Saya Indigo

Saya Indigo
12.Bertemu Kakek Misterius


Hari ini adalah hari ujian kenaikan kelas.


Sama seperti anak lainnya,yang bangun lebih awal saat akan ujian,aku pun begitu juga.


Setelah selesai sarapan,aku bergegas berangkat ke sekolah.


Sesampainya di sekolah,aku segera masuk ke kelas sambil menunggu ujian dimulai.


Aku melihat Rifat yang begitu tegang.Dia memang seperti itu jika akan menghadapi ujian.


Aku sendiri biasa saja,bukannya aku sombong,hanya saja aku bersyukur karena diberi kepintaran dan kecerdasan,sehingga nilaiku selalu di atas rata-rata.Aku juga yang menjadi juara di kelas ini.Hehe,maaf ya jadi sedikit memuji diriku.😁😅


Tidak lama kemudian,ujian segera dimulai.Sebelum ujian kami semua berdoa dulu,biar ujiannya lancar.


**


Setengah jam kemudian,aku telah selesai mengerjakan soal ujianku.Namun,aku belum mengantarnya ke depan buat dikumpul.Aku sengaja menunggu Rifat biar bisa keluar bareng.Selagi menunggu Rifat selesai,aku mengecek kembali jawabanku siapa tahu aja ada yang kelupaan.


Tidak lama aku melihat Rifat berdiri,sepertinya dia sudah selesai mengerjakan soal ujian.


Rifat segera mengumpulkan lembar jawabannya ke depan.Aku juga segera menyusul Rifat.


Setelah itu,kami berdua pergi ke taman sekolah.Kami sengaja,biar bisa ngobrolin jawaban ujian kami tadi.Ini memang sudah menjadi kebiasaan kami sejak dulu.


"Nasya,gimana ujiannya susah nggak.??"tanya Rifat setelah kami duduk di kursi taman sekolah.


"Gampang kok."jawabku sambil tersenyum mengejek pada Rifat.


"Kalau kamu gimana,Fat."tanyaku lagi.


"Aduh,kamu tau sendiri kan kemampuanku di bidang matematika,Sya.Pasti nilaiku standar lah."ujar Rifat sambil menunduk lesu.Rifat memang tidak terlalu handal kalau di bidang matematika.Tapi kalau di bidang bahasa indonesia,dia juaranya.


"Nggak papa lah,yang penting kamu kan udah berusaha."ujarku menghibur.


"Makasih ya,kamu sudah menghibur aku."ujar Rifat tersenyum padaku.


"Iya sama-sama,kita kan sahabat,Fat."ujarku.


**


Ujian hari pertama telah selesai,aku dan Rifat segera pulang ke rumah.Saat kami pulang,di jalan kami bertemu seorang kakek tua yang sedang berdiri di pinggir jalan.


Kakek itu seperti sedang kebingungan.


Aku dan Rifat segera menghampiri kakek itu.


"Assalamu'alaikum kek,apa ada yang bisa kami bantu.??tanyaku saat sudah berada di dekat kakek itu.


"Anak kakek memangnya ke mana.??"tanya Rifat.


"Dia lagi mencari kayu bakar di sebelah sana."ujar kakek itu lagi.


"Kek,ini ada air minum untuk kakek."ujarku yang melihat kakek itu sepertinya kepanasan.


"Ini juga ada roti,kek."ujar Rifat sambil menyerahkan sisa roti yang dia bawa tadi.


"Makasih cucuku,kalian anak-anak yang baik."ujar kakek itu seraya tersenyum pada kami.


"Sama-sama kek."jawabku dan Rifat bersamaan.


"Kalau begitu kami duluan ya,kek."ujarku berpamitan pada kakek itu.


"Tunggu sebentar cucuku."ujar kakek itu sambil mengeluarkan sesuatu dari bungkusan yang ia pegang.


"Ambilah kedua kalung ini,sebagai ucapan terima kasih karena kalian sudah begitu baik pada kakek."ujar kakek itu sambil menyodorkan dua buah kalung yang memiliki bandul yang sama.


Bandulnya berbentuk infinity.


"Nggak usah kek,kami ikhlas membantu kakek."ujar Rifat merendah.


"Jangan menolak,ini hanyalah kalung biasa."ujar kakek itu.


Karena kakek itu terus memaksa akhirnya kami menerima kalung tersebut.


"Baiklah,kami akan menerimanya."ujarku seraya menerima kalung tersebut.


Setelah itu,aku dan Rifat bergegas kembali ke rumah.


Baru beberapa meter kami melangkah,saat aku menengok ke belakang kakek tersebut sudah nggak ada.


"Loh kemana kakek tadi,Fat.??"tanyaku bingung.


"Iya kok kakek itu udah nggak ada."ujar Rifat juga yang merasa bingung.


"Apa mungkin dia udah pergi.??"tanyaku.


"Kalau dia pergi pasti masih kelihatan,kemana arahnya,Sya."ujar Rifat.


"Iya juga ya,terus kakek itu ke mana.??tanyaku lagi.


"Nggak tahu,Sya.Ayo buruan kita pulang."ujar Rifat sambil menarik tanganku.