
Pagi harinya, Arkan membuka mata, menatap sekitar tempat, tempat itu bukan kamarnya melainkan kamar milik neneknya.
Arkan ingat jika terakhir dia tidur di kamar nenek selepas di ganggu oleh makhluk bertubuh besar.
"Nenek, nenek di mana?"
Pagi-pagi buta Arkan sudah kehilangan nenek yang menemaninya tidur.
"Apa, kenapa nyari nenek, nenek di sini, nenek gak kemana-mana" sahut nenek keluar dari kamar mandi seusai mengambil wudhu.
Lega hati Arkan, rasa takutnya menyingkir.
Tiba-tiba terdengar suara adzan subuh di lantunkan.
"Udah adzan tuh, sana kamu ambil wudhu, kita sholat di masjid berjamaah"
Pemuda bernama Arkan menurut, Arkan beranjak dari tempat tidur, masuk ke dalam kamar mandi untuk mandi sekaligus wudhu.
Tadi malam Arkan dapat tidur dengan nyenyak, saat di temani neneknya entah mengapa tak ada gangguan yang Arkan alami lagi. Ia juga tidak merasakan takut yang berlebihan sejak ada teman yang menemaninya tidur.
Arkan dan family-nya berangkat untuk sholat di masjid.
Jalan menuju masjid tampak gelap, karena waktu masih menunjukkan pukul 4:20 WIB.
Namun karena Arkan pergi ke masjid bersama familinya tak ada rasa takut yang begitu besar, walau ia sedikit merasa merinding lantaran jalan menuju masjid gelap.
Arkan adalah anak kota yang di mana di kota tak ada kegelapan ketika di malam hari, semua tempat di beri penerangan.
Beda dengan kampung halaman milik kakek dan nenek, yang banyak tempat-tempat gelap karena lampu jalan masih jarang.
Setibanya di masjid Arkan sholat berjamaah di imami oleh pak ustadz Nawir.
Jumlah jemaah di masjid makin lama makin berkurang, pengurangan paling besar ada di waktu subuh. Jumlah jemaah di masjid saat ini hanya 7 orang saja berserta juga dengan imam.
Seusai sholat Arkan bergegas pulang mengikuti keluarganya. Ketika tiba di rumah mereka berkumpul menjadi satu di ruang tamu. Arkan juga duduk bersama mereka di sana.
"Arkan makhluk apa yang tadi malam kamu lihat?" Tanya kakek serius.
Orang yang kakek introgasi malah ketar-ketir, mentalnya yang di bawah standar rata-rata telah berhasil membuat Arkan kesulitan ketika di lempari pertanyaan walau orang yang bertanya adalah keluarganya sendiri.
"Arkan gak tau namanya, tapi dia besar kek, tubuhnya tinggi, matanya merah, dia serem banget" jelas Arkan kembali ketakutan kala teringat pada sosok makhluk halus yang ia jumpai ketika membuka mata.
Arah mata kakek jatuh pada Risma dan ilyas, selaku orang tua Arkan."Ilyas, Risma anak kalian Arkan selalu di ganggu makhluk halus setiap malam, benar kan Arkan?"
Kepala Arkan mengangguk takut, Arkan bingung mengapa kakeknya bisa tau kalau ia selalu di ganggu oleh makhluk halus, Arkan tak pernah bercerita pada kakeknya atau orang rumah atas apa yang ia rasakan beberapa hari ini.
"Arkan kenapa kamu gak bilang nak, kenapa kamu gak cerita sama kami" Risma langsung khawatir, ia menganggap anaknya baik-baik saja, namun rupanya ada sesuatu yang terjadi pada Arkan tanpa ia ketahui.
Arkan tertunduk merasa bersalah, tak punya alasan untuk menjawab. Jalan tengah yang Arkan pilih adalah diam.
"Kalau ada apa-apa sama kamu, kamu bilang sama kami, kami ini orang tua mu, kami berhak tau apapun yang terjadi sama kamu, jangan kamu umpetin sendiri" ucap Ilyas.
"Betul itu nak, kamu harus cerita sama kami, barang kali kami bisa bantu kamu, jangan kamu pendam sendiri, biar kamu gak berat sendiri" saran Risma.
"Tapi tetap aja nak kamu harus cerita sama kami, kamu jangan sembunyiin sendiri" perintah Ilyas.
"Maafin Arkan, Arkan tau Arkan salah karena udah sembunyiin ini semua dari kalian" Arkan merasa bersalah besar, pada akhirnya semuanya terbongkar karena ia tak dapat menahan ketakutannya sendiri.
"Kamu jangan merasa bersalah, di sini kamu gak salah, kami juga salah karena gak bisa merhatiin kamu betul-betul" tutur Risma.
Arkan langsung memeluk sang bunda, ia perlu dekapan sang ibu, akhir-akhir ini ibunya sibuk untuk memperbaiki ekonomi yang kacau balau.
"Terus bagaimana pak tentang makhluk yang ganggu Arkan tadi malam, sebenarnya siapa dia, apa bapak tau?" Tanya Ilyas.
Sosok makhluk halus yang Arkan jelaskan belum mereka ketahui namannya. Karena mereka tak pernah melihat makhluk halus yang Arkan sebut.
Kakek tersenyum penuh arti di dalamnya."Dia adalah raja di antara jenis hantu, dia paling kuat dan sulit untuk di taklukkan, kalau dia sudah marah walau di bacain Yasin tak akan mempan"
Mereka makin penasaran sosok makhluk halus apa yang kakek maksud. Terdengar jika dia begitu kuat, saking kuatnya ayat kursi sampai tak mempan.
"Dia adalah genderuwo, genderuwo umumnya sering menampakkan diri, kalian jangan pernah nantangin dia kalau kalian gak mau di ganggu habis-habisan!" Peringatan kakek keras.
Arkan menelan ludah kasar, ternyata makhluk halus yang muncul di kamarnya begitu berbahaya. Lebih berbahaya dari pada hantu-hantu yang sering datang.
"Tapi kek kenapa dia tiba-tiba datangin Arkan, salah apa Arkan padanya?"
"Viola bilang kalau kamu gak sengaja buang sesajen yang ada di kamar mu, tapi tindakan mu itu ternyata dapat membuatnya marah" jelas kakek.
"Sesajen?"
Arkan terdiam sejenak, mengingat kembali apa yang pernah ia lakukan sebelum-sebelumnya sehingga mengundang makhluk halus khususnya genderuwo masuk ke dalam kamar miliknya.
"Apa jangan-jangan bunga-bunga beragam macem itu adalah bagian dari sesajen yang kakek maksud" batin Arkan teringat kalau ia pernah membuang bunga yang berserakan di kamar.
"Tapi kek siapa yang udah narok sesajen itu di kamar Arkan, kenapa Arkan cuman nemu bunga aja, gak ada yang lain?"
Arkan mulai penasaran siapa sekiranya yang meletakkan benda-benda yang mengundang mistis di kamarnya.
"Kakek, kakek yang udah narok sesajen di kamar mu. Dulu gak ada yang mau menempati kamar milik nenek moyang mu itu, saat ini hanya kamu saka yang berani tidur di sana" jawab kakek.
Arkan tercengang, tak ia sangka kalau kamar yang ia tinggali selama ini telah lama kosong.
"Kenapa mereka gak mau tidur di sana, ada apa dengan kamar itu?" Makin penasaran Arkan.
Senyum tipis penuh maksud dan tujuan tertentu terukir di wajah kakek."Dulu kamar yang kamu tempati itu adalah milik nenek moyang mu, namanya mbah Sumirah, beliau terkenal karena suka menolong orang yang terkena gangguan dari makhluk halus"
"Nah ketika mbah Sumi meninggal, ada banyak orang yang bilang kalau mereka sering melihat mbah Sumi berkeliaran di sekitar rumah kita, bahkan sampai sekarang saja dia tetap berkeliaran di rumah ini"
Ketika kakek menceritakan sosok mbah Sumi, Arkan melihat ada seorang nenek-nenek tua yang melintas di jendela.
"Sehingga kakek ngasih sesajen atau enggak dupa dan bunga saja di setiap malam Jumat, karena agar tak ada makhluk halus yang mengganggu mu"
"Apa itu orang yang kakek maksud" batin Arkan bertanya-tanya.