
"Apa? Siapa kekasihnya Pak Akram?" tanya Ayu antusias.
Sedangkan Kevin melirik tak suka. "Kenapa memangnya?"
Ayu berdecak. "Saya hanya ingin tahu saja. Lelaki perfect seperti Pak Akram gimana wujud wanita yang dicintainya," ujar Ayu yang tak menyadari bahwa Kevin telah berubah ekspresi wajahnya.
"Di depan kekasih— Ah bukan. Maksudku calon suamimu sendiri berani-beraninya kamu memuji lelaki lain?" ujar Kevin penuh intimidasi.
Sontak Ayu melirik ke arah Kevin, tak berpengaruh sedikit pun dengan ekspresi lelaki di sampingnya dan berujar penuh penekanan, "Jangan lupakan kalau Pak Akram dulunya cinta pertama saya."
Berdecih. Kevin pun langsung menimpali ucapan Ayu. "Dulu," ucapnya meremehkan. "Tapi kamu harus selalu ingat sayang, bahwa aku lah cinta terakhirmu," ujar Kevin yang langsung memberi kecupan kilat di pipi Ayu.
Bahkan tak mempedulikan puluhan pasang mata yang menatap interaksi mereka, hingga Ayu tak kuasa memukuli kesal punggung Kevin yang menyerobot antrian berdiri tepat di depannya.
Satu jam berada dalam ketinggian Ayu tertidur pulas, hal itu terjadi sebab semalam dia hanya tidur dalam hitungan jam. Sedangkan Kevin bahunya dipergunakan untuk menopang kepala Ayu.
Di satu sisi Akram yang duduk tak jauh dari mereka berdua duduk dengan cemas, berharap pesawat yang ditumpanginya segera mendarat sampai pada tujuan.
Beberapa jam lalu diberitakan kepadanya dari salah seorang kepercayaannya yang berada di Singapura mengatakan bahwa kondisi seseorang yang tiga tahun lebih dia perhatikan dalam keadaan sekarat.
Akram begitu panik hingga memesan tiket pesawat dan untungnya masih tersedia kursi kosong.
Saat pesawat telah mendarat dan para penumpang diijinkan untuk turun satu persatu secara tertib, Akram mulai tergesa hingga tak mengetahui keberadaan Kevin dan juga Ayu yang duduk di beberapa deret kursi yang telah dia lewati.
Tujuannya saat keluar dari gedung bandara adalah apartemen miliknya, lebih tepatnya tempat yang dia beli namun ditinggali oleh tiga orang disana.
Begitu sampai di depan pintu apartemen, Akram langsung menekan pascode. Berjalan tergesa dan meletakkan tas ranselnya ke sembarang tempat langkah kaki Akram mendadak terhenti sebab terdengar memekik suara panggilan untuknya.
"Papa!..." Bocah kecil itu kini tengah meronta ingin turun dari gendongan pengasuhnya saat melihat ada sosok Akram datang di tempatnya.
Senyum bocah itu merekah bersamaan ketika turun dari gendongan dan berlari kepayahan menuju tempat berdirinya Akram.
"Papa..." teriaknya dan disambut dengan Akram yang menyunggingkan senyum lalu merentangkan tangan menyambut bocah kecil itu untuk dipeluk, digendong dan beberapa kali Akram mendaratkan kecupan di pipi bocah kecil itu.
"Nagita kangen Papa?" Ucap Akram dan sontak mendapat anggukan dari bocah kecil itu. Membalas dengan melingkarkan dua lengan kecilnya memeluk leher Akram dan kembali Akram memberi kecupan di pipi cubby bocah kecil itu hingga tertawa cekikikan.
"Papa juga rindu," ucap Akram gemas. Memberi sedikit jarak pada bocah kecil itu, lalu Akram kembali berujar dengan sedikit menyibakkan rambut ikal yang menutupi sedikit wajah bocah kecil itu. "Nagita sudah makan siang belum?"
"Non Gita belum makan Pak." Justru pertanyaan itu kini dijawab oleh pengasuh Nagita yang bernama Santi. Orang yang sama-sama dari Indonesia, yang dipekerjakan Akram di apartemennya untuk mengurus bocah kecil itu semenjak lahir hingga sekarang.
Kembali menatap Nagita, Akram mengelus lembut kepala bocah kecil itu. "Nagita makan dulu ya ditemani Mbak, nanti setelah makannya selesai Papa ajak Gita main," ujar Akram dengan menatap lekat mata bening Nagita.
Dengan bibir yang mengerucut dan menampilkan raut wajah kecewa Nagita mengangguk dan menundukkan kepalanya. Tapi Akram dengan segera mengecup pipi cubby yang nampak menggemaskan itu meski dengan tampilan wajah merajuk.
"Nanti setelah selesai makan, Papa belikan es krim. Gimana?" ucap Akram membujuk.
"Iya," tegas Akram. "Mau rasa coklat, stroberi atau vanila?"
"Cokat Papa!" sahut Nagita antusias.
"Ok baiklah, kalau gitu makan dulu ya. Dan dihabiskan. Setelah selesai laporan sama Papa. Nanti kita beli es krim sama-sama."
Mengangguk-anggukan kepala, Nagita kini bergegas ingin turun dari gendongan Akram. Namun Akram masih mencegahnya dan berujar, "Cium dulu, setelah ini turun."
Dengan menurut bocah kecil berusia dua tahun itu menurut dan mencium sayang ke dua pipi Akram. Setelahnya Akram mengalihkan tubuh kecil itu pada pengasuhnya.
"Maaf tadi saya langsung menelpon Bapak, soalnya saya panik lihat Mamanya Non Gita mulai kumat dan gak mau dibawa ke rumah sakit. Padahal sudah saya telpon kan pihak perawat," jelas Santi dan diangguki oleh Akram.
"Terimakasih Mbak, kalau begitu saya titip Gita dan lihat keadaan Alvina di dalam," ujar Akram yang kemudian beralih masuk menuju kamar yang berada di ujung ruangan apartemennya.
Akram mengetuk pintu di hadapannya dua kali, tak mendapat sahutan dari dalam akhirnya dia memilih untuk masuk. Mendekati arah ranjang Akram memperhatikan lekat wajah wanita yang tengah tertidur pulas. Nampak mata wanita itu cekung dengan tubuh yang makin kurus dari hari sebelum Akram kembali bertandang kemari.
Akram sudah memelankan gerakannya saat menaikkan selimut menutupi bagian tubuh wanita itu, namun sepertinya pergerakan Akram mengganggu kenyamanan wanita itu. Hingga mengakibatkan mata yang terbuka itu nampak sayu menatap Akram, sudut bibir lansung tertarik tersenyum saat Akram mengambil duduk di sisi ranjangnya.
"Kita ke rumah sakit Al," ucap Akram menyentuh bahu wanita itu, tapi kalimatnya serta merta mendapat penolakan.
Wanita itu kini menggeleng dan mencoba bangkit untuk bersandar di papan ranjangnya dengan gerak yang kepayahan, tentu Akram langsung mencegahnya.
"Sudah tiduran saja," ucap Akram.
"Kenapa repot-repot kesini?"
"Kalau kamu tetap menolak berobat ke dokter lebih baik kita pulang," ujar Akram tegas.
Tapi lagi-lagi wanita itu menanggapi Akram dengan senyum. "Aku sudah menurutimu dulu. Berobat rutin dan melakukan tindakan terapi yang kamu bilang dokter terbaik sampai kamu bawa aku kesini. Tapi hasilnya sama saja, malah buang-buang duit kamu," ujar wanita itu dengan senyum mengejek yang tak sedikitpun membuat Akram terpancing dari rasa emosi, dan justru Akram menatapnya dengan iba.
"Aku juga rutin minum pil yang diberi dokter, tapi hasilnya masih seperti ini. Hanya tinggal menunggu kematianku saja." Tiada kesedihan saat wanita itu mengucapkan kalimatnya, tapi yang terdengar di telinga Akram justru ucapan yang begitu tenang.
"Nagita membutuhkanmu," ucap Akram menyahuti.
"Tidak. Jika saja kamu tidak memaksaku untuk mempertahankannya. Bukankah saat aku menurutimu yang ada kami berdua jadi benalu. Itu pilihanmu kan, dan sekarang jangan menyalahkanku."
"Aku tak pernah menyalahkanmu Al," tegas Akram.
"Iya aku tahu. Kamu bahkan sangat mencintai anak itu."
"Iya aku mencintai Nagita, juga mencintaimu. Bukan hanya Nagita yang butuh kamu tapi aku juga. Aku butuh kamu..." ujar Akram yang nampak rapuh menatap wanita di hadapannya. Hingga tangannya terulur menggenggam dan menenggelamkan wajahnya pada jemari kurus milik wanita yang bernama Alvina.
Part masih berlanjut yaaaaaaa... komen banyak-banyak
"Apa? Siapa kekasihnya Pak Akram?" tanya Ayu antusias.
Sedangkan Kevin melirik tak suka. "Kenapa memangnya?"
Ayu berdecak. "Saya hanya ingin tahu saja. Lelaki perfect seperti Pak Akram gimana wujud wanita yang dicintainya," ujar Ayu yang tak menyadari bahwa Kevin telah berubah ekspresi wajahnya.
"Di depan kekasih— Ah bukan. Maksudku calon suamimu sendiri berani-beraninya kamu memuji lelaki lain?" ujar Kevin penuh intimidasi.
Sontak Ayu melirik ke arah Kevin, tak berpengaruh sedikit pun dengan ekspresi lelaki di sampingnya dan berujar penuh penekanan, "Jangan lupakan kalau Pak Akram dulunya cinta pertama saya."
Berdecih. Kevin pun langsung menimpali ucapan Ayu. "Dulu," ucapnya meremehkan. "Tapi kamu harus selalu ingat sayang, bahwa aku lah cinta terakhirmu," ujar Kevin yang langsung memberi kecupan kilat di pipi Ayu.
Bahkan tak mempedulikan puluhan pasang mata yang menatap interaksi mereka, hingga Ayu tak kuasa memukuli kesal punggung Kevin yang menyerobot antrian berdiri tepat di depannya.
Satu jam berada dalam ketinggian Ayu tertidur pulas, hal itu terjadi sebab semalam dia hanya tidur dalam hitungan jam. Sedangkan Kevin bahunya dipergunakan untuk menopang kepala Ayu.
Di satu sisi Akram yang duduk tak jauh dari mereka berdua duduk dengan cemas, berharap pesawat yang ditumpanginya segera mendarat sampai pada tujuan.
Beberapa jam lalu diberitakan kepadanya dari salah seorang kepercayaannya yang berada di Singapura mengatakan bahwa kondisi seseorang yang tiga tahun lebih dia perhatikan dalam keadaan sekarat.
Akram begitu panik hingga memesan tiket pesawat dan untungnya masih tersedia kursi kosong.
Saat pesawat telah mendarat dan para penumpang diijinkan untuk turun satu persatu secara tertib, Akram mulai tergesa hingga tak mengetahui keberadaan Kevin dan juga Ayu yang duduk di beberapa deret kursi yang telah dia lewati.
Tujuannya saat keluar dari gedung bandara adalah apartemen miliknya, lebih tepatnya tempat yang dia beli namun ditinggali oleh tiga orang disana.
Begitu sampai di depan pintu apartemen, Akram langsung menekan pascode. Berjalan tergesa dan meletakkan tas ranselnya ke sembarang tempat langkah kaki Akram mendadak terhenti sebab terdengar memekik suara panggilan untuknya.
"Papa!..." Bocah kecil itu kini tengah meronta ingin turun dari gendongan pengasuhnya saat melihat ada sosok Akram datang di tempatnya.
Senyum bocah itu merekah bersamaan ketika turun dari gendongan dan berlari kepayahan menuju tempat berdirinya Akram.
"Papa..." teriaknya dan disambut dengan Akram yang menyunggingkan senyum lalu merentangkan tangan menyambut bocah kecil itu untuk dipeluk, digendong dan beberapa kali Akram mendaratkan kecupan di pipi bocah kecil itu.
"Nagita kangen Papa?" Ucap Akram dan sontak mendapat anggukan dari bocah kecil itu. Membalas dengan melingkarkan dua lengan kecilnya memeluk leher Akram dan kembali Akram memberi kecupan di pipi cubby bocah kecil itu hingga tertawa cekikikan.
"Papa juga rindu," ucap Akram gemas. Memberi sedikit jarak pada bocah kecil itu, lalu Akram kembali berujar dengan sedikit menyibakkan rambut ikal yang menutupi sedikit wajah bocah kecil itu. "Nagita sudah makan siang belum?"
"Non Gita belum makan Pak." Justru pertanyaan itu kini dijawab oleh pengasuh Nagita yang bernama Santi. Orang yang sama-sama dari Indonesia, yang dipekerjakan Akram di apartemennya untuk mengurus bocah kecil itu semenjak lahir hingga sekarang.
Kembali menatap Nagita, Akram mengelus lembut kepala bocah kecil itu. "Nagita makan dulu ya ditemani Mbak, nanti setelah makannya selesai Papa ajak Gita main," ujar Akram dengan menatap lekat mata bening Nagita.
Dengan bibir yang mengerucut dan menampilkan raut wajah kecewa Nagita mengangguk dan menundukkan kepalanya. Tapi Akram dengan segera mengecup pipi cubby yang nampak menggemaskan itu meski dengan tampilan wajah merajuk.
"Nanti setelah selesai makan, Papa belikan es krim. Gimana?" ucap Akram membujuk.
"Iya," tegas Akram. "Mau rasa coklat, stroberi atau vanila?"
"Cokat Papa!" sahut Nagita antusias.
"Ok baiklah, kalau gitu makan dulu ya. Dan dihabiskan. Setelah selesai laporan sama Papa. Nanti kita beli es krim sama-sama."
Mengangguk-anggukan kepala, Nagita kini bergegas ingin turun dari gendongan Akram. Namun Akram masih mencegahnya dan berujar, "Cium dulu, setelah ini turun."
Dengan menurut bocah kecil berusia dua tahun itu menurut dan mencium sayang ke dua pipi Akram. Setelahnya Akram mengalihkan tubuh kecil itu pada pengasuhnya.
"Maaf tadi saya langsung menelpon Bapak, soalnya saya panik lihat Mamanya Non Gita mulai kumat dan gak mau dibawa ke rumah sakit. Padahal sudah saya telpon kan pihak perawat," jelas Santi dan diangguki oleh Akram.
"Terimakasih Mbak, kalau begitu saya titip Gita dan lihat keadaan Alvina di dalam," ujar Akram yang kemudian beralih masuk menuju kamar yang berada di ujung ruangan apartemennya.
Akram mengetuk pintu di hadapannya dua kali, tak mendapat sahutan dari dalam akhirnya dia memilih untuk masuk. Mendekati arah ranjang Akram memperhatikan lekat wajah wanita yang tengah tertidur pulas. Nampak mata wanita itu cekung dengan tubuh yang makin kurus dari hari sebelum Akram kembali bertandang kemari.
Akram sudah memelankan gerakannya saat menaikkan selimut menutupi bagian tubuh wanita itu, namun sepertinya pergerakan Akram mengganggu kenyamanan wanita itu. Hingga mengakibatkan mata yang terbuka itu nampak sayu menatap Akram, sudut bibir lansung tertarik tersenyum saat Akram mengambil duduk di sisi ranjangnya.
"Kita ke rumah sakit Al," ucap Akram menyentuh bahu wanita itu, tapi kalimatnya serta merta mendapat penolakan.
Wanita itu kini menggeleng dan mencoba bangkit untuk bersandar di papan ranjangnya dengan gerak yang kepayahan, tentu Akram langsung mencegahnya.
"Sudah tiduran saja," ucap Akram.
"Kenapa repot-repot kesini?"
"Kalau kamu tetap menolak berobat ke dokter lebih baik kita pulang," ujar Akram tegas.
Tapi lagi-lagi wanita itu menanggapi Akram dengan senyum. "Aku sudah menurutimu dulu. Berobat rutin dan melakukan tindakan terapi yang kamu bilang dokter terbaik sampai kamu bawa aku kesini. Tapi hasilnya sama saja, malah buang-buang duit kamu," ujar wanita itu dengan senyum mengejek yang tak sedikitpun membuat Akram terpancing dari rasa emosi, dan justru Akram menatapnya dengan iba.
"Aku juga rutin minum pil yang diberi dokter, tapi hasilnya masih seperti ini. Hanya tinggal menunggu kematianku saja." Tiada kesedihan saat wanita itu mengucapkan kalimatnya, tapi yang terdengar di telinga Akram justru ucapan yang begitu tenang.
"Nagita membutuhkanmu," ucap Akram menyahuti.
"Tidak. Jika saja kamu tidak memaksaku untuk mempertahankannya. Bukankah saat aku menurutimu yang ada kami berdua jadi benalu. Itu pilihanmu kan, dan sekarang jangan menyalahkanku."
"Aku tak pernah menyalahkanmu Al," tegas Akram.
"Iya aku tahu. Kamu bahkan sangat mencintai anak itu."
"Iya aku mencintai Nagita, juga mencintaimu. Bukan hanya Nagita yang butuh kamu tapi aku juga. Aku butuh kamu..." ujar Akram yang nampak rapuh menatap wanita di hadapannya. Hingga tangannya terulur menggenggam dan menenggelamkan wajahnya pada jemari kurus milik wanita yang bernama Alvina.
Part masih berlanjut yaaaaaaa... komen banyak-banyak