.” Senyum Loveta menghiasi wajahnya. Dia begitu bersemangat sekali.


Arriel tersenyum. Dia senang melihat anaknya Itu. Arriel berpikir jika di saat belum diberikan anak, pastinya dia bisa menggunakannya dengan bermain bersama Loveta. Menciptakan kenangan manis bersama Loveta.


Puas memilih pakaian, Arriel segera membawanya ke kasir. Dia segera mengeluarkan kartu miliknya. Berniat untuk membayar. Namun, baru saja dia hendak mengeluarkan kartu dari dompetnya, tiba-tiba Adriel mencegahnya.


“Biar aku yang bayar.” Adriel tersenyum.


Arriel tidak tega sekali. Dia tahu berapa gaji Adriel. Jika dihitung, baju yang dibelinya itu seperempat gaji Adriel.


“Tunggulah di sana bersama Lolo.” Adriel melihat anaknya yang duduk sendiri. Jadi dia meminta sang istri kembali menemani.


Arriel mengangguk. Tadinya dia tidak tega, tetapi dia berubah pikiran. Berpikir jika sang suami sedang menyenangkan dirinya dan anaknya.