Saya Indigo

Saya Indigo
16.Kembali Ke Desa


Pagi harinya,kami semua bersiap-siap untuk kembali ke desa.


"Jam berapa semalam ayah pulang dari rumah sakit.??"tanyaku pada ayah.


"Jam dua dini hari,Sya."jawab ayah.


"Terus gimana keadaannya pak Surya,yah.??"tanyaku.


"Masih belum sadar,Sya."jawabku.


"Kasihan pak Surya,dia harus menanggung hasil perbuatannya."ujar Rifat.


"Kita doakan saja pak Surya biar cepat sembuh,dan semoga nantinya dia bisa sadar dengan perbuatannya itu."ujar ayah bijak.


"Aamiin."jawab kami semua.


"Ayah udah dapat mobil untuk kita pulang ke desa."tanya ibu kemudian.


"Sudah bu,semalam istrinya pak Surya menawarkan tumpangan untuk kita."ujar ayah.


"Nggak papa kita naik mobil mereka.??"tanya ibu khawatir.


"In Shaa Allah nggak papa bu."jawab ayah.


"Ya udah kalau gitu."ujar ibu.


"Rifat,kamu udah berkemas kan.??"tanyaku pada Rifat yang sedang menemani Fadhil bermain mobil-mobilan.


"Udah kok,Sya."jawab Rifat.


"Sya luka kamu kok udah nggak ada.??"tanya ibu sambil memegang tanganku.


"Iya,Sya.Kok bisa langsung sembuh.??"tanya ayah juga.


"Udah di kasih obat sama Tari."ujarku keceplosan.


"Tari siapa,nak.??"tanya ibu.


"Tari itu temannya Nasya."ujar Rifat.


"Teman yang mana,kok ayah nggak pernah lihat.??"tanya ayah heran.


"Iya sayang,ibu juga baru tahu kalau kamu ada teman yang namanya Tari."timpal ibu.


"Tari itu teman Nasya dari dunia lain bibi."jawab Rifat menjelaskan.


"Maksudnya dunia lain gimana.??"tanya ibu yang masih belum paham.


"Iya bu,Tari itu yang menemani Nasya saat Nasya ditakdirkan memiliki kemampuan seperti ini."ujarku.


"Maksud kamu Tari itu khodam yang menemani kamu,Sya.??"tanya ayah memastikan.


"Bisa dibilang seperti itu,yah."jawabku.


"Tapi orangnya baik sama kamu kan.??"tanya ibu khawatir.


"Tenang aja bu,Tari itu orangnya baik kok."ujarku sambil tersenyum.


"Yaelah masa aku disangka orang jahat gitu,gini-gini aku itu khodam yang sangat spesial."ujar Tari yang tiba-tiba muncul.


Aku hanya tersenyum melihat Tari yang sewot dengan perkataan ibu tadi.


"Ya udah,yang penting teman kamu itu baik,nggak ada yang perlu dikhawatirkan."ujar ayah.


"Iya ayah."ujarku.


"Assalamu'alaikum."suara bu Sri memberi salam.


"Wa'alaikumssalam."jawab kami semua.


"Eh bu Sri,ada apa ya bu.??"tanya ibu.


"Ini saya mau ngajakin kalian semua sarapan di rumah saya."ujar bu Sri.


"Nggak usah repot-repot bu,biar kami nanti cari sarapan di luar."ujar ayah.


"Nggak repot kok,saya udah buatin sarapannya kok."ujar bu Sri.


"Ayo bu kita sarapan di rumah bu Sri,aku udah lapar,bu."rengek Fadhil pada ibu.


"Huuss nggak boleh gitu,nak."tegur ibu pada Fadhil.


"Nggak papa bu Nisa,saya senang kok bisa ngajakin kalian."ujar bu Sri.


"Ya udah kalau gitu bu Sri,kami akan ikut sarapan di rumah ibu."ujar ibu akhirnya.


"Ya udah ayo bu."ajak bu Sri.


Kamipun segera mengikuti bu Sri ke rumahnya.


"Ayo silahkan duduk."ujar pak Marto pada kami.


"Iya pak makasih."jawab ayah.


Setelah selesai sarapan,kami berkumpul di teras sambil nungguin mobil yang akan mengantar kami pulang ke desa.


"Pak Marto,ini sekalian saya mau bayar uang sewa kos selama tiga hari ini."ujar ayah yang memang belum membayar uang sewanya saat kami datang.


"Nggak usah pak Roni,uang sewanya nggak usah dibayar."ujar pak Marto menolak.


"Loh kok nggak usah dibayar.??"tanya ayah heran.


"Kalian udah banyak ngebantu saya,pak Roni.Terutama Nasya."ujar pak Marto.


"Tapi pak,saya ikhlas kok bantuin bapak."ujarku menimpali.


"Iya pak Marto,kami ikhlas bantuin bapak."ujar ayah.


"Lagian pak Marto dan bu Sri,sudah begitu baik juga pada kami."ujar ibu menimpali.


"Nggak papa kok,kami juga senang dengan kedatangan kalian kemari."ujar bu Sri.


"Iya bu Nisa,jadi uang sewanya disimpan aja untuk keperluan lain."tambah pak Marto.


"Baiklah kalau keinginan pak Marto dan bu Sri seperti itu,kami nggak bisa maksa."ujar ayah akhirnya.


"Terima kasih banyak pak Marto,bu Sri."ujar ibu.


"Iya sama-sama."ujar mereka.


Tidak lama kemudian,mobil tumpangan kami sudah datang,kami segera bersiap.Setelah memasukkan barang-barang kami ke dalam mobil,kamipun berpamitan pada pak Marto dan bu Sri.


"Kami balik dulu pak,bu."ujar ayah berpamitan.


"Iya hati-hati di jalan ya."ujar mereka.


Setelah itu,mobil segera membawa kami pulang ke desa.


Perjalanan yang cukup jauh membuat aku,Rifat dan Fadhil tertidur di mobil.


Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan,kami akhirnya sampai di desa tercinta.


"Makasih ya pak supir."ujar ayah pada pak supir yang membawa kami.


"Iya sama-sama pak."jawab pak supir itu.


Setelah itu,kami segera masuk ke rumah.


"Paman,bibi,aku juga mau pulang ke rumahku dulu ya."ujar Rifat.


"Ya sudah,kamu pulang istirahat aja dulu pasti capek habis perjalanan jauh."ujar ayah.


"Iya paman,dan terima kasih karena sudah mengajak aku liburan ke kota."ujar Rifat.


"Iya sama-sama,nak."ujar ayah sambil mengusap lembut kepala Rifat.


"Kalau gitu aku pamit dulu,Assalamu'alaikum."pamit Rifat.


"Wa'alaikumssalam"jawab kami berempat.