Senandung Impian

Senandung Impian
Ekstra Part 2


"Kalau kamu bermimpi, aku lah yang akan membangunkan mu," Kevin menyahuti ucapan Ayu dengan berjalan lurus sambil melempar handuk yang baru dipakai untuk menggosok-gosokkan rambutnya yang setengah basah.


Ayu sontak terkejut dengan pemandangan di depannya. Ini kali pertama dia menatap wujud Kevin yang hanya berbalut handuk dari bawah pinggang hingga tak sampai lutut. Gelenjar aneh terasa kian merambati kala Kevin telah memberhentikan langkah tepat di hadapannya.


"Lihatlah ini sungguhan," ujar Kevin menarik tangan Ayu guna menangkup wajahnya sendiri.


Ayu pun mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya mengangguk kaku. Tak kuasa Kevin pun mengulum senyum, menatap Ayu yang terlihat salah tingkah.


"Hey... Kamu sudah bebas melakukan apa saja," ujar Kevin kala Ayu tersipu, mengalihkan tatapannya. "Lihat aku. Kamu boleh menatap suamimu ini sepuasnya, atau bila mau kamu boleh memegang bagian tubuhku yang mana saja. Aku tak berkeberatan. Bukan kah milikku terlihat sempurna?" ujar Kevin membanggakan diri dengan mamamerkan tubuhnya yang sangat atletis.


Rasa risih seketika melanda Ayu kala Kevin terus saja memajukan dadanya, hingga tak kuasa Ayu mendorong dada Kevin sedikit menjauh. "A— aku hanya belum terbiasa," ucap Ayu sedikit tergagap.


"Makanya dibiasakan. Kita sudah sah, dan sekarang adalah malam pertama bagi kita," ujar Kevin menyentak pinggang Ayu hingga merapat di tubuhnya.


Ayu serta merta tersentak dengan jantung berdebar kuat. Agresif sekali, batinnya tapi Ayu meyakinkan bahwa dia belum siap. Sontak kali ini dia menggeleng berusaha menolak.


Namun Kevin seakan tak mau peduli, sebab Kini satu tangannya yang bebas digunakan untuk menahan kepala Ayu agar tak bergerak-gerak lagi. Sorot mata Kevin pun fokus tertuju tepat di manik mata Ayu lalu perlahan turun hingga turun lagi dan sampai ke bibir yang nampak ranum itu.


Tak menunggu waktu lama, Kevin pun langsung menyergapnya. Mencium lembut lalu perlahan menjadi memabukkan sebab Kevin mencecap begitu dalam. Merasakan manis bibir Ayu yang memang sangat lah dia damba.


Dengan napas tak beraturan kini Kevin melepas kecupannya, berbisik lirih menyatakan ungkapan perasaannya.


"Aku mencintaimu," ujar Kevin diselingi mengusap bibir Ayu yang basah menggunakan jari jempolnya.


Dengan masih mengatur napasnya, Ayu memberanikan diri mendongakan kepalanya. Membalas tatapan Kevin dan perlahan senyumnya turut merekah. "Aku juga. Aku mencintaimu," ujar Ayu dengan suara tercekat.


"Sepertinya ada yang tidak beres?" ujarnya dengan bola mata berlarian.


"Hmmm, kita lanjutkan saja ya... disana," sahut Kevin yang langsung tanpa aba-aba menggendong Ayu untuk naik ke atas ranjang.


Ayu terpekik. Pipinya bersemu, tahu apa yang dimaksud oleh Kevin. Kepalanya pun kini bergerak merangsek di ceruk leher Kevin, dan di saat badan Ayu telah merebah sempurna di atas ranjang Kevin langsung mengungkungnya.


"Sepertinya kamu juga sudah tak sabaran," goda Kevin yang malah mendapat kepalan tinju dari Ayu.


"Akkkh..." Aduh Kevin sok mendramatisir, memegangi perutnya. Namun tak lama karena Ayu menampakkan wajah bersalah, dia malah tertawa terbahak. "Kamu ingin memulai dengan kekerasan rupanya? Ok baiklah, aku akan berusaha mengimbanginya. Akan kubalas kamu Nona," ucap Kevin dengan nada gemas yang membuat Ayu sedikit begidik karenanya.


Ayu menggelengkan kepala, berusaha keluar dari kungkungan Kevin. "Kalau kamu gitu malah nakutin!" teriak Ayu mengelak saat Kevin mencoba menciuminya.


"Tapi— sepertinya aku berubah pikiran. Aku mau menarik niatku," ujar Kevin menarik wajahnya hingga menyisakan beberapa jarak, namun tangannya masih tegap kokoh mengungkung Ayu.


Ayu pun sedikit terkejut berdiam diri tak lagi bergerak. "Kenapa?"


Kevin mengulum senyum disodorkan pertanyaan kenapa. Dia kini jadi semakin yakin bahwa Ayu penasaran dengannya. Dan dalam posisi Ayu di bawahnya, nampak sekali bahwa wanita yang telah berstatus sebagai istrinya itu memang masih sangat polos.


Satu tangan Kevin kali ini dia ulurkan, merapikan rambut Ayu yang sedikit berantakan. Menyelipkan rambut yang mencuat di belakang telinga. Lalu mendekatkan kepalanya dan berbisik lirih di telinga istrinya. "Aku akan memulainya tanpa adanya kekerasan, dan sekarang bersiaplah. Akan kubawa kamu untuk menjadi seorang istri seutuhnya—"


"Tu— tunggu," ujar Ayu cepat saat ada sesuatu yang menggaliri di sela-sela pahanya. Dengan cepat dia mendorong dada Kevin dan beranjak cepat menuju kamar mandi.


Kevin yang menatap hal itu sempat terbengong sesaat, dan ketika Ayu kembali masuk ke kamar— dia serasa ingin mengumpat di tempat. Sebab Ayu tengah memberitahukan bahwa, "Aku sedang halangan."