Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
40


"Hmm... gua udah boleh ngomong nih?" Tanya smSintia memecahkan keheningan diantara mereka bertiga.


"Tunggu dulu Sin," Kata Risa yang sekali lagi membuat Sintia tak jadi berbicara.


"Ada apa kak?" Tanya Sintia penasaran.


Risa menatap Sintia sebentar, lalu berbalik menatap Naell yang masih setia menatap tirai yang tak tertembus cahaya matahari itu.


"Naell, kamu bukan Naell kan?" Risa bertanya secara hati-hati, takut nanti memicu amarah.


Sintia yang mendengar itu mengerutkan keningnya, sedangkan Naell orang yang di beri pertanyaan itu malah tersenyum lebar.


"Kamu benar Sa, kamu hebat, aku berusaha sebisa mungkin agar tak ketahuan, tapi akhirnya ketahuan juga. Hah... keluarga Naell saja tak menyadarinya, kecuali Nathan." Jawab Naell yang membuat Risa semakin yakin.


"Maksud lo? Lo bukan Naell? Gimana sih?" Sintia menggaruk kepalanya karena bingung.


"Kenalin gue david," Jawabnya sambil mengacungkan dua jari telunjuk dan tengah yang dia gerakkan dari pelipisnya lalu menjauh dari kepalanya.


"Gimana sih kak? Aku gak ngerti," Tanya Sintia dengan kening yang semakin berkerut.


"Kalau aku lihat, Naell punya kepribadian ganda, masih mending kepribadian keduanya manusia juga, aku punya kenalan, yang kepribadian keduanya adalah binatang berupa kucing," jelas Risa sambil mengingat-ingat salah satu temannya dulu.


"Jadi, sekarang ini, dia bukan Naell? Tapi kepribadian lainnya yang bernama David?" Tanya Sintia yang di balas anggukan dari Risa dan David.


"Kau salah, jika menuduh ayahku salah satu dalang dalam masalah itu," tanpa di minta, Naell, eh maksudnya David mulai membuka pembicaraan kembali.


"Aku salah? Lalu siapa? Gak mungkin dong ayah lo tetap bodoh amat saat melihat putranya Di bunuh? Aku yakin orang yang bunuh ibu serta kakak lo itu adalah ayah lo, lalu dia bunuh diri karena merasa bersalah?" Tebakan Sintia membuat David tertawa keras.


"Lo salah besar Sin!! Dia gak pernah peduli sama kami! Tidak sedikit pun! Dia hanyalah pria dingin yang sebenarnya tak pantas kami sebut ayah. Pria itu seorang psikopat yang tak membunuh," jawab David dengan gaya santai. Tak seperti Naell yang terkesan dingin, dan penuh amarah, David terlihat lebih santai, namun tatapannya terasa lebih tajam walau terlihat ramah. Seakan-akan David adalah tipikal orang bermuka dua dan Naell adalah tipikal orang yang biasa menunjukkan apa adanya dirinya.


"Maksudnya psikopat yang tak membunuh? Emangnya ada?" Tanya Sintia tak paham.


"Dia tak pernah terlihat memilik perasaan, baik itu senang, sedih, atau pun marah, dia selalu datar dan hanya memikirkan dirinya sendiri, aku semakin yakin, jiwa psikopat pada kakak perempuan ku itu pasti ketularan darinya," jawaban David membuat Risa san Sintia makin keheranan.


"Tadi lo bilang dia gak salah, sekarang lo bilang dia psikopat, apa lo yakin dia gak ada hubungannya dengan masalah ini?" Tanya Sintia mulai goyah dengan penjelasan David.


"Lebih baik dia ikut serta dalam pembunuhan itu karena tidak terima dengan cara kakak membunuh Natha, dari pada dia yang memilih berlalu dan bodoh amat tak mau peduli dengan pembunuhan di depan matanya," jawaban David membuat Sintia mengangguk paham.


"Lalu siapa pembunuh kakak serta ibu lo?" Tanya Sintia penasaran.


Mendengar pertanyaan Sintia, senyum misterius tergambar di wajahnya David.


"Apa yang lo lihat terakhir kali itu belum sepenuhnya jelas, jadi sekarang bagaimana kalau kita kembali melihat ke masalalu?" Tanya David.


"Sebenarnya lo itu tau gak sih kebenarannya?" Tanya Risa mulai geram.


"Iyaap... aku tahu kebenarannya, tapi bukankah akan lebih jelas dan kalian akan lebih peecaya dengan apa yang kalian lihat sendiri? Lagian waktu itu lo ke masalalu bukan sama gue, tapi sama Naell... Dia tak mengetahui apapun, karena pas kejadian hari itu yang ada adalah aku bukan Naell... jadi aku lebih tau, tempat mana yang akan kita kunjungi untuk melihat ke masalalu," Davud tak kalah panjang lebarnya dalam menjelaskan.


"Tapi kan.." Sintia ingin menyela lagi. Dia merasa kembali ke tempat itu bukanlah hal yang baik, dia takut, Risa akan kembali teringat dengan Kelvin, dan itu akan kembali membuat luka yang belum kering kembali basah lagi.


"Oke, jika itu yang bisa selesaikan masalah ini," Risa memotong kalimat Sintia yang belum sampai dia ucapkan.


"Kakak gak apa-apa kalau kita ke sana lagi?" Tanya Sintia khawatir.


"Gak apa-apa Sin, masalah ini harus selesai, kakak udah capek, kakak mau ini selesai dan istirahat dari hal mistis ini. Ini adalah kali terakhir kakak membantu mereka setelah ini gak lagi. Kakak gak mau ada kehilangan seseorang lagi," Jawaban Risa membuat Sintia pasrah.


"Terserah kakak deh, aku ngikut aja," jawab Sintia kemudian.


"Jadi kapan kita ke rumah lo?" Tanya Risa.


Namun yang di tanya tiba-tiba sudah tergeletak di atas kasur.


"Dia pingsan atau ketiduran?" Tanya Sintia pada Risa yang di balas gelengan tanda tak tahu.


"Vid? Lo bangun dong," Sintia berjalan mendelat ke arah David yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Vid?" Risa memberanikan diri menepuk pelan bahu David.


Tak beberapa lama pria itu tersadar.


"Akhirnya lo bangun juga vid, gue kira lo mati mendadak tadi," jawab Sintia menepuk dahinya pelan.


"Vid? lo salah nama kali, nih ya, gue kenalin nama gue Naell," jawab orang yang sudah beralih kepribadian itu.


"AISH.... Ribet deh, pusing gua! Ya udah deh, pokoknya besok kita ke rumah lo, terserah mau lo David atau Naell, gua gak peduli," Sintia mengehentakkan kakinya kesal.


Dia merasa sedang di permainkan oleh orang yang memiliki lebih dari satu kepribadian itu. Mereka bertukar diri sesuka hatinya saja.


Risa hang melihat Sintia mau keluar pun tertawa kecil, bagaimana pun dia tetap gadis remaja, emosinya masih labil.


"Ya udah Naell, aku sama Sintia pulang dulu, lo banyak istirahat ya... biar besok ada tenaganga," Risa mohon pamit.


"Kapan lo sama Sintia ke sini?" Tanya Naell masih dengan keheranannya.


"Hmm... sudah cukup lama mungkin," jawab Risa sambil mengulas senyum di bibirnya.


Naell kembali mengerutkan kening heran. Dia merasa aneh dengan dirinya, sedari dulu suka sekali pingsan, dan anehnya saat dia terbangun dia sudah berada di tempat yang berbeda, entah ada apa dengan dirinya.