Saya Indigo

Saya Indigo
22.Pulang Ke Rumah


Keesokkan paginya,aku dan Rifat terbangun.


Kami melihat kakek Sando sedang berbincang dengan Tari.


"Kalian sudah bangun rupanya."ujar kakek Sando.


"Iya kek.Kami harus segera pulang ke rumah,pasti orang-orang khawatir sama kami."ujarku.


"Baiklah,kakek akan mengantar kalian keluar dari hutan ini."ujar kakek Sando.


Kami segera bersiap untuk kembali.


"Pegang tangan kakek dan pejamkan mata kalian."titah kakek.


Aku dan Rifat segera melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek Sando.


Tidak lama kemudian,kakek Sando menyuruh kami untuk membuka mata.Dan kami sekarang sudah berada di tepi jalan hutan ini.


"Terima kasih kakek sudah mengantar kami di sini."ujar Rifat.


"Iya sama-sama cucuku.Kalau begitu kakek harus kembali ke gubuk,kalian juga hati-hati."ujar kakek Sando.


"Tunggu kek!! Apa Tari masih akan menemaniku nantinya.??"tanyaku yang mulai terbiasa dengan kehadiran Tari.


"Kamu tenang saja,Tari pasti akan selalu menemani kamu.Dia akan kembali padamu."jawab kakek Sando.


"Terima kasih kek."ujarku tersenyum.


Kakek Sando hanya menganggukkan kepala lalu menghilang dari hadapan aku dan Rifat.


"Ayo Rifat kita pulang."ajakku pada Rifat setelah kakek Sando pergi.


"Tapi kita belum mengambil sepeda kita di dekat sungai,Sya."ujar Rifat.


"Ohh iya aku lupa,ternyata sepeda kita masih di sana."ujarku.


"Kamu ini belum tua tapi udah mulai pikun,Sya."ujar Rifat.


"Yaelah kamu ini Fat,kita ini hanya manusia biasa yang bisa salah dan lupa."ujarku kesal dengan Rifat.


"Terserah kamu aja bu ustadza."ujar Rifat sambil tersenyum cengar-cengir.


"Ya udah,ayo kita ambil sepeda kita dulu."ajakku kemudian.


Namun baru beberapa langkah kami berjalan terdengar suara orang ramai-ramai memanggil namaku dan Rifat.


"Nasyaaa,Rifaaat."suara orang-orang memanggil kami.


"Wah kayaknya itu warga yang nyari'in kita deh,Sya."ujar Rifat.


"Iya benar,ayo kita ke sana."ujarku segera berlari ke arah suara orang-orang yang memanggil kami.


"Nasyaaa kamu di mana,nak.??"seru ayah membalas teriakan kami.


"Aku di sini."ujarku saat ayah dan para warga sudah kelihatan di hadapan kami.


"Itu mereka."seru pak Hendra yang melihat aku dan Rifat.


Aku dan Rifat segera berlari ke arah mereka.Ayah langsung memelukku dan Rifat segera dipeluk oleh pamannya.


"Nasya kamu ke mana saja,kamu nggak papa kan.??"tanya ayah dengan memeriksa seluruh tubuhku.


"Aku dan Rifat baik-baik aja ayah."ujarku.


"Iya paman,kami hanya tersesat dihutan saat keasikkan memancing di sungai."timpal Rifat.


"Astaga kalian ini,lain kali jangan diulangi lagi ya anak-anak."ujar paman Heri.


"Iya anak-anak,soalnya dihutan itu bahaya."tambah pak lurah.


"Iya kami nggak akan mengulanginya lagi."ujar aku dan Rifat bersamaan.


"Ya sudah,kalau begitu ayo kita kembali."ujar pak lurah.


"Tapi ayah kami belum mengambil sepeda kami di sungai."ujarku.


"Itu sepeda kalian ada di situ."ujar ayah sambil menunjuk sepeda kami berada.


"Loh kok sepedanya bisa ada di sini,Sya.??"tanya Rifat heran.


"Iya Fat,kok bisa ada di sini sepedanya?? Padahal kemarin sepedanya kita tinggalin di dekat sungai."ujarku juga yang merasa heran.


"Tadi kami menemukan sepeda kalian di situ."ujar pak Hendra.


"Ya sudah nggak usah dipikirin,yang penting kalian sekarang sudah ditemukan."ujar ayah.


"Benar yang penting kalian selamat.Ya sudah ayo kita kembali."ajak pak lurah lagi.


Walaupun masih bingung dengan keberadaan sepeda kami,tapi aku dan Rifat tetap membawa pulang sepeda kami bersama ayah dan para warga.


Sesampainya di rumah,kami sudah di tunggu oleh ibu,nenekku,Fadhil dan neneknya Rifat serta istrinya paman Heri.


"Nasya sayang,kamu nggak papa kan.??"tanya ibu sambil memelukku.


"Nasya nggak papa kok,bu."ujarku.


Begitupun dengan Rifat yang langsung dipeluk oleh neneknya,sambil menangis.


"Syukur alhamdulillah kalau kalian baik-baik saja."ujar ibu.


Setelah itu,ayah mengajak kami masuk ke rumah.Sedangkan Rifat juga mengikuti nenek dan pamannya untuk kembali ke rumahnya.