
Arkan menyeka sedikit air mata, karena akhir kisah itu sad ending, hati Arkan seperti di tikam ribuan pedang ketika kisah Kiranti amat menyedihkan jauh dari kata kebahagiaan.
"Kasihan banget Kiranti itu, meninggal di bunuh oleh gurunya sendiri" ucap Arkan.
Kisah yang Arkan baca terbilang ke arah kriminalitas, Arkan yang hanya pembaca merasa prihatin pada tokoh utama bernama Kiranti.
Mulut Amanda yang tak sengaja mendengar melongo."APA, meninggal karena di bunuh guru!"
Amanda terkesiap, bagaimana mungkin murid di bunuh oleh gurunya sendiri. Amanda tak percaya jika ada guru sekejam itu di dunia ini.
"Iya, ternyata Kiranti itu meninggal di bunuh sama gurunya, karena gurunya punya dendam pribadi pada kedua orang tua Kiranti di masa lalu, tapi dia melampiaskannya pada Kiranti" jawab Arkan.
Singkat tapi padat, kisah yang tertulis rapih dalam buku berjudul Kiranti menggambarkan tentang banyaknya kekejaman yang di lakukan oleh orang tua tapi di lampiaskan pada anak yang tak berdosa.
"Ya ampun kasihan banget, kok ada ya orang yang sedendam itu sampai tega bunuh orang lain, padahal Kiranti gak salah apa-apa, orang tuanya yang salah, kenapa dia yang harus jadi korbannya" geram Amanda.
"Nah mangkanya itu, aku gedeg juga ama gurunya, tega bener dia sama Kiranti, kalau dia punya dendam sama orang tua Kiranti seharusnya selesain ke orang tuanya jangan sama anaknya yang jelas-jelas gak bersalah"
Wajah Amanda bak udang rebus."Awas aja kalau sampai ada yang kayak gitu di kehidupan nyata, akan aku becek-becek guru gak berguna itu, enak aja main bunuh orang gitu aja, dia mikir gak sih kalau kelakuan dia itu gak bisa di maafkan walau dia udah minta maaf"
Arkan tak mengucapkan sepatah katapun, matanya tercekat, ketika di bab terakhir terdapat sebuah foto perempuan berseragam sekolah.
Arkan mengambil foto yang tertempel di buku berjudul Kiranti lalu memandangnya lekat, kemudian beralih menatap Amanda.
"Kok seragamnya kayak seragam yang kamu pake" tercekat Arkan melihat seragam yang Amanda kenakan dengan seragam gadis di foto itu yang sama persis.
Amanda mengambil foto gadis itu."Iya kok seragamnya sama, apa jangan-jangan kisah Kiranti ini berdasarkan kisah nyata"
Kecurigaan Amanda menyeruak, ketika menemukan sebuah foto yang ia curigai adalah tokoh bernama Kiranti.
Kesamaan seragam yang tak sengaja di temukan membuat Amanda menaruh kecurigaan kalau kisah yang Arkan baca adalah kisah nyata.
"Gak mungkin Manda, gak mungkin ini kisah nyata"
Arkan tak percaya sedikitpun, mana mungkin kisah yang ia baca benar-benar terjadi di kehidupan salah satu makhluk hidup di muka bumi ini.
Arkan berargumen semua cerita adalah fiksi, karangan sang author bukan berdasarkan kisah yang benar-benar terjadi di kehidupan nyata.
"Tapi bisa aja ar, dari foto ini aja udah nunjukin kalau tokoh Kiranti itu murid di sekolah ini, tapi kok aku gak kenal ya sama dia"
Amanda menatap seksama gadis yang tersenyum mengenakan seragam berwarna putih, berlapis jas berwarna dongker, rok selutut kotak-kotak perpaduan antara biru dongker dan hitam. Rambut wanita bernama Kiranti terurai rapih.
"Apa mungkin ini kisah yang terjadi beberapa tahun yang lalu sebelum aku masuk ke dalam sekolah ini?"
Kecurigaan Amanda makin pekat, tanda-tanda akan kebenaran kisah berjudul Kiranti begitu besar.
Kesamaan seragam ternilai tak mungkin hanyalah sebuah kebetulan, sekalian seragam yang sama terdapat logo sekolah SMA kebangsaan di jas dongker yang Kiranti pakai dan itu menambah keyakinan Amanda.
"Bisa jadi, tapi masa iya ada orang yang meninggal di bunuh sama gurunya di sekolah ini" Arkan masih tetap tak percaya.
Arkan berpikir secara rasional mana mungkin ada guru yang setega itu membunuh muridnya hanya karena dendam masa lalu dengan wali murid.
"Gimana kalau kita cari tau" ujar Amanda.
Demi mengetahui kebenarannya jelas mereka harus terjun langsung untuk mencari tau tentang kebenaran kisah berjudul Kiranti.
"Kamu yakin kisah ini nyata?" Tanya Arkan.
"Aku yakin banget, kita coba cari tau dulu, kalau memang ada kejadian yang serupa seperti di cerita, berarti cerita itu memang nyata"
"Oke kalau gitu, kita coba cari tau apakah kisah Kiranti nyata atau tidak" Arkan percaya dan bersedia untuk menyelidiki kebenaran dari kisah Kiranti.
Kisah yang tertulis di dalam sebuah buku berjudul Kiranti menarik perhatian dua anak Indigo.
Brukk
Ding...dong...ding...dong
Klontar
Braaaakkk
Tiba-tiba segala macam benda berbunyi, menciptakan bunyi yang menyeramkan.
Seperti jam dinding yang berdetak dengan kencang menimbulkan bunyi yang menggelegar seisi perpus.
Buku-buku berjatuhan seperti ada orang yang telah sengaja menjatuhkannya.
Arkan dan Amanda tercekat, mereka saling memandang, wajah mereka pucat.
Bunyi-bunyian itu terjadi bersamaan dengan rencana mereka yang bakal menyelidiki kisah Kiranti yang di nilai nyata.
"Amanda ada apa ini?" Panik Arkan.
Jantung pria introvert itu cenat-cenut, wajahnya sepucat mayat. Arkan bergetar takut melihat respon penunggu perpus yang mencengangkan.
"Sepertinya mereka gak setuju kalau kita cari tau tentang kisah Kiranti yang ada di buku ini" sahut Amanda.
Arkan menatap Amanda tak percaya."J-jadi kalau begitu kisah Kiranti di buku ini memang nyata dong?"
Amanda mengangguk pelan."Aku rasa iya, tapi kayaknya mereka gak setuju kalau kita cari tau"
Dengan pelan Amanda berbisik pada Arkan.
Penunggu perpus tak mengatakan secara langsung tapi Amanda dapat mengerti apa yang mereka maksud.
"Terus gimana dong?" Arkan meminta pendapat Amanda.
Tangan Arkan dingin, di perpus cuman mereka berdua yang manusia selebihnya mereka yang tak kasat mata.
Baik Arkan maupun Amanda tak akan bisa meminta tolong pada orang lain karena memang gak ada orang lain lagi di dalam perpus.
"Kita diam aja dulu, dari pada menimbulkan masalah, sementara kita pendam dulu. Cari waktu yang pas buat selidiki siapa di balik kisah Kiranti dan siapa juga guru yang jadi tersangka serta masalah apa yang terlibat di antara mereka berdua" jawab Amanda pelan.
Arkan mengangguk paham, ia menjadi ngeri setelah tau kalau apa yang ingin mereka lakukan ternyata tak di restu penunggu langsung sekolah SMA kebangsaan.
Setelah Amanda mengatakan untuk menunda penyelidikan tentang Kiranti seketika semua gangguan terhenti.
Jam berdetak dengan normal, buku tak lagi jatuh, bunyi-bunyian aneh itu menghilang tak berbekas.
Amanda yang selama ini selalu menjadikan perpus sebagai teman ketika istirahat ngeri setelah kejadian ini.
Sebelum-sebelumnya tak pernah penghuni perpus marah dan melakukan sesuatu yang membuat siapa saja yang ada di dalam perpus ketakutan.