Senandung Impian

Senandung Impian
Episode 70


Menghindar. Salah satu cara yang dilakukan oleh Ayu agar tak bertatap muka dengan bosnya. Pertanyaan yang dia lontarkan saja belum dijawab, maka dia tak tahu betul dengan apa yang terjadi malam lusa kemarin.


Untuk urusan Vina, kemarin Ayu mendapat telpon langsung bahwa temannya itu mengatakan dalam keadaan baik. Tak perlu mengkhawatirkan, apalagi bertindak bodoh untuk mencari keberadaannya sampai mendatangi tempat Bar. Vina juga meyakinkan urusan dengan pihak Bar telah usai, berharap Ayu tak lagi memikirkan dirinya dan juga menambahkan sekarang Vina tengah berada di luar kota menemani salah satu pelanggan yang dikatakan sangat spesial.


Ayu pun tak mampu menanggapi lebih alasan-alasan Vina atas pekerjaan yang dilakoni. Tapi ucapan Vina yang mengatakan bahwa kondisinya dalam keadaan baik menjadikan kelegaan tersendiri dalam hatinya.


Kembali menjalankan perannya menjadi bagian dari petugas house keeping, tugas yang dilakukan oleh Ayu hari ini lebih banyak bila dibanding dengan hari-hari biasa. Cutinya yang mendadak membuat Kanaya murka, dari awal kedatangan Ayu hingga hampir jam istirahat tiada henti-hentinya atasannya itu memberi Ayu perintah.


"Itu, yang di sebelah paling sudut dekat langit-langit masih kotor," tunjuk Kanaya ke arah atas pada sudut langit-langit ruangan.


Tak menjawab ucapan Kanaya, Ayu mendesah tak kentara. Dirinya benar-benar lelah, apalagi bahunya kembali terasa nyeri. Namun dalam hatinya menyakini pekerjaan beratnya akan selesai sebentar lagi. Bukan kapasitas pekerjaan yang dia selesaikan melainkan waktu yang selalu berjalan, hingga sampai batas dia bisa pulang.


Tangan Ayu tetap bergerak menjangkau sudut atas ruangan, nyeri itu terasa tapi berusaha dia abaikan.


"Yang bener dong kerjanya, makanya dari tadi gak selesai-selesai!" omel Kanaya yang berada tepat di bawah kaki tangga yang Ayu naiki.


Mendengus, Ayu menipiskan bibirnya. Dalam hati dirinya juga kesal, sebab atasannya itu terus saja memberi perintah dengan gaya tunjuk setelah itu melipat tangan, bersidekap dada. Kalau pekerjaan tak sesuai dengan kehendak, tangannya beralih untuk berkacak pinggang.


Astaga, dalam hati Ayu menggerutu. Seandainya dirinya tak butuh pekerjaan ini, bisa saja lap yang telah kotor akibat debu yang tadinya menempel pada tembok, dia lemparkan tepat ke arah wajah atasannya.


"Dasar! Atasan belagu!" gerutu Ayu yang keluar dari mulut saking jengkelnya.


"Kamu bilang apa!" sahut Kanaya dengan nada meninggi.


Ayu berdecak merutuki mulutnya yang keceplosan berujar demikian. Tapi air mukanya cepat berubah menampilkan wajah sok polos menunduk ke bawah menatap Kanaya dengan menggelengkan kepala.


Kanaya mengerutkan alisnya meyakini bahwa memang tadi dia mendengar sesuatu. Dan lagi Ayu kini bersuara dengan tangan menunjuk ke arah luar ruangan yang memang terlihat dari jendela kaca dalam ruangan meeting tempatnya sekarang, terlihat beberapa karyawan berlalu lalang yang Ayu yakin keluar untuk makan siang.


"Mungkin orang yang diluar yang lagi bicara, jadi suaranya sampai kedengaran disini," ucap Ayu dengan telunjuk dan mata menatap arah luar.


Kanaya pun menoleh ke arah yang Ayu tunjuk. Menipiskan bibirnya, kemudian sekilas menatap Ayu dan berujar, "Sudah waktunya makan siang ternyata, aku keluar. Kamu tetap kerjakan dan selesai kan pekerjaanmu sampai jam kerja kamu selesai. Aku akan cek hasilnya setelah kembali."


Ayu mengangguk dan setelahnya Kanaya pergi meninggalkan Ayu yang jelas langsung menghembuskan napas kelegaan yang luar biasa, bersamaan dengan bahunya yang beringsut tapi kembali rasa nyeri itu menyerangnya. Lelah jelas pasti. Masih duduk pada ujung tangga, Ayu menjatuhkan lap yang tadi ada di tangannya ke lantai. Satu tangannya bergerak meraba bahunya yang terasa sakit kemudian memijitnya. Belum sempat Ayu memeriksakan keadaannya ke dokter, karena dirinya pikir sakit itu akan perlahan sembuh. Namun banyaknya pekerjaan hari ini menjadikan sakit itu kian terasa parah.


Matanya mulai mengedar pada sekitar ruangan, tak mungkin dirinya melanjutkan pekerjaannya. Sakit ditambah dengan tenaga yang nyaris habis. Masih ada satu jam bekerja, tapi dirinya tak mungkin memaksakan.


Ayu perlahan mencoba menuruni anak tangga, bertekat tak peduli dengan resiko atasannya akan mengomel bila tahu dia tak melanjutkan pekerjaan. Satu pijakan telah Ayu lewati. Dengan tangan yang harusnya berpegang pada sisi tangga, kali ini mengakibatkan rasa sakit yang diderita pada bahunya bertambah kian parah.


Ayu berusaha kuat untuk menahan, menengok ke bawah. "Tinggal sebentar lagi," gumamnya, lalu melanjutkan langkahnya untuk turun.


Hingga kala sakit itu amat sangat dirasakan, dan tak mampu ditahan Ayu justru melepas pegangannya yang malah mengakibatkan dirinya hilang keseimbangan. Lebih dari tiga anak tangga tak berhasil dilewati. Dengan terpekik dan bersamaan dirinya jatuh tersungkur pada lantai keras, tangga yang tadi dinaiki pun terjatuh hingga menimbulkan suara yang amat keras.


Prang.....


Suara keras itu terdengar hingga sampai luar ruangan, menarik perhatian beberapa karyawan yang sempat melewati depan ruang meeting tempat Ayu berada.


To be Continue