
"Arkan, kayaknya gak aman deh berada di sini, lebih baik kita keluar aja" ajak Amanda pelan sembari menatap sekitar yang kosong.
Arkan mengangguk cepat, ia juga merasakan apa yang Amanda rasakan.
"Ayo Arkan kita pergi" ajak Amanda ngebet ingin pergi.
Arkan setuju-setuju saja, mereka berdua dengan wajah tegang keluar dari perpustakaan.
Saat mereka melangkah keluar serasa ada yang menatap mereka dengan tajam. Mereka tak mencoba buat mencari karena jelas itu bukan makhluk sebangsa mereka.
Mereka malah menunduk dan terus keluar tanpa peduli siapa saja yang menatap mereka.
Ketika sudah berhasil keluar dari perpustakaan mereka mengucap syukur beribu-ribu kali.
"Huft selamat, kita selamat" ucap Arkan berulang-ulang.
"Sumpah serem tau, sebelumnya gak pernah loh aku di ganggu kayak gini sama penghuni perpus" ucap Amanda meyakini kalau tragedi barusan menguji nyali.
"Iya, aku kaget banget saat semua benda-benda di dalam perpus berjatuhan dan mengeluarkan bunyi-bunyi seram. Aku heran siapa yang udah bikin semua buku-buku di perpustakaan berjatuhan?" Arkan terus kepikiran sama buku-buku yang secara bersamaan satu persatu berjatuhan dari tempatnya tanpa ada angin dan hujan.
"Pasti ada yang udah bikin buku-buku itu jatuh, gak mungkin jatuh sendiri secara bersamaan gitu" yakin Amanda.
"Tapi kok dia gak nujukin wujudnya ke kita, kenapa malah neror kita kayak gitu?"
Ternyata lebih ngeri di teror dari pada di tampakkan langsung oleh makhluk halus yang bersangkutan. Aksi teror yang barusan terjadi membuat jantung dua anak indigo itu tak berhenti berdetak.
"Aku juga gak tau pasti, kita diam aja yang penting kita selamat. Oh ya kamu simpan aja dulu buku itu, kita akan cari tau siapa Kiranti nanti setelah semuanya aman. Sekarang itu kita fokus dulu sama gangguan dari penunggu danau" ucap Amanda.
Arkan mengangguk, hantu-hantu banyak yang menjadi ancamannya, kalau di tambah dengan hantu Kiranti maka full sudah kehidupannya di kelilingi para hantu baik di rumah maupun di sekolah
"Amanda aku masih heran kenapa hantu kebaya merah itu terus datangin aku, aku bingung apa yang mau dia lakuin, aku gak pernah cari masalah sama dia tapi dia menyimpan dendam sama aku, aku kan jadi heran kesalahan ku di mana?" Tanya Arkan.
Satu hantu itu telah meresahkan kehidupan Arkan, hantu kebaya merah mulai muncul sejak pertama kali Arkan menginjakkan di desa milik kakek neneknya.
"Kalau menurut Genia, hantu kebaya merah itu datang dengan tujuan ingin balas dendam, dia bilang sama aku kalau kamu punya masalah sama dia, tapi kamunya aja yang gak sadar" ucap Amanda.
Rasa ingin tau Arkan inti permasalahan yang menyebabkan hantu kebaya mereka mengintainya kian meningkat.
"Genia? Siapa Genia, kok aku baru dengar?" Tanya Arkan.
"Genia itu teman ku, dia sejenis makhluk halus, dia yang membantu ku kalau ada masalah yang tidak bisa aku selesaikan sendiri" jelas Amanda.
Arkan mengangguk-angguk paham."Tapi kesalahan apa yang aku udah perbuat, perasaan aku gak punya salah sama dia"
Amanda ikutan bingung, sebab informasi yang Genia beritahukan hanya separuh-separuh, sebelum sepenuhnya jelas.
"Aku juga gak tau, coba nanti kalau kamu ketemu lagi sama dia, kamu nanya salah mu di mana, kalau ternyata kamu memang terbukti melakukan kesalahan kamu minta maaf, ajak dia damai, jangan malah mau menang sendiri, urusannya gak akan kelar-kelar kalau kamu gak mau merendah diri" saran Amanda.
Damai lebih baik dari permusuhan, permusuhan hanya akan dapat membuat masalah menjadi berkepanjangan.
"Oke aku akan coba tanya langsung sama dia" balas Arkan.
"Ayo kita balik ke kelas, ngeri lama-lama berada di perpus" ajak Amanda menatap takut perpustakaan di belakangnya.
Arkan setuju, mereka dengan bersamaan berjalan menuju kelas.
Berlama-lama berada di depan perpus membuat mereka ngeri, hati mereka enggan masuk ke dalam perpustakaan kembali setelah kejadian mengerikan barusan.
"Hei kalian ingat gak sama Kiranti"
Ucapan salah satu orang yang lagi bergosib ria di koridor tak sengaja masuk ke dalam telinga Arkan dan Amanda yang melintas di depan mereka.
Dengan terkejut mereka menatap dua orang gadis yang merupakan kakak kelas mereka yang lagi membahas sesuatu seputar kisah seseorang.
Nama Kiranti tak asing di telinga mereka, mereka pun menguping dengan berpura-pura berdiri di sana sambil main hp agar penyamaran mereka tak terbongkar.
"Oh Kiranti, jelas aku gak akan lupa, dia kan dulu meninggal di sekolah ini, masa aku lupa" sahut temannya yang bernama Dini.
"Emang ada apa dengan Kiranti, kok kamu malah bahas dia?" Tanya Dini lagi.
"Enggak papa, cuman aku kasihan aja sama dia, masa kematiannya ngegantung hingga saat ini, pelakunya belum juga di tangkap" sahut wanita bernama Irfiana.
"Iya sih, kasihan banget Kiranti" timpal Dini.
Amanda dan Arkan begitu khusyuk mendengar perbincangan mereka yang membahas Kiranti.
Amanda mengajak Arkan menjauh dari mereka."Arkan ternyata memang benar kalau kisah yang kamu baca itu nyata, buktinya memang pernah ada seorang murid bernama Kiranti yang meninggal di sekolahan kita"
"Kira-kira guru mana yang udah bunuh dia" Amanda berpikir keras.
Sekilas infor yang di dapatkan langsung mengacu pada Kiranti, seorang siswi yang meninggal di duga di bunuh oleh seorang guru menurut dari cerita yang Arkan baca.
Dalam kehidupan sekolah kasus kematian Kiranti belum sepenuhnya di ketahui siapa yang di curigai. Kejelasan kisah itu menggantung hingga detik ini.
"Nah itu yang bikin aku penasaran, kok bisa ada guru setega itu bunuh siswinya sendiri, terlepas apapun masalahnya dia harus profesional, dia harus mengkondisikan bagaimana menjadi guru dan bagaimana menjadi rakyat biasa. Jangan campur adukkan semuanya menjadi satu"
"Mentang-mentang dia guru main seenaknya bunuh orang lain, citra guru yang melekat di jiwanya bisa tercemar. Dia gak mikirin itu semua hah!"
Arkan kecewa pada seorang guru yang belum di ketahui siapa namun jelas dia adalah pelaku pembunuh siswi bernama Kiranti.
Tindakan gelap mata guru tersebut di pacu oleh dendam di masa lalu kepada orang tua murid tapi malah melampiaskannya pada anak yang tak berdosa dan tak tau apa-apa.
Ulah guru tersebut masuk ke dalam kategori kriminalitas dan patut di seret ke kantor polisi terlepas apapun masalah yang terjadi sehingga dia lepas kendali.
"Gak bisa ini Arkan, kita gak bisa diam aja, kisah Kiranti itu kayaknya terjadi sebelum aku masuk ke dalam sekolah. Kita harus cari tau biar guru itu tak terus-terusan hidup bebas setelah membunuh muridnya sendiri" ucap Amanda mengurungkan niat untuk menjeda penyelidikan.
Dalam kebimbangan Arkan bertanya."Tapi Amanda gak akan bahaya ya kalau kita terjun langsung nyelidiki kisah Kiranti yang katanya meninggal di sekolah ini akibat di bunuh gurunya sendiri?"
Arkan menjadi ragu, kasus yang lagi mereka coba pecahkan menyeret nama guru. Apalagi Arkan adalah anak baru, Arkan takut untuk membuka kisah yang lama terpendam.