
Seiring dengan tangis bahagia mereka, terdengar suara teriakan penduduk kampung memanggil nama mereka. Akhirnya tempat yang di tutup ilusi ini terbuka juga. Cika dengan bahagianya berlari ke arah Kakak beradik itu, dia ikut berpelukan mencurahkan rasa lega yang akhirnya terasa juga.
"Kalian senang sekarang? Kalian membunuh suami ku! Kalian senang?" Kintan berteriak kesal.
"Nek, Kakek Tarjo sudah lama meninggal, kita takkan bisa hidup bersama dia yang sudah mati, nenek harus sadar, nenek harus bisa hidup seperti manusia biasa, jangan terus terikat dnegan kakek yang udah pergi, ikhlaskan kakek, ingat Tuhan nek," Rani berniat mendekat ke arah neneknya itu.
Tapi Denis dengan cepat mencegat langkah Rani,
"Jangan mendekat dulu Ran, dia masih dalam amarah, tidak baik buat kamunya," Rani tertegun dengan ucapan Denis itu.
Baru kali ini seorang Denis bicara seperti itu padanya.
"Rani???? Rudi???? Kelvin?? Risa?Kalian disini?" Suara seorang pria tua yang Rani yakin adalah pak RT langsung berlari keluar, taj menghiraukan tatapan Denis yang kesal karena di cuekin.
"Kami di sini," Cahaya terang akhirnay terlihat juga.
Semua orang ikut keluar dari rumah itu, kecuai Dimas dan Kelvin yang menjaga Kintan agar tidak kabur.
🐾🐾🐾
Semua kembali normal, ibu menangis histeris melihat Risa dan kedua adiknya. Orang tua Kelvin yang sudah sampai di kampung juga berlari memeluk putranya itu. Akhirnya pikiran buruk tentang anak-anak mereka tak terjadi, mereka selamat dalam keadaan baik-baik saja.
Sedangkan Dimas, Denis dan Cika memilih ikut dengan Risa, mereka ingin pulang,sudah cukup menjelajah hutan dengan para hantu dan kecemasan. Jasad kedua temannya sudah di evakuasi warga. Dimas terlihat tetap berduka walau mereka akhirnya bebas. Dimas takkan pernah lepas dari rasa penyesalannya. Dia harus kehilangan wanita yang dia cintai tanpa sempat mengatakan Cinta.
Sherly menatap dari kejauhan, dia ingin memeluk ibunya yang sedang menangis, tapi dia sadar itu tak bisa dia lakukan, karena perlahan tubuhnya berubah seperti gas.
"Sherly? Ada yang mau di sampaikan ke ibu kamu? Biar aku bilangin," kata Rani, yang sekarang ada di samping ibu Sherly.
"Ada Sherly? Dimana?"Ibu Sherly mengedarkan pandangannya berharap dapat melihat wajah putrinya.
"Dia ada di depan tante," kata Rani hati-hati.
"Sherly? Kamu lihat ibu nak? Kamu dengar ibu nak? Ibu sayang Sherly, ibu mau Sherly tenang di sana, Sherly, ibu rindu Sherly," air mata terus mengalir di pipi ibunya.
Sherly tersenyum dan tangis pecah juga, walau hanya Rani yang bisa mendengar tangsi pilu seorang Sherly.
"Ran, bilang sama ibuku, aku akan bahagia kalau ibu mau mengikhlaskan aku, aku juga minta maaf sama ibu, dan aku juga sayang ibu, tolog bilang sama ibuku ya, "
Rani tersenyum manis dan mengatakan apa yang di katakan Sherly padanya ke ibu Sherly. Setelah mendengar itu, Sherly pergi begitu saja, tapi kali ini dia pergi seperti asap, Sherly sudah pulang...
Semua sudah kembali normal, yang pergi sudah pulang ke tempatnya. Yang rindu rumah sudah bertemu dengan keluarganya.
Tapi benarkah semuanya sudah selesai? Tidak... semua belum berakhir semudah itu. Semua belum berakhir!