
Sepulang kerja aku hanya mampir kos sebentar, kemudian bersiap. Butuh waktu hampir satu jam mengendarai motor ke tempat acara reuni.
Kali ini Sandy yang menjemputku, sekalian katanya. Padahal kalau dihitung jarak dan waktu dia yang rugi, sebab dia musti bolak-balik untuk antar jemput aku.
Dan dengan entengnya dia bilang gak apa-apa, kan gak tiap hari juga. Katanya begitu.
Aku pun hanya menanggapinya dengan okelah saja, sebab sudah pasti acaranya nanti berakhir sampai malam.
Tiba di acara, teman-temanku nyatanya telah berkumpul. Akupun segera bergabung bersama mereka, lebih tepatnya menghambur pada grup wanita. Kami berbincang bertukar pengalaman dan yang jelas juga melepas kerinduan.
"Kamu jadian ya sama Sandy?" ucap berbisik Sarah usai menarikku mencari tempat yang sedikit lenggang.
Alisku mengernyit dan aku balasi dengan gelengan kepala.
Sarah kini justru mencibir mengejek menanggapiku. "Alah ngaku aja?" godanya.
"Suer. Gak," tegasku.
"Tapi kenapa kalian berdua bisa berangkat bareng?"
Aku kini menatap Sarah dengan mimik wajah yang kubuat-buat. Rasanya ada sesuatu yang janggal, pikirku yang menangkap gelagatnya.
"Bisa dong. Apa sih yang gak bisa buat Ayu!" ujarku dengan percaya diri.
Dan benar saja kini wajah Sarah berubah ekspresi, dia nampak cemberut. Aku pun terkekeh. "Gitu aja ngambek," sindirku.
"Gak kok, aku sama Sandy berangkat bareng karena kebetulan aja. Dan kamu tahu kan, aku dan Sandy dari dulu adalah sahabat," sahutku dan Sarah menanggapiku dengan mengangguk-anggukan kepala.
"Ngomong-ngomong kamu naksir ya sama Sandy," tanyaku menebak.
Raut wajah Sarah kini berubah memerah, dia berusaha menyembunyikannya dengan memberengut sebal tapi tentu saja itu tak bisa tertutupi dari tatapan menilaiku yang jelas akurat. Diperhatikan dengan seksama begini kutahu dari gelagatnya bahwa dia memang ada rasa pada sahabatku Sandy.
"Sejak kapan?" tanyaku menuntut.
"Apanya yang sejak kapan?" sahutnya cepat-cepat.
Akupun berdecak. "Ya sejak kamu naksir sama dia?" ucapku seraya menunjuk ke arah Sandy yang tengah asyik mengobrol dengan Wira teman alumni kami.
"Apaan sih, ngaco kamu!" sergahnya berusaha menampik.
"Awas aja keduluan yang lain!" ucapku menakut-nakuti. Padahal yang aku tahu sih memang Sandy masih sendiri, alias jomblo happy.
Sarah kini justru mencubit pinggangku kuat. Dan tentu saja aku terpekik atas tinggahnya hingga kami jadi pusat perhatian yang lainnya. Akupun mencoba tersenyum meski canggung ke arah teman-temanku. Dan balik menoleh ke arah Sarah.
"Habisnya kamu sih!" sahutnya kesal.
Akupun malah terkekeh. "Oke deh sebagai sahabat yang baik, kayaknya aku perlu ambil tindakan nih," kataku seraya pikir-pikir.
"Tindakan apa?" Tanya Sarah penasaran.
"Nyomblangin kalianlah," kataku disertai tawa terbahak menatap wajah Sarah yang kini terkesan malu-malu.
Tak lama suara deheman terdengar dan aku sangat hafal dia adalah Sandy. Panjang umur dia, baru di omongin sudah muncul di depan mata, seruku dalam hati.
"Balik yuk, udah jam setengah sepuluh." Ajak Sandy usai melihat jam di pergelangan tangannya.
"Gak terasa sudah malam," cicit Sarah dengan nada kecewa.
Akupun menepuk pundak Sarah. "Tenang saja, lain kali pasti akan ada kesempatan bersama dengan durasi waktu yang panjang," ucapku dengan mengedipkan mata.
Sarah justru membalasku dengan menepuk kuat lenganku membuatku meringis sok merasakan sakit, padahal sih gak.
Akupun kini berpamitan padanya juga kemvali bergabung pada teman-temanku untuk berpamitan pulang.
Di perjalanan pulang dengan di terangi lampu jalanan kota kami sama-sama terdiam di atas motor.
Namun baru dapat beberapa kilometer kini Sandy membelokkan motornya ke arah jalanan taman kota. Aku yang sedikit bingung pun mulai menepuk pundaknya.
"Mau kemana?" kataku bertanya dengan meninggikan suara.
"Kita mampir dulu sebentar," katanya yang terdengar sedikit gugup. Atau mungkin karena efek angin jadi suaranya terdengar begitu, pikirku menerka.
Usai aku turun dari motornya, aku mengedarkan mataku menatap sekitaran taman. Ngapain malam-malam kesini, batinku.
Dan saat aku menoleh kepadanya hendak bersuara, kini aku justru dibuatnya terkejut sebab kulihat Sandy tengah mengambil setangkai bunga dan boneka dari dalam jok motornya, kemudian di ulurkan kepadaku.
"Sandy ini apa?" tanyaku bingung dengan tangan tak bergerak, masih bersembunyi dibalik tubuh.
"Aku udah lama pengen kasih ini ke kamu. Aku gak tahu kapan waktu yang tepat. Semakin menunggu tentu saja kupikir itu akan mengulur waktu," ucapnya membuat keningku mengerut dalam.
Sandy pun kini kembali bersuara disertai satu kakinya bergerak berlutut di hadapanku, "Maukah kamu jadi pacarku?"
To be Continue
Sepulang kerja aku hanya mampir kos sebentar, kemudian bersiap. Butuh waktu hampir satu jam mengendarai motor ke tempat acara reuni.
Kali ini Sandy yang menjemputku, sekalian katanya. Padahal kalau dihitung jarak dan waktu dia yang rugi, sebab dia musti bolak-balik untuk antar jemput aku.
Dan dengan entengnya dia bilang gak apa-apa, kan gak tiap hari juga. Katanya begitu.
Aku pun hanya menanggapinya dengan okelah saja, sebab sudah pasti acaranya nanti berakhir sampai malam.
Tiba di acara, teman-temanku nyatanya telah berkumpul. Akupun segera bergabung bersama mereka, lebih tepatnya menghambur pada grup wanita. Kami berbincang bertukar pengalaman dan yang jelas juga melepas kerinduan.
"Kamu jadian ya sama Sandy?" ucap berbisik Sarah usai menarikku mencari tempat yang sedikit lenggang.
Alisku mengernyit dan aku balasi dengan gelengan kepala.
Sarah kini justru mencibir mengejek menanggapiku. "Alah ngaku aja?" godanya.
"Suer. Gak," tegasku.
"Tapi kenapa kalian berdua bisa berangkat bareng?"
Aku kini menatap Sarah dengan mimik wajah yang kubuat-buat. Rasanya ada sesuatu yang janggal, pikirku yang menangkap gelagatnya.
"Bisa dong. Apa sih yang gak bisa buat Ayu!" ujarku dengan percaya diri.
Dan benar saja kini wajah Sarah berubah ekspresi, dia nampak cemberut. Aku pun terkekeh. "Gitu aja ngambek," sindirku.
"Gak kok, aku sama Sandy berangkat bareng karena kebetulan aja. Dan kamu tahu kan, aku dan Sandy dari dulu adalah sahabat," sahutku dan Sarah menanggapiku dengan mengangguk-anggukan kepala.
"Ngomong-ngomong kamu naksir ya sama Sandy," tanyaku menebak.
Raut wajah Sarah kini berubah memerah, dia berusaha menyembunyikannya dengan memberengut sebal tapi tentu saja itu tak bisa tertutupi dari tatapan menilaiku yang jelas akurat. Diperhatikan dengan seksama begini kutahu dari gelagatnya bahwa dia memang ada rasa pada sahabatku Sandy.
"Sejak kapan?" tanyaku menuntut.
"Apanya yang sejak kapan?" sahutnya cepat-cepat.
Akupun berdecak. "Ya sejak kamu naksir sama dia?" ucapku seraya menunjuk ke arah Sandy yang tengah asyik mengobrol dengan Wira teman alumni kami.
"Apaan sih, ngaco kamu!" sergahnya berusaha menampik.
"Awas aja keduluan yang lain!" ucapku menakut-nakuti. Padahal yang aku tahu sih memang Sandy masih sendiri, alias jomblo happy.
Sarah kini justru mencubit pinggangku kuat. Dan tentu saja aku terpekik atas tinggahnya hingga kami jadi pusat perhatian yang lainnya. Akupun mencoba tersenyum meski canggung ke arah teman-temanku. Dan balik menoleh ke arah Sarah.
"Habisnya kamu sih!" sahutnya kesal.
Akupun malah terkekeh. "Oke deh sebagai sahabat yang baik, kayaknya aku perlu ambil tindakan nih," kataku seraya pikir-pikir.
"Tindakan apa?" Tanya Sarah penasaran.
"Nyomblangin kalianlah," kataku disertai tawa terbahak menatap wajah Sarah yang kini terkesan malu-malu.
Tak lama suara deheman terdengar dan aku sangat hafal dia adalah Sandy. Panjang umur dia, baru di omongin sudah muncul di depan mata, seruku dalam hati.
"Balik yuk, udah jam setengah sepuluh." Ajak Sandy usai melihat jam di pergelangan tangannya.
"Gak terasa sudah malam," cicit Sarah dengan nada kecewa.
Akupun menepuk pundak Sarah. "Tenang saja, lain kali pasti akan ada kesempatan bersama dengan durasi waktu yang panjang," ucapku dengan mengedipkan mata.
Sarah justru membalasku dengan menepuk kuat lenganku membuatku meringis sok merasakan sakit, padahal sih gak.
Akupun kini berpamitan padanya juga kemvali bergabung pada teman-temanku untuk berpamitan pulang.
Di perjalanan pulang dengan di terangi lampu jalanan kota kami sama-sama terdiam di atas motor.
Namun baru dapat beberapa kilometer kini Sandy membelokkan motornya ke arah jalanan taman kota. Aku yang sedikit bingung pun mulai menepuk pundaknya.
"Mau kemana?" kataku bertanya dengan meninggikan suara.
"Kita mampir dulu sebentar," katanya yang terdengar sedikit gugup. Atau mungkin karena efek angin jadi suaranya terdengar begitu, pikirku menerka.
Usai aku turun dari motornya, aku mengedarkan mataku menatap sekitaran taman. Ngapain malam-malam kesini, batinku.
Dan saat aku menoleh kepadanya hendak bersuara, kini aku justru dibuatnya terkejut sebab kulihat Sandy tengah mengambil setangkai bunga dan boneka dari dalam jok motornya, kemudian di ulurkan kepadaku.
"Sandy ini apa?" tanyaku bingung dengan tangan tak bergerak, masih bersembunyi dibalik tubuh.
"Aku udah lama pengen kasih ini ke kamu. Aku gak tahu kapan waktu yang tepat. Semakin menunggu tentu saja kupikir itu akan mengulur waktu," ucapnya membuat keningku mengerut dalam.
Sandy pun kini kembali bersuara disertai satu kakinya bergerak berlutut di hadapanku, "Maukah kamu jadi pacarku?"
To be Continue