
Selama perjalanan sebisa mungkin Rani tak menunjukkan kegelisahannya. Dia terus menyibukkan diri dengan Al-qur'an kecil yang ada di dalam tasnya. Rani terus membacanya, memberikan ketenangan di hatinya sendiri.
Seperti harapan Rani, hantu itu tak lagi bergelayutan di kaca depan mobil.
"Apakah dia sudah pergi?" tanya Rani.
"Siapa yang pergi dek?" Risa menoleh ke arah adiknya.
"Hmm, gak ada kak," Rani sedikit jengkel di hatinya. Apa harus dia memulai percakapan dulu, baru kedua kakaknya itu menanggapi?. Mereka benar-benar tidak pandai menjalin hubungan kakak adik!
Padahal waktu di hutan itu mereka begitu akrab dan saling melindungi, haruskah saat salah satu dalam bahaya baru hubungan mereka bisa dekat? Entahlah siapa yang tau.
Rani tak mau membuat rasa kesal memenuhi hatinya, dia kembali membaca kitab suci itu, membuang semua pemikiran rumitnya dan fokus pada ibadah indah ini.
🐾🐾🐾🐾🐾
"Sayang kita sudah sampai," Mama menyapa ketiga anaknya itu yang sibuk dengan aktifitas mereka sendiri. Mama tersenyum puas saat melihat si bungsu fokus membaca Al-Qur'an tidak seperti kakaknya yang sudah terjun kedunia maya.
"Udah, kita turun dulu, oke?" Ayah membuka pintu mobil. membuat angin yang berhembus dari luar menyapa mereka.
Mereka tiba di rumah sudah tengah malam, sepertinya ada badai angin di sini. Berhembus cukup kencang, membuat hawa dingin menyapa tubuh mereka.
"Dingin, Rani masuk duluan, kunci rumah mana Ma?" Rani menampungkan tangan kanannya meminta kunci.
Setelah mendapatkan kunci, dia berlari kecil menuju pintu. Tak menghiraukan kesibukan yang lain mengangkat barang.
"Gak mau bantu gitu dek? Banyak nih yang mau di bawa masuk," kata Risa sambil mengangkat dua koper miliknya.
"Rani masih kecil, gak boleh bawa yang berat-berat, heheh," tanpa rasa berdosa dia berjalan menuju dapur berniat mengambil air.
Di susul Risa yang menarik kopernya ke arah si adik bungsu, hah, dia berusaha membiasakan diri dengan tingkah manja Rani yang mulai kambuh.
Baru saja Rani ingin mendeguk airnya, tapi kaca di tangannya duluan meluncur ke arah lantai.
PRAAANG..
Risa yang mendengar itu berlari ke arah Rani, wajah cemas sudah tergambar jelas di wajahnya.
"Kamu kenapa dek?" Dia menarik kedua bahu Rani agar menghadap ke arahnya.
Namun yang di tanya hanya diam, dengan pandangan masih fokus ke arah bawah.
Wajah Rani yang tadi sumbringah berubah pucat seperti habis melihat hantu saja.
...Tunggu, hantu?...
"Kamu lihat hantu?" Tanya Risa hati-hati.
Sekali lagi Rani hanya diam, dia tak menjawab sepatah kata pun.
"Adek! Jawab kakak!" Risa mulai meninggikan nadanya, membuat orang yang di luar berjalan masuk memeriksa apa yang terjadi.
"Eeh? Anu.... Rani gak apa-apa kok kak, Rani bersihin dulu kaca yang berserakan," Rani berusaha agar tak bertatapan dengan kakaknya.
Dan dia pun juga tak menegakkan kepalanya, Rani berjongkok, memungut gelas yang sudah pecah itu. Walau sekarang Rani hanya fokus menatap kaca yang berserakan, namun kaki yang basah dan pucat itu masih dapat dia lihat. Hanya berdiri, tapi begitu dekat dengannya.
"Sudahlah, biar kakak aja yang bersihin, kamu ke kamar aja kalau capek ya? Istirahat! Besok sekolah," Risa mengelus kepala Rani dan menarik tangan adiknya agar berdiri.
"Oke kak," Rani berjalan dengan cepat ke arah kamarnya yang berdekatan dengan dapur.
Dia segera mengunci pintu kamarnya. Walau dia tau, mau di kunci atau tidak, hantu itu tetap akan bisa masuk.
"Kamu kenapa pucat kayak gitu? Takutkah sama aku?" Baru juga Rani mengunci pintunya.
Suara dari belakang sudah menyapanya!
'Hantu sialan! Kenapa mengikutiku sejauh ini sih!'
"Ran! Kenapa diam?" Hantu itu mendekatkan kepalanya ke arah Rani, hingga membuat Rani bisa merasakan rambut basah hantu itu menyentuh bahunya.
"Menjauhlah! Aku mau tidur! Jangan ganggu aku!," Rani berjalan tergesa ke arah tempat tidur. Dia berusaha tak memperdulikan hantu yang terus menatapnya dengan mata merah itu.
"Kau harus membantuku! Kau sudah berjanji untuk itu!," Hantu itu mendekat ke arah Rani.
Kali ini, Rani tak bisa menahan rasa jijiknya.
"Aku tak pernah berjanji padamu!, Enyahlah!," Rani mengambil headset yang terletak di atas meja lampu tidurnya.
Dia memutar lagu dan membiarkan hantu itu mengomel sendirian.
'Bicaralah sesukamu! aku takkan mendengarkan!'