Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 99


Sudah lewat dari pukul dua belas malam, tapi mata Ayu masih sulit sekali untuk terpejam dan malah suara detik jarum jam yang memenuhi indra pendengarannya.


Berdecak kesal, Ayu beralih memutar posisinya untuk tidur tengkurap tapi tak berselang yang dia dapati justru rasa engap sebab sulit untuk bernapas. Menendang guling yang berada di sisinya, Ayu pun memilih bangkit dari ranjang untuk keluar kamar.


Hari ini sebenarnya dia amat lelah dengan beban pikiran yang bergelayut dalam benaknya. Sulit tidur bukan perkara sepele sebab esok dia harus kembali lagi beraktifitas. Detik waktu yang kian bertambah menuntun kakinya berjalan-jalan ke sekitaran rumah. Berharap rasa kantuk segera menghampirinya.


Gelap dan hanya diterangi cahaya remang Ayu menyusuri tiap ruangan. Sengaja tak menghidupkan lampu atau pun memakai alas kaki agar tak memancing orang untuk sekedar mendatanginya.


Kaki yang mulai dirasanya pegal mau tak mau membuat langkah Ayu terhenti. Dia mendudukan diri di kursi sofa ruang tamu. Sejenak menatap mengedarkan matanya ke seluruh ruangan namun tak berselang dirinya memilih merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang dengan pikiran yang mulai mengelana.


Mata yang lama terjaga perlahan-lahan menjadi sayu. Lelah seakan merasai seluruh tubuh Ayu hingga dalam alam bawah sadarnya terasa tubuhnya menghangat. Ada lembaran kain menutupi tubuhnya.


Namun rasa kantuk yang menguasai tak mampu membuatnya membuka kelopak mata lebih. Hingga dalam cahaya keremangan dapat dia lihat sekelebat bayangan lelaki tua yang beranjak menjauh pergi dari tempatnya, dan Ayu menyakini itu adalah Kakeknya.


***


Tersentak, Ayu bangun dengan spontan saat mendengar suara berisik dari arah dapur. Selimut yang dipakainya semalam telah menjuntai jatuh ke lantai.


Memang di luar masih gelap sebab ini masih jam subuh dan asisten rumah tangga di rumahnya telah memulai aktivitas. Segera Ayu beranjak berdiri menyadari bahwa dirinya masih berada di ruang tamu.


Tapi lagi-lagi dirinya terhenyak dengan gerakan kaki terhenti sebab selimut yang teronggok di lantai. Menyadarkannya bahwa semalam yang terjadi bukan hanya ilusi. Sudut bibirnya pun tertarik. Senyum mengembang menghias di bibirnya pagi ini sebab dia yakin bahwa Kakeknya memiliki rasa kepedulian terhadapnya.


Berjongkok mengambil selimut, Ayu pun segera melanjutkan langkahnya bergegas kembali menuju ke kamar.


***


Rutinitas di tempat kerjanya pagi ini berlangsung begitu tegang. Masalah yang kemarin akibat kegagalan Event membuat satu tim yang beranggotakan Ayu di dalamnya harus menghadapi private meeting yang dipimpin langsung oleh wakil manager hotel Wijaya, Akram Zaidan.


Sifatnya yang Ayu kenal sangat berbeda jauh ketika sosok itu memimpin rapat. Penuh wibawa, tegas dan juga keras. Keras sesuai dengan situasi yang dihadapi, apalagi jika para staffnya berbuat kesalahan dan menyalahi prosedur tak sesuai dengan aturan kerja.


Seluruh tim kini kena imbasnya termasuk juga Ayu, banyak poin-poin yang Akram sebutkan atas kekurangannya. Termasuk sifat kurang profesionalis dan belum adanya pengalaman. Ayu pun juga mengakui sebab dia merasa sebagai pemula dan tentunya harus bisa belajar untuk mengembangkan skillnya.


Hingga tiba istirahat siang pun Ayu masih memikirkan kata-kata Akram juga teringat akan percakapannya dengan Soraya dan Rudi. Layaknya terhubung, mungkin memang jalan yang dapat Ayu tempuh adalah belajar lebih giat lagi. Karena dalam hati dia menyakini bahwa pengalaman dan wawasan hanya di dapat dari orang yang mau bersedia untuk belajar.


Orang yang Ayu lihat sungguh nampak anggun dengan dandanan pakaian atas bawah rapi, rambut di cepol, wajah berias dan enak untuk dipandang mata. Sudah tentu Ayu yakin orang di sebelahnya memiliki pangkat lebih di hotel ini, juga pasti disegani oleh yang lainnya. Sedangkan dirinya bila dibandingkan tentu tak ada apa-apanya.


Tersadar orang yang berdiri di samping Ayu kini menatapnya, karena orang itu menyadari bahwa Ayu lama memperhatikannya.


"Hai," sapa wanita yang berdiri di samping Ayu usai mengoleskan lipstik pada bibirnya.


Kening Ayu mengernyit dan kemudian menoleh sungkan pada wanita di sampingnya lalu hendak pergi berpamit usai dirinya mencuci tangan pada wastafel. Tapi wanita itu itu justru berujar hingga Ayu menghentikan langkahnya.


"Tunggu! Sepertinya kita pernah bertemu," ucap wanita itu.


Ayu pun memutar langkah mulai memperhatikan wanita yang berdiri tak jauh darinya. Tapi dirinya justru menggeleng.


Berdecak wanita itu pun berujar, "Kemarin lusa. Kamu kan yang datang ke acara syukuran tempatnya Akram. Oh ya kenalin aku Dinda sekertarisnya Akram."


Ayu pun menyambut uluran tangan wanita di hadapannya dan mulai mengingat bahwa mereka pernah bertemu saat acara lusa lalu.


"Baru tahu ternyata kamu juga kerja disini," ujar Dinda dan Ayu menganggukinya sambil menampilkan senyum tipis di bibirnya. "Kemarin Akram juga ngasih tahu aku, namamu Ayu kan?"


Ucapan Dinda membuat Ayu sedikit tersentak, namun Dinda menanggapinya dengan mengulum senyum di bibirnya. "Semoga ya lain waktu kita bisa bertemu lagi. Aku ingin ngobrol banyak denganmu."


Ayu pun serta merta membalas dengan senyum kaku, sebab sisi dirinya bingung harus mengambil sikap dengan orang yang baru saja dia kenal.


"Oke kalau begitu aku duluan," ujar Dinda yang kemudian berlalu lebih dulu meninggalkan toilet, sedangkan tatapan Ayu masih mengarah pada kepergian Dinda hingga hilang di balik pintu.


Cantik, anggun, terlihat berpendidikan dan juga ramah. Sekertaris Pak Akram, dan kenapa sampai Pak Akram menyebutkan namanya pada wanita itu? Sungguh Ayu merasa dibuat bingung.


"Atau jangan-jangan...?" gumam Ayu menoleh pada pintu, hingga akhirnya bergegas beranjak pergi untuk mencari keberadaan Kevin.


To be Continue