Petualangan Mistis Arkan

Petualangan Mistis Arkan
Misteri suara langkah kaki


Dorrrr


Arkan tersentak kaget, jantungnya seakan melompat ketika Viola tiba-tiba mengagetkannya.


"Kenapa kamu ngagetin aku, aku bisa jantungan lama-lama!" Arkan mengeluarkan tatapan tajam pada Viola yang cengar-cengir bak orang yang tak punya salah.


"Maaf, lagian ngapain kamu duduk di sini, kayak orang lagi ngumpet, ngumpet dari siapa sih?"


Arkan menunjuk ke arah jendela."Liat noh, ada orang di sana, aku rasa itu pasti makhluk halus, bukan manusia, mangkanya aku diam di sini biar gak tau kalau aku udah liat, tapi kamu malah menghancurkan segalanya"


Viola melihat apa yang Arkan tunjuk, ia tanpa menjawab mendekati jendela.


"Viola jangan di buka, nanti dia bisa masuk" perintah Arkan nada pelan biar sosok yang ada di luar tidak mendengar dan tidak masuk ke dalam kamarnya.


Viola tak menurut, ia membuka gorden dan benar saja terdapat sosok makhluk halus, wajahnya hancur, luka di keningnya yang menghitam nampak jelas.


Arkan langsung mengalihkan pandangan, rupa sosok itu begitu seram. Tatapan sosok itu amat tajam, setajam silet.


"Ngapain kamu di sini, mau ganggu teman ku hah, pergi kamu dari sini, enak aja main ganggu orang!" Bentak Viola mengusirnya pergi.


"Tidak, aku gak akan pergi, dia harus tanggung jawab" bantah sosok itu tak mau menurut.


Kening Viola berkerut."Tanggung jawab? Apa yang perlu teman ku tanggung jawab, dia melakukan kesalahan apa?"


"Kau tanyakan saja pada teman mu itu apa kesalahannya"


Dalam satu kedipan mata sosok itu menghilang dari hadapan Viola.


Tatapan Viola beralih menatap Arkan yang meringkuk ketakutan sambil memeluk tubuhnya sendiri.


Viola yang penasaran langsung bertanya pada orang yang bersangkutan."Arkan kamu ngapain sosok itu, kenapa dia sampai semarah itu, apa yang udah kamu perbuat padanya?"


Kepala Arkan menggeleng."Viola aku tidak melakukan apapun, aku tidak tau apa kesalahan ku"


"Terus kalau kamu gak salah kenapa dia bisa marah, jujur aja ar aku pasti akan bantuin kamu, asal kamu tau letak kesalahan mu"


"Masalahnya aku gak tau kesalahan ku di mana, tiba-tiba dia muncul di ruang tamu lalu memberikan tatapan tajam layaknya ingin membunuh ku, aku habis itu keluar gak mau berada di ruang tamu. Dan sekarang dia malah datangin aku lagi, aku gak tau kesalahan ku di mana sehingga dia datang lagi"


Mendengar dari penjelasan Arkan, Viola terdiam sejenak.


"Tadi kamu cuman ketemu dia gitu aja, kamu gak ngelakuin apapun kan?"


Arkan menggeleng."Enggak, aku gak ngelakuin apapun, aku gak tau salah ku di mana"


Viola menatap Arkan lekat."Arkan gak mungkin bohongin aku, dia gak mungkin nipu, tapi kalau Arkan gak ngelakuin apa-apa kenapa sosok itu semarah itu padanya" gumam Viola.


"Aku harus cari tau, aku akan cari dia aku ingin minta penjelasannya" gumam Viola.


"Arkan kamu tunggu di sini dulu, aku mau nemuin dia, aku mau tanya langsung sama dia kesalahan mu di mana" titah Viola.


Arkan mengangguk pasrah, Arkan harap Viola dapat menyelesaikan masalah barunya.


Gadis bernama Viola itu menghilang, meninggal Arkan di kamar sendirian.


Beberapa detik setelah Viola menghilang suramnya kamar terasa lebih pekat, bulu kuduk Arkan berdiri tanpa di suruh.


Hawa mencekam datang menyebabkan Arkan terpaksa harus menegak ludah pahit.


Arkan bangun dari duduk, lalu merebahkan tubuh di kasur. Rasa takutnya akan ia buang dengan cara tidur.


Tap


Tap


Tap


Suara orang berjalan di lantai terdengar hingga ke telinga pemuda introvert sesaat setelah dia memejamkan mata kuat.


Krieet


Krieet


Krieet


Pintu lemari di mainkan oleh seorang, tapi tetap saja Arkan tak ingin membuka mata.


Dalam keadaan mata tertutup Arkan di serang ribuan rasa takut, Arkan tak mau mengambil resiko mengecek siapa saja yang berada di kamar yang sama dengannya.


Craaaangg!


Dalam tidur Arkan tersentak kaget, Arkan merasa jika benda itu adalah kaca, entah kaca yang mana yang telah pecah di buat makhluk gaib.


Jantung memompa dengan kencang, deru nafas serasa sulit untuk Arkan hembuskan, tubuh Arkan bagai patung, saking takutnya ia tak mau bergerak.


Lama kelamaan Arkan tersiksa, tubuhnya susah bergerak, pelan-pelan Arkan menggerakkan telunjuk tangan.


"Hiks hiks hiks"


Terdengar suara tangisan anak kecil yang begitu dekat di telinga Arkan.


Aktivitas Arkan terhenti, ketakutan kembali terjadi menyebabkan tangan Arkan gak dapat di gerakkan.


Rasanya Arkan tak sanggup, ia ingin menangis, gangguan silih berganti datang menyapanya. Gangguan kalian lebih menyeramkan dari pada yang kemarin-kemarin.


Arkan berusaha untuk bangun, walau sulit ia paksa, tubuhnya susah untuk di gerakkan, itu adalah efek dari ketakutan yang merajalela.


Setelah perjuangan menguras tenaga, Arkan pun berhasil bangun dari tidur yang perlahan-lahan mencekiknya.


Mata Arkan tiba-tiba membulat sempurna.


"Aaaaaaaaahhhhh!" Teriak Arkan keras ketika di depannya berdiri sosok makhluk halus bertubuh besar, matanya merah terang, sekujur tubuh di tumbuhi bulu-bulu hitam yang lebat.


Arkan dengan cepat lari keluar dari kamar sembari menjerit-jerit.


Kakek dan nenek Arkan yang mendengar langsung menghampiri.


"Ada apa Arkan, kenapa teriak-teriak?" Panik nenek melihat Arkan yang lari ketakutan.


"N-nenek, nenek tolong Arkan, di sana ada makhluk besar, tinggi, matanya merah, Arkan takut nek" jelas Arkan.


"Makhluk? Makhluk apa, kenapa bisa ada makhluk seperti itu di rumah ini" panik nenek.


Arkan tak memberikan jawaban, ia hanya memeluk erat tubuh neneknya demi mengusir ketakutan yang terus datang.


"Ada yang ganggu Arkan Bu, dia pasti makhluk halus. Ibu bawa Arkan masuk ke dalam, biar bapak yang akan urus" perintah kakek.


Nenek mengangguk, menuruti apa yang suaminya perintahkan.


Nenek mengusap peluh yang membasahi wajah Arkan."Arkan ayo ikut nenek ke dalam, malam ini kamu tidur aja di kamar nenek, kakek biar tidur di ruang tamu"


Arkan mengangguk, lebih baik Arkan tidur bersama neneknya dari pada tidur di kamarnya yang lagi ada sosok makhluk halus.


Nenek membawa Arkan masuk ke dalam kamarnya, wajah Arkan tetap pucat, sepucat mayat. Sebelum masuk ia menyusuri area kamar neneknya, memperhatikan dengan seksama setiap inci ruangan.


"Ayo masuk, kami harus istirahat, ini udah malam, besok kamu harus sekolah" ajak nenek.


Arkan pasrah, ia menurut, Arkan merebahkan tubuh di samping neneknya.


Mencoba memejamkan mata dan menghilangkan rasa takut dengan tidur. Pikiran Arkan terus menampilkan gambaran tentang makhluk halus yang seram tersebut.


Nenek menyelimuti tubuh Arkan, seketika ingatan buruk itu menghilang, Arkan dapat tidur dengan nyenyak saat di temani oleh neneknya.