
"Kamu ngapain di sini."??tanyaku pada orang itu.
"Hehe,ini itu rumah aku,Sya."jawabnya.
"Kamu tahu nggak,aku dan Rifat itu tersesat di hutan,Tari."ujarku.
"Iya aku tahu,Sya."jawab Tari.
Yap orang yang ada di dapur itu adalah Tari,si khodam yang aku butuhkan saat dalam kesulitan.Tapi dia tega ngebiarin aku dan Rifat di dalam hutan yang gelap itu.
"Terus kalu kamu udah tahu,kenapa nggak datang nolongin aku dan Rifat.??"seruku kesal.
"Hanya menjalankan perintah."jawabnya santai.
"Perintah dari siapa.??"tanyaku yang masih kesal.
"Nanti aja aku ceritain,sini ikannya aku bakar biar kalian makan sebentar.Kamu pasti udah kelaparan kan.??ujarnya.
Walaupun masih ingin bertanya sama si Tari,tapi aku urungkan dulu.Soalnya aku memang sangat kelaparan,jadi aku segera menyerahkan ikan yang aku bawa pada Tari untuk dibakar.
"Kamu tunggu aja di depan,nanti kalau udah matang aku bawa ke sana."ujar Tari.
"Iya."jawabku ketus sambil berlalu meninggalkan Tari di dapur.
"Kok kamu lama di dapur,Sya.??"tanya Rifat.
"Lagi ngomelin hantu nakal."jawabku ketus.
"Hantu nakal?? Memangnya ada hantu di dapur,Sya.??"tanya Rifat bingung.
Aku yang sudah malas nanggapin pertanyaan Rifat,memilih diam.Sambil memperhatikan gubuk ini.
Kalau aku perhatikan gubuk ini persis seperti gubuk yang ada dalam mimpi ayah,yang waktu itu nenek ceritakan.
"Fat,kakek itu kemana.??"tanyaku.
"Lagi di dalam kamar itu,Sya."jawab Rifat sambil menunjuk sebuah kamar di sebelah kami.
Tidak lama kemudian,kakek itu keluar dari kamarnya.
"Apa ikannya sudah di bakar oleh cucuku.??"tanya kakek itu padaku.
"Kenapa Tari bisa ada di sini,kek.??"tanyaku yang tidak menjawab pertanyaan kakek itu.
"Ini memang rumahnya."jawab kakek itu.
"Sya jadi yang kamu bilang hantu nakal itu adalah Tari?? Kenapa dia bisa ada di sini.??"tanya Rifat.
"Iya Fat,aku kaget waktu ke dapur tadi ternyata Tari ada di sana.Kamu nggak dengar,kakek bilang ini itu rumahnya Tari."ujarku.
"Nanti sehabis kita makan kakek akan menceritakan semuanya."ujar kakek.
Setengah jam kemudian,Tari sudah membawa nasi dan ikan bakar di hadapan kami.Wangi ikan bakarnya membuat perutku berteriak seperti ada demo saja.
"Loh kok aku bisa lihat Tari tanpa harus memegang tangan Nasya.??"tanya Rifat heran.
"Kamu bisa lihat si Tari,Fat.??"tanyaku balik.
"Iya bisa,Sya."jawab Rifat.
"Kamu memang nggak bisa lihat Tari kalau di alam biasa,kecuali kamu memegang tangan Nasya.Tapi sekarang kamu bisa melihatnya,itu dikarenakan kamu berada di alam kami."ujar kakek menjelaskan pada aku dan Rifat.
"Jadi aku dan Nasya sekarang lagi di alam lain gitu.??"tanya Rifat bingung.
"Iya cucuku.??"jawab kakek.
"Berarti aku dan Rifat udah meninggal dong,kan kita sudah berada di alam lain."ujarku panik.
"Tenang aja,kalian itu masih hidup kok."jawab kakek itu menenangkan kami.
"Kalian hanya masuk ke alam kami saja,dan kalian bisa pulang kembali nantinya."sambung Tari.
"Ya sudah ayo kalian makan dulu.Ngobrolnya nanti dilanjut lagi sebentar."ujar kakek.
Aku dan Rifat segera mengambil makanan yang ada di hadapan kami.Dan kami mulai makan dengan begitu lahap.
Setengah jam kemudian,aku dan Rifat sudah selesai makan.
"Alhamdulillah kenyang."ujar Rifat.
"Iya alhamdulillah,Fat."timpalku.
Setelah itu kakek mulai menceritakan tentang semuanya yang membuat aku dan Rifat sempat bingung.
"Sebelumnya kakek mau memperkenalkan diri dulu pada kalian."ujar kakek memulai ceritanya.
"Tunggu kek,sebelum kakek memulai cerita kakek apa aku boleh bertanya.??"ujarku.
"Iya boleh,kamu mau nanya apa.??"ujar kakek.
"Apa kakek adalah orang yang sama yang pernah ayah dan ibuku temui.??"tanyaku.
"Ternyata kamu begitu cerdas,cucuku.Padahal kakek belum menceritakannya tapi kamu sudah mengetahui hal tersebut."jawab kakek sambil tersenyum.
"Jadi benar kakek adalah buyut ayahku.??"tanyaku memastikan.
"Iya benar,cucuku."jawab kakek.
"Ayo kek lanjutkan ceritanya."ujar Rifat.
"Nama kakek adalah Sando.Kakek adalah turunan ke tiga Mian Bibisa.Dahulu kakek mendapatkan kemampuan ini dari kakek buyut yang merupakan orang yang memiliki ilmu tingkat tinggi pada waktu itu.Keturunan Mian Bibisa yang pertama dan kedua adalah kembar.Mereka hilang pada saat upacara adat yang mereka lakukan.Namun mereka tidak bisa lagi muncul di alam biasa dan alam yang sekarang kalian masuki ini."ujar kakek panjang lebar.
"Tapi kenapa mereka nggak bisa muncul lagi.??"tanya Rifat.
"Karena mereka sudah mewariskan segala ilmu yang mereka punya pada kakek,waktu itu kakek berusia 10 tahun."jawab kakek.
"Terus kenapa kakek Sando masih bisa muncul?? Padahal kan kakek sudah hilang puluhan tahun lalu."tanyaku.
"Karena kakek belum sepenuhnya memberikan ilmu keturunan Mian Bibisa pada kamu Nasya."jawab kakek Sando.
"Ohh seperti itu ceritanya,kek."ujarku.
"Iya cucuku."jawab kakek.
"Terus kenapa Tari bisa ada di sini,kek.??"tanyaku yang masih bingung dengan keberadaan Tari di gubuk ini.
"Sebelumnya Tari adalah khodam yang selalu mengikuti kakek.Tapi setelah kamu mewarisi kemampuan Mian Bibisa,kakek menyuruh Tari untuk mendampingi kamu."jawab kakek Sando.
"Tapi kenapa Tari nggak datang nolong aku dan Rifat saat kami tersesat di hutan."tanyaku lagi.
"Kakek sengaja menyuruh Tari agar tidak datang saat kamu memanggilnya,kakek ingin tahu apa reaksi para makhluk halus yang ada di hutan ini saat melihat kamu."jawab kakek Sando.
"Tapi kenapa kakek ingin melihat reaksi mereka.??"tanya Rifat heran.
"Kakek ingin tahu sudah sebesar apa kemampuan Mian Bibisa yang ada pada dirimu.Dan ternyata kemampuanmu sudah berada di level atas.Artinya setiap makhluk halus yang melihat kamu,akan merasakan energi yang begitu kuat yang membuat mereka tidak berani mendekat,kecuali makhluk halus yang sengaja dipelihara oleh orang yang berniat jahat.Mereka akan melawan jika kesenangan mereka terganggu."ujar kakek Sando.
"Pantesan tadi waktu di hutan mereka hanya memperhatikan kami,dan tidak berani mendekat"ujarku.
"Memangnya tadi kamu melihat makhluk halus,Sya.??"tanya Rifat.
"Iya Fat,banyak banget.Ada mbak kunti yang nangkring di atas pohon,terus ada juga manusia tapi berkepala kuda,dan ada juga seperti kucing besar dengan mata merah yang kita dengar suaranya di balik semak-semak tadi."ujarku.
"Kok kamu nggak kasih tahu aku tadi,aku kan bisa menghajar mereka."ujar Rifat sambil mengangkat tinjunya ke atas.
"Yaelah Fat,mana berani kamu ngelawan mereka.Sedangkan hanya dengar suaranya aja kamu udah ketakutan."ujarku sambil tertawa mengejek Rifat.
"Sudah-sudah,nggak usah saling mengejek.Lebih baik sekarang kalian istirahat,besok pagi baru kalian pulang."ujar kakek kemudian.
Aku dan Rifat segera beristirahat sesuai dengan perintah kakek Sando.