Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
46


"Eh... itu Naell tidur?" Sintia menyela kesunyian yang menemani mereka beberapa saat tadi. Telunjuknya mengacung kepada Naell yang sudah tersandar di pintu kamar Nathan.


"Masa iya tidur? Gak mungkin dia tidur di situasi kayak ginikan?" Risa ikut-ikutan memperhatikan Naell yang di tunjuk oleh Sintia.


"Bukan tidur gak sih? Mungkin dia pingsan?" Cika ikut menjawab pertanyaan Sintia barusan.


David yang mendengar diskusi mendadak ketiga gadis itu, lagi-lagi tersenyum.


"Dia emang pingsan, karena sudah waktunya giliran aku yang muncul," pernyataan David barusan mengundang tatapan dari ketiga pasang mata gadis itu.


"Giliranmu Vid?" Tanya Risa yang di balas anggukan mantap.


"Apaan sih? Maksud lo itu gimana sih Naell? Giliran lo? Emangnya ada sesi tukar jiwa ya dalam tubuh lo, David? Itu siapa lagi sih? Kenapa lo di panggil David? Ada gak sih yang mau jelasin?" Cika agak sedikit meninggikan nadanya


Dia jengkel saat hanya dia sendiri yang merasa bingung dengan situasi ini, apa sebenarnya yang dia tidak tau? Apa hah?.


"Aku gak pandai ngejelasinnya Cik, hmm... gini aja, aku jelasin secara singkat, masuk akal atau enggaknya menurut kamu, tapi itulah yang terjadi. Sebenarnya Cik, Naell, dia punya kepribadian ganda dalam tubuhnya, yang sedang dengan kita saat ini adalah David, kepribadian ganda lainnya dalam tubuh Naell," Risa mengambil alih untuk menjelaskannya kepada Cika.


"Kepribadian ganda? Maksud kamu gimana sih? Emang ada ya kepribadian ganda itu?" Cika masih bingung dan beranggapan kalau ini sama sekali gak masuk dalam akal seorang Cika.


"Ada Cika, dan aku buktinya, kamu kenal Naell dengan baikkan? Seharusnys kamu faham atau setidaknya kamu sedikit faham kalau Naell suka berubah suasana hati dan perilakunya, aku benar Cika?" David kali ini yang menjawab.


Mata David dan Cika beradu kini. Saat benar-benar menatap bola mata pria yang telah menjadi teman masa kecilnya dulu membuat dia sedikit menyadari, bahwa benar, tatapan itu terasa berbeda, tatapan Naell tak pernah seteduh itu.


"Hmm.. yah, mungkin," jawaban ambigu terlontar dari mulut Cika yang langsung menunduk dengan wajah sedikit kecewa.


Dia kecewa saat tak menjadikan perbedaan sifat Naell dulu adalah sebuah pertanda bahwa orang yang menjadi temannya itu memiliki kepribadian ganda. Cika tertunduk, saat menyadari betapa kurang pedulinya dia dengan seorang Naell. Seseorang yang memiliki kepribadian ganda itu biasanya di picu oleh trauma yang cukup besar di dalam dirinya. Trauma apa yang di miliki Naell? Apa sebenarnya yang terjadi di keluarga ini?


"Eh dia bangun," Sintia yang sepertinya tidak mau ambil pusing dalam percakapan tadi lagi-lagi mengusir kesunyian yabg sesaat datang tadi.


"Itu aku," David berkata bangga, dengan meletakkan kedua tangannya ke dalam saku celana jeans yang dia pakai.


"Terus memangnya kenapa kalau itu lo hah?" Tanya Sintia lagi.


"Karena di sinilah permainan dimulai," Nada suara David tdrdengar sedikit senang.


"Lo gila!," Risa yang sudah bisa memprediksi apa yang terjadi nanti, langsung mengatai pria yang ada di sampingnya saat ini.


"Harus bangga dong Sa, dengan kayak gitu orang-orang yang harusnya mendapatkan balasan mereka akan mendapatkannya sekarang, asal kau tau Sa, aku tidak suka dengan ketidak adilan," Nada bicara David yang terakhir terdengar agak tidak mengenakkan, tapi memang ada benarnya begitu. Itulah sifat david sesungguhnya, tak jauh berbeda dengan kakak mereka.


"TOK..TOK...TOK...TOK..." Naell, yang tubuhnya sudah di ambil alih David itu, mendongakkan kepalanya.


Dia meringis kesakitan saat hendak berjalan membuka pintu, awalnya David tak tau, kenapa perutnya begitu sakit. Tapi sekarang, saat melihat kejadian di masalalunya akhirnya dia menyadari, Naell yang bodoh itu, sudah di pukuli oleh seorang wanita berkali-kali. Bukannya membalas, Naell malah menerimanya.


"Hah... saat itu aku menyadari bahwa aku dan Naell benar-benar berbeda," tiba-tiba David berbicara yang di balas tatapan oleh ketiga gadis itu.


"Memang berbeda, sangaaat berbeda! Naell tidak akan mau melukai orang lain, berbeda dengan kamu," Risa mulai mengadu argumennya lagi.


"Iyaap! Naell terlalu baik, ah bukan... aku tak bisa bilang dia terlalu baik. Sampai sekarang aku bingung, apakah orang baik itu artinya sama dengan orang bodoh?" Tanya David membalas Risa.


"Maksud kamu Vid?" Risa bertanya balik, dia tak paham.


"Hmm...orang baik, menurut aku hampir sama dengan orang bodoh, mereka mau di pukuli tapi tak mau memukul, mereka mau di caci, tapi tak mau balas mencaci, mereka mau di suruh bak budak, dan mereka menurut saja," David mengeluarkan pendapatnya.


"Cara berfikir kamu salah Vid, mereka bukan bodoh, hanya saja tak mau membalas kejahatan dengan kejahatan," Risa mencoba menjelaskan.


"Nah, itu yang namanya bodoh Risa," jawab David sambil mengangkat satu alisnya.


"Bukan begitu, biar aku jelaskan," Risa mencoba ingin menjelaskan lagi, karena baginya, pemahaman David itu salah.


David sangat salah!


"Siapa?" Baru saja Risa ingin berbicara, terdengar suara David bertanya kepada orang yang baru saja mengetuk pintu tadi.


"Hmm... sepertinya kamu jelasin itu nanti aja deh Sa, pertunjukan sudah mau di mulai tuh," David menunjuk ke arah dirinya yang sedang berhadapan dengan seorang gadis.


Gadis yang tak asing bagi Risa.


๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ๐Ÿพ


Nah menurut kalian bagaimana? Setuju gak sama David? Kalau orang terlalu baik itu susah di bedakan dengan bod*h? Coba sampaikan pendapat kalian๐Ÿ˜Š