
Suara ketukan pintu terdengar. Arriel yang sedang sibuk dengan pekerjaanya mengalihkan pandangan. Saat pintu dibuka tampak Mauren di balik pintu.
“Ada apa?” tanya Arriel menatap temannya itu.
“Ada Adriel.” Mauren memberitahu temannya itu.
Arriel memang meminta Adriel untuk datang ke toko perhiasan miliknya hari ini. Dia ingin mengukur cincin untuk pernikahan mereka. Setelah ini juga, rencananya mereka akan memesan kemeja untuk acara pernikahan.
“Suruh masuk.” Arriel begitu bersemangat. Dia segera mematikan laptopnya. Agar bisa fokus pada apa yang mau dikerjakan.
Mauren mempersilakan Adriel untuk masuk ke ruangan Arriel. Membuka pintu lebar agar Adriel masuk.
Adriel yang masuk melihat calon istrinya yang sedang berdiri menghampirinya. “Hai,” sapanya pada wanita cantik yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
“Hai, kamu datang lebih awal sepertinya.” Arriel menghampiri Adriel. Tangannya segera meraih tangan Adriel da menggenggamnya. “Ayo.” Dia mengajak Adriel untuk duduk di sofa.
Adriel mengikuti saja ke mana Arriel membawanya. Tepat di sofa, mereka duduk berdua bersebelahan. Arriel dengan segera mengambil alat untuk mengukur jari Adriel. Dia tak berlama-lama untuk melakukannya.
“Cincin seperti apa yang akan aku pakai?” Adriel begitu penasaran sekali.
Arriel yang sedang mengukur jari Adriel, mengalihkan pandangannya. “Cincin pria itu monoton. Tidak banyak hiasan.” Arriel menjelaskan. Cincin pria memang tidak banyak bentuk dan hiasan. Jadi hanya berbentuk lingkaran dengan ukuran saja.
“Lalu seperti apa cincin milikmu?” Adriel tersenyum. Kini dia lebih tertarik dengan cincin yang dibuat Arriel sendiri.
“Aku taruh di rumah. Jadi nanti kita ke rumah setelah kamu pesan jas. Sekaligus untuk melihat gaun yang sudah aku pesan.” Arriel tersenyum. Dia sedikit malu ketika ternyata dia sudah menyiapkan semuanya.
“Sejak kapan kamu menyiapkan gaun dan cincin pernikahan?” Sambil menunggu, Adriel mengisi dengan mengajak bicara Arriel.
“Sejak setahun yang lalu. Setahun yang lalu aku mulai ingat Loveta dan merasakan kehilangan waktu begitu banyak dengan anakku. Dari situ aku mulai menelaah lagi apa yang aku jalani selama ini. Ternyata selama ini aku begitu gigih bekerja hingga lupa dengan keluarga dan kehidupan pribadiku. Kegiatanku hanya bekerja dan berkerja. Dari situ aku mulai iri dengan mereka yang begitu menikmati keluarga yang bahagia, dan aku ingin merasakannya.” Arriel tersenyum. Selama ini memang itulah yang terjadi padanya. Titik balik di mana dia sadar jika dia harus mulai melihat dari sisi yang lain.
“Beruntung kamu baru tersadar sekarang. Jika tersadar sejak awal, mungkin bukan aku yang akan mendampingimu.” Adriel membelai rambut Arriel dan menyelipkannya ke belakang telinga. Memandangi wanita cantik di depannya itu penuh damba.
“Cinta tahu ke mana dia akan menemukan tempatnya. Jadi sekali pun aku tersadar dulu, nanti, atau sekarang, jika kamu adalah tempatku menempatkan cintaku. Itu tidak akan mengubah takdir.” Arriel benar-benar jatuh cinta dengan Adriel. Pria di depannya itu membuatnya jauh lebih tenang.
Inilah yang disukai Adriel. Wanita dewasa. Jadi dia tidak terlalu kesulitan ketika harus menghadapinya. Mungkin Arriel sama saja dengan wanita pada umumnya. Namun, mungkin karena pengalaman besar, mengubahnya jauh lebih dewasa.
“Jadi kamu mencintai aku?” Adriel tersenyum menyeringai.
“Jangan menggodaku.” Arriel mencubit perut Adriel. Kesal ketika pria yang dicintainya menggodanya.
Adriel tertawa. Lalu mencekal tangan Arriel. Menariknya mendekat padanya. Hal itu membuat tubuh mereka berada dalam jarak yang begitu dekat. “Jika kamu tidak mau mengakuinya, biar aku yang mengakuinya.” Adriel tersenyum. Tangan Adriel membelai lembut wajah Arriel. “Aku mencintaimu.” Satu kalimat cinta diucapkan Adriel.
Arriel tersipu malu. “Aku juga mencintaimu.” Sebuah ungkapan yang memang berasal dari hati.
Jarak keduanya yang begitu dekat membuat mereka saling beradu pandang. Perlahan, pandangan mereka menuntun untuk lebih mendekat. Berusaha untuk meraih bibir manis dan menggoda milik keduanya.
Tok … tok …
Baru saja bibir mereka nyaris bertemu. Namun, tiba-tiba suara pintu diketuk didengar. Adriel perlahan melepaskan tubuh Arriel dan menjauhkan tubuhnya sedikit. Tak mau sampai ada orang yang melihatnya hendak mencium Arriel.