Saya Indigo

Saya Indigo
18.Saling Berbagi Itu Indah


Seminggu sudah berlalu,setelah aku mengalami kejadian aneh tentang Arya.


Hari ini aku berangkat sekolah bersama ayah.Karena hari ini aku akan menerima raport kenaikan kelas.


Setelah selesai sarapan,aku dan ayah segera berangkat ke sekolah.


"Sya kalau nanti kamu juara kelas lagi,kamu mau apa dari ayah.??"tanya ayah saat kami di atas motor.


"Emangnya boleh Nasya minta sesuatu,yah.??"tanyaku.


"Iya boleh,sayang.Selama ini kan kamu nggak pernah minta hadiah kalau kamu juara kelas.Jadi kali ini ayah akan memberikan sesuatu yang kamu mau,selagi itu bisa ayah penuhi."ujar ayah.


"Wah makasih ayah.Tapi hadiahnya nanti aku minta pas selesai nerima raport aja ayah."ujarku senang.


"Oke anak ayah yang cantik."ujar ayah.


Akhirnya kami sampai di sekolah,sudah banyak orang tua siswa yang datang.Ayah segera bergabung dengan para orang tua lainnya.Sedangkan aku segera berkumpul dengan teman-temanku.


Tidak lama kemudian,acara kenaikan kelas segera dimulai.Kami semua segera memasuki aula sekolah.


Dan sesuai dengan apa yang aku dan ayah harapkan.Aku mendapat ranking pertama untuk kenaikan kelasku.


"Wah selamat ya,Sya.Kamu memang yang terbaik di kelas kita."ujar Rifat sambil tersenyum padaku.


"Yaelah nggak usah segitunya juga,kita semua terbaik kok,Fat."jawabku merendah.


"Pokoknya kamu the best."ujarnya lagi.


"Terserah kamu aja deh,Fat."ujarku akhirnya karena nggak mau berdebat sama Rifat.


Ayah segera menghampiri dan memelukku dengan haru.


"Ayah bangga sama kamu,sayang."ujar ayah sambil tersenyum bangga.


"Iya ayah,ini juga berkat doa dari ayah dan ibu."ujarku.


"Jadi apa nih yang kamu minta dari ayah sebagai hadiah kamu.??"tanya ayah.


"Hhmm sebenarnya aku menginginkan sebuah sepeda,yah."ujarku pelan.


"Baiklah kalau begitu,besok kita pergi ke kota untuk beli sepeda yang kamu inginkan."ujar ayah.


"Wah benaran,yah.??"tanyaku senang.


"Iya benaran,Sya."jawab ayah.


"Makasih ayah."ujarku sambil memeluk ayah.


"Iya sama-sama,Sya."jawab ayah.


"Rifat nanti aku boncengin kamu ya kalau ke sekolah."ujarku pada Rifat.


"Iya,Sya."jawab Rifat dengan raut muka seperti orang sedih.


"Kamu kenapa,Fat.??"tanyaku.


"Nggak papa kok,Sya."ujar Rifat sambil berlalu.


"Rifat kenapa sih,yah.??"tanyaku pada ayah.


"Mungkin aja dia sedih karena nggak ada yang memberi hadiah padanya.Dia juga kan ranking dua di kelas,itu juga termasuk hebat,Sya."ujar ayah padaku.


"Kasihan Rifat,dia harus kuat dan tegar diusianya yang masih belia karena ditinggalkan kedua orang tuanya."ujarku sedih.


"Makanya dari itu,kita harus bersyukur dengan keadaan kita sekarang.Karena banyak di luar sana yang hidupnya tidak sebaik kita."ujar ayah menasehatiku.


"Iya ayah,Nasya akan selalu ingat pesan ayah."ujarku.


Setelah pengumuman kenaikan kelas,kami segera pulang dan sekolah diliburkan selama seminggu.


Sesampainya dirumah,aku disambut ibu dan nenek.


"Wah cucu nenek memang hebat."ujar nenek sambil mengusap kepalaku.


"Iya Sayang,ibu bangga sama kamu."timpal ibu.


"Ini itu berkat doa kalian semua,jadi aku bisa mendapat ranking pertama."ujarku.


"Iya sama-sama,Sayang."ujar ibu dan nenek.


Setelah selesai makan siang,aku segera ke kamar untuk istirahat.


Saat masuk kamar,bau khas Tari tercium di hidungku.


"Selamat Nasya,kamu memang anak hebat."ujar Tari sambil tersenyum.


"Iya Tari.Makasih ya."jawabku.


**


Keesokkan paginya,aku dan ayah pergi ke kota untuk membeli sepeda.


Sesampainya di kota,kami masuk ke salah satu toko sepeda,ada banyak macam sepeda di toko itu.Aku segera melihat-lihat sepeda yang cocok denganku.


"Ayah aku mau yang ini aja."ujarku sambil menunjuk sepeda yang berwarna biru.


"Kamu yakin yang ini aja,nggak mau lihat-lihat lagi,Sya.??"tanya ayah memastikan.


"Iya ayah aku mau yang ini aja."jawabku.


"Oke kalau begitu,sekarang tinggal cari satu lagi sepedanya."ujar ayah.


"Ayah mau belikan Fadhil sepeda lagi.??"tanyaku.


"Bukan untuk Fadhil,Sya."jawab ayah.


"Terus untuk siapa,yah.??"tanyaku lagi.


"Untuk Rifat,sayang.Kalau Fadhil sepedanya masih bagus,jadi nggak perlu diganti dulu."jawab ayah.


"Ayah mau beli'in Rifat sepeda."tanyaku memastikan.


"Iya Sya,nggak papa kita belikan dia hadiah,biar dia nggak sedih.Ayah sudah menganggap dia seperti anak ayah.Ayah juga sudah beri tahu ibumu,dan dia setuju."ujar ayah.


"Baiklah kalau begitu,ayo kita pilihkan sepeda untuk Rifat.


Setelah mendapatkan sepeda yang cocok untuk Rifat,ayah segera membayar sepeda kami.Kemudian ayah menyewa mobil pick yang untuk mengantarkan sepeda kami ke desa.Sedangkan aku dan ayah pulang dengan motor yang kami bawa tadi.


Sesampainya di rumah,ayah segera menurunkan sepeda kami.Setelah itu membayar ongkos sewa mobilnya.


"Wah sepeda kamu bagus,Sya."ujar Rifat yang kebetulan ada di halaman rumahnya.


"Ayo sini kita tes sepedanya,Fat."ajakku pada Rifat.


"Nggak papa aku nyobain sepeda kamu,Sya.??"tanya Rifat.


"Ya nggak papa lah Rifat.Ayo sini,nak."ujar ayah.


Rifat segera menghampiri kami,dan mulai memegang sepedanya.


"Wah keren nih sepedanya."ujar Rifat senang.


"Itu sepedanya untuk kamu,Fat."ujar ayah.


"Hah untukku paman.??"tanya Rifat nggak percaya.


"Iya Fat,itu sepeda memang buat kamu."ujar ibu.


"Benaran nih,sepedanya untuk aku.??"tanya Rifat sekali lagi.


"Iya benaran,Fat."ujarku meyakinkan Rifat.


"Tapi untuk apa aku diberikan sepeda ini.??"tanya Rifat.


"Karena kamu sudah menjadi anak yang baik dan juga anak yang hebat,Fat."ujar ayah sambil tersenyum.


"Makasih paman,makasih bibi."ujar Rifat senang.


"Iya sama-sama."jawab ayah dan ibu.


Setelah itu,aku dan Rifat segera mencoba sepeda baru kami dengan berkeliling di sekitar desa.