
Keheningan yang terjadi di bus malah membuat suasana semakin mencekam. Ketertekanan Arkan dapat terlihat dengan jelas.
Vroom
Vroom
Vroom
Tiba-tiba suara kendaraan lain terdengar di telinga, hati Arkan sedikit lega karena tak hanya bus ini yang melintasi jalanan angker.
Di depan sebuah mobil sedan berwarna hitam melaju kencang, tapi saat mobil sedan melintas tepat di sebelah kiri bus, Arkan terguncang hebat, bola matanya melotot sempurna.
Bagaimana tidak, penumpang mobil sedan yang terdiri atas 3 orang itu wajahnya pucat pasi dan penuh dengan darah.
Arkan yang di tatap dengan tajam langsung membuang muka.
"Astaghfirullah" batin Arkan bergetar takut.
Arkan tegang, kekhawatiran makin terlihat jelas di wajahnya. Tapi lidahnya terasa keluh sehingga tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun untuk memberitahu semua orang prihal apa yang barusan ia lihat.
Kursi sebelah Arkan yang kosong membuat Arkan makin ketakutan karena tidak ada teman yang bisa ia beritahukan segala sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Mata Arkan melirik penumpang-penumpang bus khususnya kedua orang tuanya.
"Kenapa mereka tetap diam, apa mungkin hanya aku seorang yang dapat melihat wajah-wajah penumpang tadi yang mengerikan?" Batin Arkan bertanya-tanya.
Arkan tidak menemukan reaksi apapun tetap diam menyembunyikan segalanya.
Bus kini sudah masuk ke pertengahan jalan. Suasana semakin tambah mencekam dan itu bukan hanya di rasakan oleh Arkan saja tetapi seluruh penumpang bus.
Seorang anak kecil berjenis kelamin perempuan, usianya kira-kira 5 tahun mendekati kernet bus.
"Aku mau turun, tolong turunkan aku" titah gadis kecil itu.
Semua penumpang tercengang, permintaan gadis kecil itu membuat semua orang merasa aneh karena tidak mungkin mereka menurunkan anak sekecil itu di tengah jalanan seangker ini. Parahnya lagi tidak ada tanda-tanda kehidupan di dekat jalanan angker.
"Dek, kita masih belum sampai, adek jangan turun dulu ya, nanti ketika sudah sampai baru kita turun" kernet bus dengan lembut melarang gadis kecil itu yang hendak turun.
"Aku mau turun, tolong turunkan aku" titah gadis kecil itu mengulangi permintaannya.
"Siapa anak kecil itu"
"Kenapa bisa ada di sini"
"Perasaan tadi tidak ada dia di sini"
"Kemana ibunya?"
"Anak siapa itu?"
"Di mana ibunya, jangan biarkan anaknya turun sendiri-sendiri"
Para penumpang bertanya-tanya di mana ibu gadis kecil tersebut. Kegaduhan terjadi di bus, suasana senyap itu sudah menyingkir dan kini berganti dengan mereka semua yang merasa aneh dan panik dengan keberadaan gadis kecil itu.
"Aku mau turun, tolong turunkan aku" lagi-lagi gadis kecil itu meminta untuk turun.
Kernet bus tidak bisa tenang, menurunkan anak kecil di tengah jalanan suram sendirian akan menambah masalah menurutnya.
"Aku mau turun, tolong turunkan aku" sekali lagi gadi kecil itu mengulangi permintaannya.
"Cepat turunkan dia" perintah pak supir panik.
Kernet bus dengan ragu-ragu menurunkan gadis kecil itu.
Arkan tercekat, wajah gadis kecil yang cantik dan mengenaskan itu tiba-tiba berubah menjadi hancur saat sudah keluar dari dalam bus.
Nafas Arkan tersengal-sengal, ia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang semakin tidak tenang.
"Siapa anak kecil itu sebenarnya, k-kenapa wajahnya tiba-tiba berubah draktis" batin Arkan bergetar ketakutan.
"Pak supir siapa anak kecil itu, kenapa di biarkan turun?" Tanya salah satu penumpang.
"Dia bukan anak kecil biasa, dia anak penghuni jalanan ini" jawab pak supir terlihat sudah berpengalaman dalam menanggapi keanehan-keanehan di jalanan ini.
"Pantesan aja dia serem banget" gumam Arkan.
"Tapi pak kenapa dia harus di turunin?" Tanya penumpang itu sekali lagi.
"Kalau kita tidak menurunkan dia, kita pasti akan celaka" jelas pak supir.
"Ya ampun kenapa bisa ada hantu yang masuk ke dalam bus"
"Dari mana dia masuk"
"Bagaimana caranya dia bisa masuk"
Kepanikan para penumpang tidak bisa di sembunyikan lagi.
"Semuanya harap tenang, jangan gaduh, tetap berdoa memohon pertolongan pada sang pencipta. Jadikan peristiwa ini sebagai pelajaran agar kita semua bisa berhati-hati lagi untuk kedepannya" kernet bus berusaha untuk menstabilkan keadaan.
Semua penumpang diam, mereka terus bersyukur karena bisa di selamatkan dari kejadian yang tidak di inginkan.
Sesaat setelah keadaan kembali tenang seorang penumpang yang duduk di bangku barisan paling depan bangkit. Penumpang itu berjenis kelamin perempuan, ia mengendong anak kecil yang kira-kira usianya 1 setengah tahun.
"Ibu, ibu mohon duduk kembali, perjalanan kita masih panjang, kami akan memberitahukan jika bus sudah mendarat di terminal" ucap sopan kernet bus.
Wajah penumpang itu sinis, dingin dan datar. Kernet bus yang mendapatkan tatapan tak bersahabat seperti itu menelan ludah pahit.
"Aku mau turun" titah wanita paruh baya tersebut.
Seluruh penumpang tercengang, permintaan wanita paruh baya itu begitu mencengangkan semua mata.
"Tapi Bu, ini masih jauh dari lokasi tujuan kita, saya harap ibu duduk kembali, setelah kita sampai di terminal saya akan beri tau ibu" jawab kernet bus melarang wanita paruh baya itu turun dari bus.
"Tidak, aku mau turun di sini, cepat turunkan aku!" Perintah wanita paruh baya dengan nada menakutkan.
Kernet bus kembali di suguhkan dengan pilihan yang berat. Menurunkan penumpang di tempat yang terbilang membahayakan membuatnya kesulitan, ia sangat takut terjadi apa-apa pada ibu dan anaknya tersebut.
"Tolong turunkan dia juga" tunjuk ibu paruh baya pada salah satu penumpang.
Bola mata ibu paruh baya itu terarah pada Arkan, Arkan begitu tercekat saat tangan ibu paruh baya itu tertuju padanya.
"A-aku, kenapa aku harus turun" terbata-bata Arkan menunjuk dirinya sendiri.
Risma yang berada di seberang putranya langsung pindah dan memeluk erat tubuh Arkan.
"Jangan, jangan bawa putra ku" larang Risma tak akan membiarkan putra tunggalnya di bawa pergi oleh wanita paruh baya yang sangat misterius.
"Ibu, ibu kalau mau turun silahkan" tutur pak supir menghentikan bus.
"Wisnu buka pintunya, biarkan dia turun" perintah pak supir cepat dan terdengar gelisah.
Wisnu yang merupakan kernet langsung membuka pintu dengan sesegera mungkin, lalu ibu paruh baya dan anaknya itu turun meninggalkan bus.
Lagi-lagi Arkan tercekat saat wanita paruh baya misterius itu berubah menjadi sosok wanita berambut panjang dan seluruh pakaian putihnya penuh dengan darah.
"Bunda" Arkan yang takut memeluk erat ibunya.
"Arkan, kamu kenapa nak?" Khawatir Risma karena tidak biasanya Arkan seperti ini.
Kepala Arkan menggeleng, ia tak bisa menceritakan segalanya pada ibunya di saat situasi tidak memungkinkan seperti ini.
Risma mengerti ada sesuatu yang terjadi pada putranya, ia terus mengusap punggung Arkan untuk menenangkannya.
Pak supir kembali melajukan bus dengan kecepatan normal tidak selambat tadi.
Sepanjang perjalanan Arkan memeluk erat tubuh ibunya, ia tidak melihat keluar sama sekali khawatir melihat sesuatu yang menakutkan lagi.
Setelah bus keluar dari jalanan angker semua orang mengucap puji syukur, mereka bersyukur karena mereka bisa keluar dari jalanan seangker itu dengan selamat.
Arkan bernafas lega, 1 karena ia berhasil keluar dari jalanan suram, 2 benda aneh yang ia injak sejak tadi telah menghilang. Berbarengan dengan segala keanehan-keanehan di bus ini.
Penumpang-penumpang kembali melanjutkan tidurnya yang tertunda, mereka sudah tidak khawatir lagi karena suasana kembali aman terkendali.
Arkan juga ikut terlelap dalam tidur nyenyak sama seperti penumpang-penumpang pada umumnya.