Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 83


Baca dulu part sebelumnya ya!


Sore menjelang. Ayu dan Zahra yang tengah menikmati makan malamnya terhenti sesaat sebab mendengar pintu depan yang tengah terketuk.


Keterkejutan serta merta Ayu rasakan. Pintu yang baru saja dibuka olehnya menampilkan sosok Ibu kos bertubuh gempal yang bernama Bu Rosa.


Ayu paham kedatangan orang di hadapannya yang tak sendiri membawa serta dua orang laki-laki kepercayaan bersidekap dada menatapnya. "Sudah tahukan kedatangan saya kemari?"


Ayu mengangguk. "Bu tolong beri saya masa tenggang lagi. Saya janji begitu gaji saya keluar, saya akan langsung bayar," ucapnya berusaha memohon pengertian.


Rosa mendengus, membuka lipatan tangannya merubah posisi berkacak pinggang menatap Ayu dengan pandangan sinis. "Saya sudah dengar ribuan alasan dari penghuni kos dan kontrakan yang gak mampu bayar. Alasannya sama seperti yang kamu ucapkan tadi. Dan sudah berapa kali kuberi teguran? Tiga kali. Masih belum cukup!" tegasnya.


"Tapi saja kemarin terkena musibah Bu. Jadi saya mohon pengertiannya lagi," ucap Ayu yang berusaha memohon.


"Angkat kaki dari sini!" perintah tegas Rosa sang pemilik kos. "Sebelum saya berubah pikiran dan mengeluarkan paksa barang-barangmu dari dalam," imbuhnya mengancam.


Melirik ke arah dua orang di belakang Rosa, Ayu merasa ciut. Tubuh besar, kekar dengan tampilan mirip preman. Tato rata di lengan, mirip sekali dengan orang-orang yang pernah Ayu temui dulu saat rumahnya di sita.


"Lalu dimana saya akan tinggal. Ini sudah hampir malam. Tolong beri saya waktu untuk mencari tempat tinggal baru."


Berdecih. Rosa kemudian tertawa mengejek. "Itu bukan urusan saya. Disini saja kamu sudah seenaknya telat gak bayar. Cepat bereskan barangmu. Aku beri waktu satu jam!"


"Disini juga masih ada barang Mbak Vina. Gak mungkin bisa secepat itu."


"Kalian, keluarkan semua barang-barang di dalam. Terlalu banyak omong kosong bicara dengan bocah ini," ucap Rosa memberi perintah pada ke dua orang kepercayaannya.


Ayu segera bersiap menghadang. "Biar saya sendiri yang keluar kan barang-barang milik saya," ujar Ayu cepat.


Ayu pun berbalik badan untuk masuk ke dalam kamar kosnya. Dari arah dalam dia masih mendengar perintah, hanya satu jam dia memiliki kesempatan mengemasi barang, dan selebihnya akan akan menjadi urusan Rosa dan orang kepercayaan.


Beruntung siang tadi Ayu telah merapikan barang-barang yang ada di kamar kosnya. Jadi sekarang Ayu tinggal memasukkannya ke dalam tas jinjing dan sekiranya barang tak perlu dan barang milik Vina dia tinggalkan.


Zahra anak itu rupanya paham dengan apa yang tengah dilakukan kakaknya. Saat dia mendekat dan Ayu berusaha menjelaskan bahwa mereka akan pindah. Lalu meminta agar Zahra memasukan buku-buku pelajaran ke dalam tas ranselnya.


Tak sampai satu jam Ayu keluar dari kamar kos. Beberapa orang penghuni kos lain memperhatikan apa yang tengah Ayu alami. Dan pemandangan seperti itu layaknya sudah biasa bagi mereka.


Dulu Ayu masih tertolong dengan bantuan Vina. Vina seringnya menutup biaya tempat tinggal mereka bahkan terkadang menolak jika Ayu memberi uang separuh dari jatah bulanan tempat kos.


Di Jakarta memang tak diragukan dengan tingkat perekonomiannya dan biaya hidup yang tinggi. Meski sudah berusaha seirit mungkin, tetap saja Ayu kalang kabut bila tiba di akhir bulan.


Sebelum pergi Ayu melirik ke arah sebelah tempat tinggalnya. Ada yang dia kenal, Bang Fahmi saudara sepupu Rico. Tapi rasanya Ayu tak bisa untuk meminta bantuan lagi kepadanya, karena telah banyak Ayu merepotkannya.


Dengan uang yang tersisa dan memperhitungkan kemana Ayu bisa sementara tinggal, dirinya pun memutuskan untuk mencari taksi online.


Belum sampai Ayu membuka gembok pagar, dirinya dikejutkan dengan seorang petugas keamanan yang menegurnya.


"Mbak nyari siapa ya?"


Sontak Ayu membalikkan tubuhnya. Mencoba tersenyum ramah. Orang di hadapannya adalah orang yang sering dia temui di tempat penjagaan depan, dekat palang pintu masuk kompleks ini.


"Oh Mbak," ucap satpam yang berdiri di hadapan Ayu yang sedikit mengenali. "Ada kepentingan apa Mbak kemari. Kebetulan Pak Akram pemilik rumah ini tadi keluar dan menitipkan penjagaan rumah ini kepada saya," sambungnya menjelaskan.


Ayu bingung harus menjawab apa sebab sejujurnya dia ingin menumpang tinggal sementara. Dengan ragu Ayu berujar, "Memang Pak Akram sudah menempati tempat ini Pak?"


"Belum. Hanya sesekali datang mengecek tempatnya. Tapi sepertinya memang akan ditinggali, karena renovasi rumahnya sepertinya sudah selesai dari beberapa hari lalu."


Ayu mengangguk. "Lalu kira-kira kapan ya Pak, Pak Akram akan kembali?"


"Kalau itu saya tidak tahu Mbak karena Pak Akram kesini gak tentu. Coba Mbak telpon saja ke nomor Pak Akram."


Ayu menggeleng. "Saya gak nyimpan nomornya Pak."


Melirik pada barang bawaan Ayu dan juga berfikir bahwa gadis itu tak datang sendiri, Pak satpam pun berinisiatif untuk menelpon Akram. Karena memang dia menyimpan nomor pemilik rumah ini yang terkenal ramah diantara penghuni lain. Bahkan kala saat Akram pertama kali membeli rumah ini yang didatangi adalah para petugas keamanan sekitar.


"Coba saya bantu hubungi Pak Akram lebih dulu," ucap Pak satpam merogoh ponselnya dari dalam saku celana.


Ayu menunggu dengan kecemasan kala orang yang berdiri tak jauh darinya tengah berbicara melalui telpon, memberitahukan keadaan dan kondisi Ayu yang datang. Tak lama Pak satpam itu menghampirinya. "Kata Pak Akram, Mbak disuruh tunggu sebentar."


Mengangguk. "Terimakasih Pak."


"Iya bukan apa-apa Mbak. Atau bisa tunggu di gardu pos saja, disana ada tempat duduk. Kasihan adiknya berjongkok lama disitu."


Ayu menggeleng. "Terimakasih Pak. Kami disini saja."


Mengangguk membalas ucapan terimakasih Ayu, Pak satpam pun berujar, "Baiklah kalau begitu, saya balik ke pos. Kalau ada apa-apa bisa cari saya disana."


Ayu pun mengangguk mengiyakan dan setelahnya petugas keamanan itu pergi melanjutkan tugasnya.


Lebih dari dua puluh menit Ayu menunggu. Kakinya sudah serasa kesemutan karena menopang tubuh Zahra yang tengah mengantuk, belum lagi dengan nyamuk yang mengigitnya. Tapi dia menguatkan diri untuk bertahan, meyakinkan dalam hati bahwa orang yang di tunggunya akan tiba.


Dan benar, tak lama cahaya lampu dari arah ujung jalan makin terlihat mendekat. Cahaya terang makin menyeruak menerobos retinanya. Dengan menyipitkan mata dan mencoba menajamkan penglihatan, Ayu perlahan bangkit dari posisinya berjongkok sambil masih menopang tubuh Zahra.


Kening Ayu mengernyit. Akram? dia tak yakin. Dan kala sang pemilik mobil di hadapannya membuka pintu mobil untuk turun, bibir Ayu bergerak menyebutkan nama, "Pak Kevin?"