
Aku dan ibu serta para tetangga lainnya segera kembali ke rumah masing-masing.
Sedangkan ayah terlihat masih mengobrol dengan pak Pandu,entah apa yang mereka bicarakan.
Sesampainya di rumah,aku segera membersihkan diri.Setelah itu,aku segera ke kamar untuk beristirahat,karena jam sudah menunjukkan pukul 22:30.
Tiba-tiba Tari muncul di samping lemariku.
"Kamu itu hebat banget tadi,Sya."ujar Tari.
"Hebat gimana maksud kamu."tanyaku
"Itu tadi kamu bisa mengalahkan si Seruni."jawab Tari.
"Ahh biasa aja,Tar."ujarku."Jadi,nama wanita itu Seruni ya,Tari.??"tanyaku lagi.
"Iya Nasya,dia itu dahulunya seorang wanita cantik,namun waktu dia mengalami kecelakaan wajahnya menjadi hancur.Karena ia mau wajahnya tetap cantik,akhirnya dia mengikuti aliran raja iblis dan membuat perjanjian dengan raja iblis,untuk membuat wajahnya tetap terlihat cantik.Tapi,dia harus mempersembahkan seorang bayi pada raja iblis setiap menjelang bulan purnama.Bayi itu akan ditumbalkan,sebagai imbalan wajahnya tetap menjadi cantik."ujar Tari panjang lebar.
"Oh begitu ceritanya."ujarku menanggapi cerita Tari.
"Iya,Sya."jawab Tari.
"Aku mau istirahat dulu,Tari."ujarku yang mulai menguap karena mengantuk.
"Iya kamu istirahat aja.Selamat tidur,Sya."ujar Tari yang kemudian menghilang
Aku pun langsung membaringkan tubuhku di atas kasur,dan mulai memejamkan mataku.
Pagi ini,kami sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Sya,sejak kapan kamu memiliki kemampuan itu.??"tanya ayah tiba-tiba
"Kemampuan apa yah.??tanyaku balik.
"Semalam pak Pandu sudah menceritakan semua pada ayah."ujar ayah.
"ee itu aku,"jawabku gugup sambil melihat ke arah nenek,untuk meminta dukungan.
"Semenjak kepergian ayahmu,Roni."ujar nenek menjawab pertanyaan ayah.
"Jadi mama udah tahu.??"tanya ayah.
"Iya,Ron"jawab nenek.
"Kenapa kamu nggak cerita sama ayah dan ibu,Sya.??"tanya ibu padaku.
"Aku takut kalian nggak percaya sama aku bu."jawabku.
"Kami pasti percaya sayang,karena itu memang sudah menjadi takdir kamu sebelum kamu lahir."ujar ayah sambil menatapku.
"Iya ayah,nenek sudah menceritakan semuanya padaku.
"Jadi,semalam kakak menyelamatkan dedek Zidan.??tanya Fadhil yang tiba-tiba duduk di kursinya.
"Iya cucuku."jawab nenek sambil mengelus rambut Fadhil.
"Wah hebat kak Nasya,jadi superhero."seru Fadhil antusias.
"Bukan kakak yang hebat,dek.Tapi,Allah yang Maha hebat,kakak mah nggak bisa apa-apa tanpa ada kekuatan hebat dari Allah."ujarku lembut sambil tersenyum pada Fadhil.
"Iya betul,semua karena kehebatan Allah sehingga dedek Zidan bisa diselamatkan,nak."ujar ayah menimpali.
Ayah dan ibu memang selalu mengajarkan kami untuk selalu memuji kebesaran Allah.
Setelah selesai sarapan,aku segera berangkat ke sekolah.
"Nasya kamu mau berangkat sekolah ya.??"tanya Rifat saat kami bertemu di depan pintu pagar rumahnya.
"Masih nanya,kamu nggak lihat nih aku pakai seragam sekolah."ujarku sewot dengan pertanyaan Rifat.
"Yaelah,nggak usah ngegas juga kali.Aku kan cuma nanya,Sya."ujar Rifat.
"Ah malas berdebat sama kamu,nanti aku bisa telat ke sekolah,karena meladenin orang seperti kamu."ujarku sembari berjalan meninggalkan Rifat.
"Ihh Nasya tungguin,dasar gadis Indigo."ujar Rifat sambil berlari mengejarku.
"Nasya semalam kamu hebat ya,bisa tahu di mana keberadaan Zidan."ujar Rifat setelah mensejajarkan langkahnya denganku.
"Biasa aja,Fat."ujarku
"Pokoknya kamu keren banget,Sya."ujar Rifat lagi.
"Terserah kamu aja deh."ujarku
"Sya,kita masih jadi belajar kan sebentar malam.??"tanya Rifat.
"Ya udah,kalau begitu."ujar Rifat.
Sesampainya di sekolah,aku dan Rifat bergegas masuk ke dalam kelas.
Tidak lama kemudian,pak Wahyu datang bersama seorang wanita yang berumur sekitar tiga puluh tahun.Namun,ada seorang anak kecil yang mengikuti di belakang wanita itu.Anak tersebut terus menunduk sambil berdiri di belakang wanita itu.
"Assalamu'alaikum anak-anak."ujar pak wahyu memberi salam.
"Wa'alaikumssalam pak."jawab kami semua.
"Hari ini bapak mau memperkenalkan guru matematika kita yang baru,karena pak Herman guru matematika yang lama telah pindah tugas di tempat lain."ujar pak Wahyu sambil mempersilahkan wanita itu memperkenalkan diri.
"Assalamu'alaikum anak-anak,perkenenalkan nama saya Widayanti,kalian bisa panggil saya bu Wida."ujar bu Wida memperkenalkan diri.
"Iya bu."jawab kami serentak.
"Kalau begitu,saya tinggal dulu ya bu Wida."ujar pak Wahyu.
"Iya pak,makasih ya."jawab bu Wida.
Setelah mengabsen kami satu-persatu,bu Wida segera memulai pelajaran.
Sedangkan aku,terus memperhatikan anak kecil yang berada di belakang bu Wida.
Tiba-tiba anak itu mengangkat wajahnya,dan bersitatap denganku.
Wajah anak itu,terlihat pucat dan sorot matanya terlihat menyedihkan.Sepertinya dia sedang tidak baik-baik saja.
Aku tidak terlalu fokus memperhatikan saat bu Wida menerangkan pelajaran di depan.Aku sibuk memperhatikan anak tersebut,seperti ada magnet yang menarik diriku untuk terus memperhatikan dirinya.
"Nasya,Nasya."panggil Rifat sambil menyenggol sikutku."Astaga mala melamun lagi."gumam Rifat.
Tiba-tiba bu Wida menegurku sambil mengeraskan suaranya.
"Hei kamu,dari tadi ibu perhatikan kamu seperti melamun."ujar bu Wida sambil menunjuk diriku.Dia menatapku begitu tajam.
"ehh itu aku,ma maaf bu.Aku tidak sengaja."ujarku gugup.
"Apa yang kamu lamunkan,sampai tidak memperhatikan apa yang ibu terangkan."tanya bu Wida tegas.
"Ti tidak ada bu.Maafkan aku bu,aku tidak akan mengulanginya."ujar ku lagi.
Setelah itu,bu Wida melanjutkan lagi mengajarnya.
Aku berusaha untuk fokus mendengar penjelasan bu Wida di depan.
Satu jam terlalu berlalu,akhirnya bel istirahat berbunyi.Bu Wida segera mengakhiri pelajarannya.
"Alhamdulillah,akhirnya selesai juga."gumanku pelan.
Namun,saat bu Wida hendak keluar,tiba-tiba anak yang mengikuti bu Wida menatapku intens.
"Tolong aku.!!ujar anak itu kemudian.
Aku hanya menatapnya yang,sudah menghilang di balik pintu seiring dengan bu Wida yang sudah keluar kelas.
"Apa maksud anak itu.??"Kenapa dia minta tolong padaku.??"aku bertanya pada diriku sendiri.
"Kamu ngomong sama siapa sih,Sya.??"tanya Rifat yang kebetulan berada di belakangku.
"Fat,kamu tau nggak,kenapa tadi aku nggak memperhatikan bu Wida mengajar.??"tanyaku
"Nggak tahu,Sya.Memangnya tadi kamu lagi melamun apaan sih."ujar Rifat.
"Aku itu tadi memperhatikan anak kecil yang ada di belakang bu Wida,Fat."ujarku memberi tahu.
"Hah anak ?? Tapi aku nggak lihat ada anak kecil di belakang bu Wida."ujar Rifat bingung.
"Kamu lupa,aku ini bisa melihat makhluk tak kasat mata,Rifat."ujarku.
"Jadi,maksud kamu anak kecil itu hantu.??tanya Rifat sambil bergidik ngeri.
"Mungkin aja dia arwah yang belum tenang di alamnya.Sehingga,ia masih berada di alam ini."ujarku pada Rifat.
"Dan yang lebih mengherankan lagi anak itu meminta tolong padaku."sambungku lagi.
"Hah minta tolong gimana maksud kamu.?? tanya Rifat ngeri.
"Aku juga nggak tau dia mau minta tolong apa sama aku,pokoknya dia hanya mengucapkan"Tolong aku."ujar Nasya menirukan anak kecil itu.
"Ah dari pada pusing mikirin hal yang aneh-aneh mendingan kita ke kantin aja,Sya."ujar Rifat kemudian,sambil menarik tangan Nasya untuk pergi je kantin.
"Ya udah ayo,Fat."jawab Nasya sembari mengikuti langkah Rifat.