Scandal With Kakak Ipar

Scandal With Kakak Ipar
naked.


“aku naked saja di hadapan mu Allah tidak akan marah.”jawab Dante sangat santai membuat Aulia menatap tajam ke arah nya.


“atau kau sengaja datang kesini untuk melihat ku naked ya?ah tidak perlu susah-susah aku akan membantu mu dengan senang hati.”


“kakak ipar jangan gila ya!aku datang kesini bukan untuk itu.aku datang untuk mengambil pakaian!.”aulia masih memalingkan wajah cantik nya.


Dante tertawa renyah entah kenapa rasa nya sangat mengasyikan ketika berhasil menggoda gadis muda di hadapan nya ini.


“atau kau benar-benar mau melihat nya dan hanya memancing ku saja tadi?.”


“kakak ipar!sudah ku bilang fikiran ku tidak sekotor itu sampai-sampai aku berfikir seperti itu pada mu sementara status mu adala.....”


“suami mu sendiri,atau kau mau melihat barang yang akan menjadi penerus keturunan kita nanti?.”tawar Dante mesum.


bugh.


karena kesal terus-menerus di goda oleh Dante Aulia langsung melempar gamis yang sedang di pegang oleh nya, bukannya marah Dante langsung terkikik merasa sangat geli siapa yang tidak geli jika ada di posisi nya.


“oke,kalau kau memang tidak mau melihat ku naked sekarang masuk ke kamar mandi dan mandi lah lalu kita makan!.”


Aulia langsung mengangguk kan kepala nya,tanpa fikir panjang dia langsung berhamburan keluar dari sana yang disambut dengan tawa renyah oleh Dante.


****


hufhh Alhamdulillah,tubuh ku terasa sangat segar semua.


Aulia bergumam dalam hati,karena tubuh nya terasa segar.merasa tidak ada orang lain di rumah ini selain diri nya dan juga laki-laki yang sudah menjadi muhrim nya.aulia memberanikan diri nya memakai celana kulot longgar berwarna abu-abu,ditambah kaos oversize berwarna putih tidak lupa hijab dan juga cadar yang berwarna senada.jika malam memang ini adalah pilihan pakaian terbaik,jadi Aulia tidak khawatir kalau kelak gamis nya akan tersingkap ke atas.


“kau memakai kain itu lagi, sebenarnya aku sangat penasaran apa kegunaan cadar mu itu?.”dante bersungut-sungut tidak suka.


“dan kau saja bisa melepas gamis mu lalu mengganti nya dengan celana,kenapa tidak dengan cadar mu?.”masih terus mengoceh panjang lebar yang bagi sosok Aulia sangat tidak penting.


“aku tidak tau apa yang sedang kakak ipar bicarakan,tapi aku sangat lapar sekarang bolehkan makan duluan?.”


“dengan lain yang kau pakai itu?lepas saja!.”


“apa kakak tidak tau itu termasuk ke dalam bentuk pemaksaan!.”


“then what if it's a form of coercion, aren't you uncomfortable wearing a cloth covering like that? I'm the only one who sees it is very uncomfortable.”(lalu bagaimana jika itu bentuk pemaksaan, apa tidak nyaman memakai kain penutup seperti itu? aku saja yang melihatnya sangat tidak nyaman).


“aku tidak mau kakak ipar.”aulia terus-menerus bersungut-sungut tidak suka.


“ya sudahlah kau kan memang sangat keras kepala aku tidak heran.”


“sudahkan?aku mau makan?.”izin Aulia.


“berdoa dulu biar aku saja yang memimpin doa nya!.”


Aulia mengangguk, membiarkan Dante saja yang memimpin doa nya sementara dia hanya mengangkat kedua tangan nya.


dert,dert....


mama?.


Dante menatap gamang ke arah handphone yang baru saja berbunyi,tatapan mata nya berubah sangat sendu mengingat wanita kesayangan menelpon.


[halo mah assalamualaikum maaf baru bisa mengangkat telpon.


[Dante kau dimana nak?nama khawatir.apa kalian berdua baik-baik saja,katakan kau dimana papa mu nanti yang akan datang menjemput.]


[maaf mah tapi sekarang Dante tidak bisa memberitahu dimana Dante sekarang.]


[ya Allah Dante jangan gila,mana tau kau mungkin sakit hati dengan perkataan nenek mu tapi kau tidak lupa kan mama sangat sayang pada mu?.]


[mah terimakasih banyak untuk semua hak yang sudah mama berikan untuk Dante.maaf,Dante yang seharusnya mengabdi pada mama justru meninggal kan mama sendirian, maaf Dante adalah anak yang tidak becus.tapi mah, Dante akan memulai semua nya dari awal.maaf mah, assalamualaikum.]


Tut.


Dante langsung mematikan panggilan dari mama nya secara sepihak.lalu mematahkan SIM card milik nya menjadi dua.


“kau punya handphone?.”tanya Dante.


“ketinggalan di rumah bibi.”


“itu jauh lebih baik, Aulia dengarkan aku baik-baik.jangan pernah mengangkat telpon dari orang yang tidak dikenal,besok aku akan memberikan mu handphone.”


“kakak ipar itu tadi mama kan yang telpon?kok tidak diangkat?.”


“apa kau mau mama dan papa berhasil melacak keberadaan kita berdua?.”


“maksud kakak ipar apa?mereka kan mama dan papa kenapa mereka tidak boleh tau dimana keberadaan kita?.”


“aku tidak mau hidup dalam bayangan kedua orang tua ku lagi,mungkin kah tidak mengerti atau yang lebih parah kau tidak faham.tapi hidup di bawah naungan kedua orang tua tidak lah enak!.”


”aku tidak tau mungkin karena aku yatim piatu.”di balik cadar yang terpasang cantik di wajah nya.aulia mengulas senyum miris,dia ingin merasa bagaimana rasanya memiliki orang tua.


“aulia ini bukan saatnya membahas tentang itu tapi saat nya kau mendengarkan ku sebagai suami mu aku tidak mau kau berhubungan dengan siapapun yang ada di Jakarta,baik itu paman dan bibi mu atau kedua orang tua ku.”


“tapi memutuskan silahturahmi bukan hal yang baik.”


“aku tau itu,tapi jujur saja.alu tidak mau terus-menerus berada di bawah bayangan keluarga Kurniawan!.kau tidak tahu rasanya hanya dijadikan pion saja.”


Dante sudah menyelesaikan makan nya,lalu beranjak dari sana meninggalkan Aulia yang termenung entah siapa disini yang salah.


“kakak ipar tunggu!.”aulia menahan tangan Dante.


“coba fikirkan lagi bagaimana perasaan mama?mama kakak ipar pasti sangat sedih mama tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini,jadi kenapa kakak harus membawa-bawa mama dalam masalah kita?.”tanya Aulia kurang suka.


“kau tidak akan pernah mengerti.”


“kak,mama sangat khawatir dengan kondisi kakak.apa kakak tidak mengerti bagaimana perasaan seorang ibu yang harus berpisah dari anak nya begitu saja?.”


“aulia mungkin kau tidak tau tapi percayalah kau tidak akan mengerti hal ini dengan mudah!.”


“kakak ipar,aku memang tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.tapi tetap saja memutuskan silahturahmi dengan mama bukan hal yang bagus!.”


Dante terdiam,dia tentu tau tanpa harus diberitahu tapi mau bagaimana lagi.dia tidak punya pilihan lain,selain menjauh.jangan sampai ada satupun anggota keluarga yang berhasil melacak keberadaan nya.