
Dengan wajah masam Arkan melangkah ke depan, tak ada gunanya lagi Arkan berada di belakang rumah yang sepi dan gelap.
Arkan berniat kembali masuk ke dalam rumah, malam yang makin gelap membuatnya ngeri untuk berkeliaran di luar rumah.
Tiba-tiba sesuatu menarik perhatian Arkan, langkahnya sampai terhenti saking menariknya sesuatu tersebut.
Arkan menajamkan pandangan pada sebuah batu gunung berukuran besar berwarna hitam yang terletak di dekat pohon, jarak antara ia dan batu tersebut sekitar 15 meter.
"Siapa itu, kok ada rambut di batu itu?"
"Apa ada orang di baliknya?"
Dari kejauhan Arkan melihat sebuah rambut manusia berwarna hitam terlihat berada di dekat batu.
Arkan curiga kalau di balik batu terdapat seseorang.
Arkan melihat ke atas, langit mulai gelap, pencahayaan pun tak lagi terang karena malam memaksa masuk ke dalam lingkungan hidup Arkan.
"Masa iya ada orang yang belum pulang ke rumahnya, ini udah magrib loh, masa gak di cariin sama keluarganya"
Sedikit tak yakin Arkan pada seseorang yang ia percaya berada di balik batu.
"Apa jangan-jangan itu Amanda, dia lagi sembunyi di sana"
Ingatan Arkan hanya tertuju pada Amanda, walau tak mungkin Arkan masih tetap yakin kalau di sekitarnya ada gadis bernama Amanda.
Arkan meyakini kalau Amanda belum pergi jauh dari rumahnya.
"Aku harus ke sana, aku harus pastikan dia Amanda atau bukan"
"Kalau benar dia Amanda, aku harus tanya caranya secepatnya karena waktu udah mepet"
Arkan dengan bersemangat lari mendekati sebuah batu besar yang di rasa ada seseorang yang lagi berada di sana.
Ketika sampai di batu yang di tuju, Arkan terkejut hebat.
Semangat yang membara kembali pupus, helaan nafas penuh kekecewaan di hembuskan.
"Ternyata dia bukan Amanda" gumam Arkan sedikit kecewa.
Seorang anak kecil berusia 5 tahun berjenis kelamin perempuan, rambutnya panjang terurai, menatap Arkan tanpa kedip.
"Adek kenapa ada di luar, ini udah malam, di mana keluarga mu, mama papa mu di mana?" Dengan lemah lembut Arkan berkomunikasi dengan seorang anak kecil berkulit putih bersih, wajahnya begitu imut dan lucu, bulu matanya begitu lentik.
Mata gadis mungil itu tak henti-hentinya menatap Arkan lekat, saking lekatnya ia sampai tak berkedip.
"Kakak, kakak, kakak"
Kalimat kakak terucap bertubi-tubi dari bibir gadis mungil itu.
Arkan berjongkok, mengelus rambutnya lembut."Rumah kamu di mana, kenapa kamu ada di luar, ini udah malam loh, sana kamu pulang nanti kamu di cariin sama orang tua mu"
Begitu lembut Arkan menyuruh gadis kecil itu untuk pulang ke rumahnya.
"Kakak, kakak, kakak"
Arkan mengerutkan alis tak paham, maksud gadis kecil itu tak dapat ia tebak.
"Kenapa, kamu mau bilang apa sama kakak?"
"Anak siapa ini sebenarnya, kenapa di biarkan berada di luar, ini udah malam, di mana keluarganya kenapa gak nyariin dia" batin Arkan penasaran.
Selama ia tinggal di desa Cempaka belum pernah Arkan melihat anak kecil secantik itu di depannya, sehingga Arkan tak mengetahui latar belakang keluarganya serta di mana rumahnya berada.
"Adek ini udah malam, sana kamu pulang ke rumah gih, mainnya besok aja" suruh Arkan.
Gadis kecil itu tanpa menjawab berjalan ke sebelah barat.
Arkan memandangi tubuhnya dengan senyum manis, begitu lucu anak tetangga di mata Arkan.
Setelah tubuh gadis mungil itu tak terlihat, Arkan pun kembali mendekati rumah, selain anak kecil itu ia juga harus pulang karena berada di luar di waktu magrib sangat di larang keras. Lantaran pada waktu seperti ini tingkat keaktifan makhluk halus meningkat tajam.
Arkan membuka pintu rumah, satu demi satu kakinya masuk ke dalam.
Mendadak langkah Arkan terhenti, Arkan menelan ludah kala menatap seorang wanita dengan pakaian putih panjang, duduk di kursi goyang milik neneknya, rambutnya panjang terurai, menatap tajam Arkan tanpa kedipan.
Arkan mematung sesaat, detak jantungnya tak normal, jantung Arkan berdetak kencang melebihi batas normal.
Mulut Arkan ingin berteriak keras, tapi Arkan teringat kalau ia tak akan bisa lepas dari makhluk halus sehingga ia harus mulai belajar bagaimana caranya menghadapi mereka dengan tenang.
Kekebalan nyali Arkan perlahan-lahan mulai di terjang ribuan rasa takut dan mengakibatkan Arkan gemetar di lokasi.
"Gak gak gak, aku gak boleh pergi, aku harus tetap diam gak boleh lari. Aku gak boleh terus terusan takut, sesekali aku harus lawan mereka" batin Arkan mencoba tetap diam di tempat dengan memandangi wajah sosok hantu yang membalas pandangannya.
Tatapan tajam di balas tajam membuat bibir Arkan ikut bergetar, tangan Arkan tremor, niat hatinya yang akan berusaha untuk tidak takut dari sosok makhluk halus yang duduk menatapnya sebegitu tajam kandas.
Makin di tatap kesan menakutkan dari sosok itu begitu terasa, dia tidak melakukan apa-apa, cuman duduk sambil menatapi Arkan tanpa kedipan sedikitpun.
"Gak bisa ini, aku bisa lagi ada di sini, aku gak mau mati" batin Arkan.
Arkan yang tak kuat langsung lari keluar dari rumah, menutup pintu dengan rapat.
Di luar nafas Arkan tersengal-sengal, ia kebingungan harus bagaimana. Untuk masuk ke dalam rumah tapi di ruang tamu ada sosok makhluk halus yang menunggunya, alhasil Arkan pun berada di luar.
Tapi berada di luar rumah bukan jalan yang tepat, Arkan makin di cekik dengan suasana yang mencekam.
"Gimana ini, gimana ini, aku harus apa"
"Apa yang harus aku lakuin, di dalam ada hantu tapi di luar rawan gangguan, gak mungkin aku berada di sini terus-menerus, aku gak mau mati ketakutan"
Pontang-panting ke sana kemari telah Arkan lakukan.
Keadaan memberatkan Arkan, ingin rasanya Arkan kembali ke dalam kehidupan lamanya yang jauh dari kata perhantu-hantuan.
Tak ada hantu yang pernah Arkan lihat selama tinggal di kota, kota yang terkenal dengan padat penduduk meski di malam hari sekalipun tak terasa yang namanya takut.
Tapi mengapa sejak pindah ke desa Cempaka nasib buruk bertubi-tubi mendatangi Arkan.
Hampir tiap malam gangguan datang menyapa Arkan.
Di malam yang dingin Arkan berkeringat basah, ia kebingungan, alhasil Arkan diam tak bergerak di depan pintu menunggu orang rumah pulang dari masjid.
Untuk masuk ke dalam rumah Arkan tak punya nyali, berhadapan dengan hantu bukan ahlinya.
Dengan jiwa yang makin di serang ribuan ketakutan Arkan duduk di depan pintu, Arkan ingin cepat-cepat keluarganya pulang ke rumah sebelum ada bahaya lain lagi yang datang.