
Arkan mengigit bibir bawah, gelisah tak menentu, halaman rumah Arkan gelap, tak ada penerangan.
Punggung Arkan bersandar pada pintu, pikirannya berkecamuk, tatapan Arkan terus menatapi sekitar, Arkan harus memastikan kalau dia aman dari segala hal, baik manusia maupun manusia yang sudah mati.
Seekor kucing berwarna putih mendekati Arkan, ia duduk tepat di dekat Arkan, kucing yang tak tau milik siapa asik sendiri. Seraya kucing itu ingin menemani Arkan di tengah ketakutan yang Arkan rasakan.
Arkan membiarkan kucing itu berada di dekatnya, Arkan anggap dia teman yang menemaninya dan berharap dapat mengusir ketakutan yang makin menjadi-jadi.
Untuk mengalihkan perhatian dari makhluk halus Arkan mengelus bulu kucing yang begitu lembut.
"Kurus banget kucing ini, apa gak ada orang yang ngasih dia makanan""
"Aku coba tanya nanti sama nenek ini kucing siapa, kalau gak ada yang punya aku mau pelihara dia"
Selain suka pada alam Arkan adalah orang yang menyukai hewan. Flora dan fauna banyak yang ia sukai. Terutama flora, hingga detik ini masih belum ada flora yang Arkan benci.
Miaw
Miaww
Kucing itu terus mengeluarkan suara, Arkan bingung, kucing itu merasa terancam padahal tak ada sesuatu yang membahayakan.
"Push diam, jangan berisik"
Bukannya diam kucing putih bersih itu terus mengeluarkan bunyi yang makin keras.
Arkan bingung, kucing itu bagai manusia, Arkan tidak tau caranya untuk menenangkannya.
Tiba-tiba tatapan Arkan mengarah ke sebelah barat, sosok putih yang pernah Arkan lihat berdiri di luar pagar.
Arkan mengigit bibir keras, paniknya wajah Arkan makin jelas, peluh-peluh dingin pun membasahi seluruh wajah.
Arkan menatap ke depan, pura-pura tak tau kalau ia telah melihat dengan jelas sosok penunggu danau yang bernama Narsih tersebut.
"Matilah aku, siapapun tolong aku, aku mohon tolonglah aku" batin Arkan berdoa.
Tak sedikitpun Arkan melirik ke sebelah barat lagi, ia sudah tau ada apa di sana, Arkan tak segila itu bertatapan lama dengan sosok yang jelas-jelas bukan manusia, dia bahkan adalah sosok yang ingin balas dendam pada Arkan.
Keadaan rumit mencekik Arkan, di suasana yang makin dingin Arkan malah berkeringat dingin.
Untuk masuk ke dalam rumah Arkan tak mau melihat lagi sosok wanita yang lagi bermain di kursi goyang milik neneknya, tapi di luar ia malah di pantau oleh sosok penunggu danau.
Arkan bingung harus kemana lagi, masuk ke dalam makin menambah masalah tapi diam di luar juga makin membuatnya kena masalah.
Keputusan akhir adalah diam, terus meyakinkan diri kalau Arkan bisa melewati ini semua sendiri tanpa bantuan siapapun.
Dengan di temani kucing cantik berwarna putih Arkan diam, dalam hati terus berdoa semoga ada orang yang melintas sehingga bisa dia panggil.
Di jalan depan rumah Arkan seorangpun tak ada yang keluyuran, baik jalan kaki maupun kendaraan tak ada yang melintas.
Hanya di desa Cempaka Arkan merasakan yang namanya keheningan, sepi dan juga suasana mencekam.
Kucing putih itu sadar kalau Arkan takut, ia malah bermain di kaki Arkan, mengelusnya dan mencoba mengajak Arkan bermain.
Arkan tak merespon, ia tetap diam dengan pandangan ke depan.
Arkan melirik ke arah barat, sosok itu masih berada di sana dengan melototkan kata ke arahnya. Dengan cepat Arkan menatap kembali ke depan, tak mau melirik dia lagi.
"Kenapa dia belum juga pergi, gimana ini, nyesel banget aku gak ikut bunda sama ayah, kalau aku ikut gak akan aku di ganggu begini, malah gak ada orang lagi, aku gak bisa minta tolong" batin Arkan menyesali perbuatannya.
Wajah Arkan pucat pasi, tangan dan kakinya sedingin es batu.
"Arkan"
Panggilan itu membuat hati Arkan plong.
Arkan bangun dari duduk, tersenyum dengan lebar menatap empat orang keluarganya yang ia nanti-nanti.
"Kenapa ada di luar, kenapa gak masuk ke dalam?" Tanya Risma.
"Anu Bun, itu karena di dalam panas, jadi aku keluar buat nyari udara seger" alasan Arkan demi tak ketahuan.
"Ini udah malam, jangan di luar, ayo masuk" ajak nenek.
Mereka pun masuk, Arkan ikut bersama mereka.
Hal yang pertama Arkan lihat adalah kursi goyang yang ada di dekat lemari buku di ruang tamu.
Arkan bernafas lega, sosok menyeramkan itu telah pergi, kursi goyang kosong, walau cuman sedikit Arkan merasa lega.
"Arkan ayah sama bunda mau ke kota mau beli beberapa peralatan yang kurang, kamu di sini aja ya sama kakek dan nenek, kamu gak papa kan?" Mematikan Ilyas.
"Gak papa kok yah, Arkan bisa kok di sini sama kakek dan nenek, kalian pergi aja" jawab Arkan.
Ilyas dan Risma pun tenang untuk meninggalkan putra tunggal mereka.
Ada beberapa peralatan yang kurang dalam usaha yang mau mereka buka lusa, alat dan bahan itu hanya ada di kota, pasar di desa ini tak lengkap, banyak yang kurang.
Mereka terpaksa harus membeli di kota yang tak terlalu jauh, tapi menguras waktu.
Di rumah hanya ada Arkan, kakek dan juga nenek.
Arkan masuk ke dalam kamar, di kamar Arkan memegang hatinya, apa yang akan lewati barusan menguras tenaga dan juga pikiran.
Arkan meringkuk di bawah dengan bersandar pada dinding.
"Serem banget, kenapa dia pake datang lagi, apa tadi siang dia belum puas ganggu aku"
"Kenapa dia sebegitu dendam pada ku, apakah kesalahan ku tak bisa di maafkan"
"Jika aku tau sebelumnya tak mungkin aku memaksa untuk mengetahui penyebab danau menjadi merah"
"Dan dia gak akan dendam pada ku hingga seperti ini"
Arkan lemas hanya karena memikirkan gangguan yang akan di hadapi yang di ketahui selama kurun waktu 7 hari.
Belum juga sehari Arkan sudah tersiksa, batinnya terusik, hal yang paling Arkan tak suka adalah di usik, baik manusia maupun makhluk halus.
Seorang Arkan yang dulunya sangat menyukai kegelapan, kini ia benci gelap, ia benci malam hari. Dulu Arkan jadikan malam sebagai penenang di kala lara, tapi kini malam malah membunuhnya.
Arkan tersentak kaget kala menangkap sosok wanita berpakaian putih berjalan dari barat ke timur di luar jendela.
Gorden yang berwarna putih membuat Arkan dapat melihat sosok itu walau tak jelas.
Arkan menutup mulut tak percaya, ia berusaha diam tak ingin lari lagi. Keinginan Arkan untuk istirahat sejenak hancur, belum apa-apa serangan makhluk halus kembali datang.
Dalam keadaan takut yang luar biasa Arkan berdoa meminta pertolongan dari sang maha kuasa.