Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 63


Dengan mata melebar perlahan wajah Ayu berubah menjadi pucat. Pertanyaan yang dilayangkan oleh Kanaya justru kali ini berputar-putar dalam benaknya, "Sejak kapan Pak Akram berada disini?"


Akram yang juga kebetulan tengah menatap ke duanya hanya bersikap santai dengan satu tangan masuk dalam saku celana. "Kalian gak keluar untuk istirahat?" ucap Akram dengan sorot mata mengarah pada jam dinding.


"Ini baru siap-siap Pak. Bapak gak keluar, atau barangkali bisa titip saya belikan makan siangnya?" sahut Kanaya menawarkan bantuannya, sebab beberapa karyawan memang sering menitip untuk dibelikan makan siang olehnya.


"Tidak, terimakasih. Barusan sudah," sahut Akram dengan tersenyum ramah.


Kanaya yang memang telah mendapat banyak titipan pesanan dari karyawan lain pun segera pamit pergi terlebih dahulu, dan berbeda dengan Ayu. Dirinya masih berada di tempat dengan sedikit menyibukkan diri, merapikan beberapa alat kerja, menyusun pada tempatnya. Hal itu pun membuat Akram untuk membuka suara, "Kamu gak keluar?"


Ayu yang merasa ada orang tengah berbicara kini menoleh pada sumber suara. Dia sedikit menoleh pada tempat sekitar, bingung kalau-kalau bukan dirinya yang diajak bicara.


"Saya ngomong sama kamu," ucap Akram menunjuk ke arah Ayu.


Dengan senyum canggung, Ayu pun menggeleng. "Tidak Pak, saya kan hanya pekerja partime. Sebentar lagi saya balik," sahut Ayu bangkit berdiri dan menutup pintu tempat penyimpanan alat-alat kebersihan.


Dia pun berjalan menuju arah wastafel guna mencuci tangan. Tapi dia sedikit bingung sebab Akram tak berpindah dari tempatnya. "Bapak masih disini? Apa gak pergi untuk istirahat siang?" tanya Ayu ragu-ragu.


"Kamu mengusir saya?"


Ayu jadi mengerti tanggapan Pak Akram tadi hanyalah sebuah candaan, tapi tetap saja rasa canggung itu masih saja menyelimuti. Situasi awkward benar-benar sedang berlangsung, sikap dan ucapan yang Ayu tujukan pada Akram seharusnya tak melibatkan perasaan. Namun semua terasa begitu sulit, apalagi debaran dalam dadanya serasa menyempitkan rongga pernapasannya dalam menarik dan melepaskan udara.


Sial memang, bahkan Ayu sampai lupa untuk mematikan kran air. Hingga harus Akram yang turun tangan bergerak mendekat padanya dan lagi-lagi membuat Ayu sedikit salah tingkah dibuatnya.


"Setelah selesai dipakai jangan lupa untuk dimatikan. Kamu tahu dibelahan dunia lain sana ada orang lain yang membutuhkan tiap aliran yang terbuang dengan percuma," petuahnya membuat Ayu mengangguk kaku dan meski Akram berdiri tepat di sampingnya, Ayu terasa sulit untuk sekedar menggeser tubuhnya sedikit menjauh.


Hingga Akram bergerak mundur dan memercikkan air yang tadi sedikit membasahi tangannya, tepat pada wajah Ayu. Sedikit terkaget, Ayu pun refleks menutup matanya. Yang entah kenapa Akram justru tersenyum melihat Ayu yang demikian.


Kejadian tadi pun hanya berlangsung sejenak sebab pintu pantry terdengar terbuka, ada beberapa karyawan masuk ke dalam. Dengan begitu pula Akram menyurutkan senyumnya lalu berpamit pada Ayu untuk keluar dari ruangan yang juga disapa oleh karyawan lain yang ada pada ruangan itu.


Pukul satu siang sudah lewat dari beberapa menit yang lalu. Ayu telah bersiap untuk menuju ruang General manager, tempat Kevin berada.


Dengan mengetuk pintu selama tiga kali kata sahutan dari dalam tetap tak diperolehnya, sedangkan di meja sekertaris yang berada di sebelahnya tampak kosong tak ada orang. Sedangkan Ayu sudah tak memiliki banyak waktu lagi, jadwal lainnya telah ada yang menunggu seperti halnya kuliah sore. Kalau untuk Zahra setelah dijaga oleh Mbak Vina, beberapa jam kemudian akan dialihkan pada Mbak Astri tetangganya.


Dengan pertimbangan juga sedikit gerak ragu, akhirnya Ayu menggerakkan tangannya untuk menarik handle pintu dengan sangat hati-hati. Tapi begitu terkejutnya dirinya ketika pintu telah dibuka, mata Ayu terbelalak menatap tak percaya sebab menemukan dua orang tengah bergumul di sudut sofa dengan pakaian yang sama-sama setengah terbuka.