
...----------------...
"Yah, kok ada Bang Troy sih, Gralindnya mau pergi sama aku," ujar Albar menatap Troy yang sudah memakai setelah outer kemeja berwarna hijau tua sembari memegang helm.
"Kalau Abang sih sudah ada janji, tapi coba kamu tanya Gralind, dia mau pergi sama siapa," jawab Troy berjalan ke arah Gralind dan Albar. "Gimana Gralind?"
Gralind menelan ludah, bagaimana bisa dia berada di tengah-tengah dua pria ini, sama-sama dewasa tapi Gralind tidak sama sekali tertarik, dia harus fokus kepada tujuan awalnya.
"Sama, aku aja yah?" Albar menatap Gralind memohon, entah ada apa dengan pria ini sehingga dia ingin waktu berdua dengan Gralind. "Kalau sama Bang Troy, nanti kamu di bilang jalan sama bapak-bapak."
Gralind mengulas senyum, dia menatap Albar sejenak. "Maaf yah Albar, kemarin aku udah janji sama Pak Troy, buat pergi sama Pak Troy aja, mungkin lain kali bareng kamu."
Troy mengulas senyum penuh kemenangan, sementara Albar hanya bisa cemberut dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.
"Gapapakan, Albar?"
Albar mengangkat kepala, pria berwajah asia tegas dengan alis tebal itu menautkan kedua alisnya dan menatap Gralind. "Gapapa kok, lagipula aku kayaknya ada tugas hehe, yaudah aku duluan yah!"
Albar berlalu dari hadapan mereka berdua dengan begitu cepat, baik Gralind dan Troy tidak menaruh curiga dengan sikap Albar dan bersikap seperti biasanya.
"Sudah, siap?"
Gralind yang sudah mengambil tasnya kemudian mengangguk, dia berjalan bersama dengan Gralind untuk parkiran kost, melewati ruang tamu dimana ada anak-anak yang sedang berkumpul.
"Morning Mister Danta, tumben Mister Danta pagi gini udah seger, biasanya masih mainan kucing," sapa Febby melihat Bapak Kostnya itu.
"Pagi Febby, Pagi juga anak-anak, gapapa ini mau temenin Gralind beli perabotan, hayo kalian udah habis gajian kan?"
"Tahu aja, Mister Danta," kekeh salah satu dari mereka. "Nanti uang Kost-nya kami transfer yah."
"Tapi kalau telat dikit, gak ngaruh kan, Mister?"
Troy mengangkat jempol. "Aman, asal jangan ketahuan Bu Tania aja kalau Bu Tania nanya bilang aja udah bayar sama Mister!"
"Siap, Mister Danta!"
Gralind yang hendak memakai helm-nya, kaget karena Troy tiba-tiba menariknya dan memakaikan itu untuknya. "Ayok, naik."
Gralind hanya mengangguk pelan, setelah selesai, mereka berdua kemudian mulai meninggalkan Area kost-an, menyisakan dua pasang mata milik Albar yang menatap keduanya menjauh pergi dari kejauhan.
"Kok anak-anak lain, manggil Bapak Troy, Mister Danta sih?" tanya Gralind pada Troy yang sedang berkendara.
"Oh itu, saya kan Bule, lumayan lama sudah tinggal di Indonesia semenjak nikah sama Tania, yang biar tetap keliatan Bule mereka manggil saya Mister, Danta itu nama depan saya Ardanta, baru kamu ini yang manggil saya Bapak Troy, selain Albar dan Tania."
"Berarti aku harus manggil Mister Danta juga dong, biar sama kayak anak-anak lain?" tanya Gralind pada Troy.
Troy tertawa pelan, dia membiarkan angin menyapa wajahnya, sementara Gralind hanya heran. "Kok ketawa?"
"Gapapa, saya suka panggilan Bapak Troy, anggap aja panggilan sayang kamu ke saya!"
"Hah?" Gralind belum bisa mencerna kalimat Troy, karena Troy langsung meminggirkan motornya di depan sebuah pantai yang biasa dijadikan tempat rekreasi di kota Makassar. "Kok berhenti."
Troy membuka helm-nya kemudian turun dari motor, dia berjalan pelan menuju tembok pendek, pembatas antara laut dan area pantai kemudian duduk disana.
"Gerd saya kambuh!" jawab Troy.
Gralind yang mengetahui hal itu langsung kelabakan mencari air putih, sampai dia menemukan pedagang disekitar sana dan membelinya, setelah mendapatkan air putih yang dia perlukan, dia segera memberikannya kepada Troy.
"Minum Pak, emang Bapak gak sarapan?"
Troy menunduk lemas. "Istri saya gak masak, saya lupa order."
"Astaga Bapak, kan kemarin itu aku beliin minuman, kalau istri Bapak gak perhatian seenggaknya Bapak perhatian dong sama diri Bapak sendiri!" Gralind mengoceh, Troy menatap wajah itu. "Minuman kemarin itu bisa dijadikan pengganti sarapan, kenapa gak diminum, kalau udah gini kan siapa yang khawatir-"
Troy menarik tangan Gralind sehingga tubuh Gralind jatuh tepat di badan Troy, dan dengan sigap Troy langsung mengecup bibir Gralind pelan.
Gralind membuka mata sempurna dengan keadaan terkejut sementara Troy memejamkan matanya mencium bibir Gralind.
...----------------...