
Sherly menceritakan tentang masalalu nenek Kintan kepadaku dan kedua orang itu. Kami tertegun ada rasa iba terselip kepada nenek Kintan.
"Aldo itu bukan manusia waras dia sudah gila," Kata Ocha, setelah mendengar Tarjo meninggal di tangan Aldo yang menebas kepalanya dengan kapak.
"Menurutku Tarjo dan Aldo sama-sama salah," Dimas ikut mengeluarkan pendapat, padahal tidak ada yang bertanya pendapat mereka.
"Begitu menurut mu Mas, hmm... ya, ku fikir-fikir Tarjo juga salah," Kata Ocha yang membuat dia terlihat plin plan. Jelas banget dia penjilat, kalau aku yang ngomong kayak kata kak Dimas tadi, mungkin aku dan Ocha sudah bertengkar lagi. Dia benar-benar pencari muka. Memuakkan.
Aku melempar batu kecil ke dalam sungai, satu batu, dua batu dan seterusnya. "Manusia itu egois, mereka merasa diri mereka sendiri yang paling benar. Rasaku Aldo tidak bersalah di sini. Menurut dari cerita, dia terobsesi dengan nenek Intan, bukan cinta. Itu pertanda dia punya penyakit mental. Segala cara dia lakukan untuk mendapatkan nenek. Alhasil disitu saja kita sudah tahu, bahwa Aldo dalam keadaan tidak sadar dia punya gangguan mental. Sedangkan Tarjo, apa yang terjadi pada dia itu sudah hukuman yang setimpal. Manusia yang kasar, egois, bertindak sesuka hati kepada orang lain, bahkan berani melayangkan tangan kepada orang yang lebih lemah darinya. Dia tak pantas disebut manusia berpredikat baik, dan nenek Kintan sepertinya dia buta oleh cintanya kepada Tarjo. Hingga menjadi seperti saat ini. Mengapa cinta bisa membuat orang menjadi rela melakukan hal jahat? Bukan hanya merugikan dirinya sendiri bahkan mereka juga tidak masalah merugikan orang lain. Cinta orang seperti itu benar-benar menjijikkan. Mereka yang membuat cinta menjadi hal yang sangat rendah dan tak berarti. Sherly, coba ku tebak, Kau, hantu si pipi bolong dan Liam adalah tumbal untuk mengembalikan kehidupan Tarjo bukan?" Aku merasa sangat yakin dengan pertanyaanku itu.
Sherly tersenyum sumringah, "Kau benar Risa, hah,kau pintar," Sherly bertepuk tangan untukku. Dan aku hanya menatapnya dengan tatapan bodoh amat.
"Wah Risa, kau sudah berani menatapku ternyata," kata Sherly sambil menelengkan kepalanya ke kiri.
"Selagi kau tidak tertawa, itu tidak masalah bagiku," jawabku lalu mengalihkan pandangan kembali lagi ke sungai.
"Kau sok bijak Risa, wajar kalau orang ingin memiliki yang dia cintai," Sepertinya Ocha tidak terima dengan argumen ku sebelumnya.
"Terserahmu," Kataku sambil berdiri merapikan baju. Aku malas banyak bicara dengan gadis itu, sekarang aku sudah melihat sifat aslinya. Perempuan berpikiran sempit seperti perempuan kebanyakan.
"Sekarang kita akan kemana?, tidak mungkin pulang ke rumah itu lagi," kataku bertanya kepada Dimas.
"Apa tidak ada rumah satu pun di sini?" Dimas bertanya pada Sherly.
"Ayolah, kalian masih belum mengerti kalian dimana? Ini bukan alam kalian lagi," Tiba-tiba hantu berpipi bolong itu datang dan berdiri tepat di samping Ocha.
"Aaa....,"Ocha kehilangan ke seimbangan, kakinya tergelincir masuk ke sungai, sempurna bajunya basah dari atas sampai bawah.
"Sini, aku bantu berdiri," Dimas menyodorkan tangan kanannya ke Ocha. Ocha yang merasa malu menggapai tangan Dimas dan berdiri dari sungai.
"Hah... jadi ini bukan alam kami? Kami masuk ke alam lain maksudmu, hantu pipi bolong?" Tanya ku pada hantu itu. Yang di tanya malah tertawa
"Panggil saja aku S," katanya padaku.
"Oke, jadi dimana kami bisa tinggal, S?" Tanyaku padanya. Dia mengangkat bahunya pertanda tidak tahu.
"Aish, lalu bagaimana?" Kali ini orang yang basah kuyup itu bertanya.
"Tapi bagaimana kalau kita bertemu dengan nenek itu lagi?" Ocha bertanya sambil menggigil. Aku kasihan melihatnya, mukanya sudah pucat seperti itu.
"Kamu masih membawa cincin yang ku beri Sa?" Si S bertanya padaku. Yang langsung membuatku merogoh isi kantong celanaku.
"Ini, aku membawanya," Aku angkat cincin itu selurus kepalaku.
"Pakai itu, jika nanti cincin itu mengeluarkan cahaya berarti Kintan ada di dekat kalian, secepatnya kalian melarikan diri, aku tidak mau ada korban lagi, karena gara-gara teman kalian yang mati di tengah hutan itu, sekarang dia hanya perlu mencari 2 tumbal lagi. Kalau keinginannya sampai terwujud maka satu di antara kalian yang selamat akan aku bunuh," ancama S berhasil membuat kami kehilangan harapan hidup, jadi kesimpulannya kami harus selamat setidaknya dua di antara kami tidak boleh tewas.
Aku memandangi cincin itu dan memasukkannya ke jari manisku, dan muat di sana tidak longgar tidak sempit. Cincinnya juga cantik.
"Udah mandangin cincinnya Sa? Yuk kita jalan jangan kelamaan," kak Dimas menarik tanganku yang ternyata tertinggal di belakang. Aku hanya menyeringai mendengar penuturannya. Sedangkan tanpa aku dan kak Dimas sadari, ada seseorang yang menatapku muak.
****
"Kita udah sampai," Dimas menghentikan langkahnya dan melihat ke arahku, memberi isyarat untuk melihat ke cincin itu. Saat di lihat cincin itu masih normal tanpa ada cahaya.
"Aman, yuk masuk," Sekarang aku yang memimpin perjalanan, kali ini kami tidak berjalan namun berlari, ingin segera cepat sampai dan pergi dari sini secepatnya. Dimas langsung ke kamarnya mengambil barang-barangnya sedangkan aku dan Ocha pergi ke kamarku untuk memberesi barangku juga.
"Cha, di lemari itu ada beberapa snack, ambil dan masukkan ke dalam tas, persedian nanti kalau kiya ke habisan bahan makanan," Kata ku yang segera di laksanakan Ocha. Saat ini semua orang mengesampigkan urusan pribadinya dan memilih kompak untuk segera membereskan barang-barang dan pergi.
****
Di lain sisi Rani terus berjalan ke dalam hutan di temani Kelvin dan Rudi, Rani terus memanggil Sherly, berharap hantu itu muncul dan membantunya mencari sang kakak.
"Sepertinya dia tidak ada disini Ran," Kata Kelvin yang berjalan di samping Rudi.
"Aku yakin dia pasti akan datang, aku yakin itu bang," kata Rani yang terus berjalan, dia bahkan tidak peduli dengan kakinya yang sudah mulai pegal dan lelah. Karena sudah hampir sejam mereka terus berjalan di dalam hutan. Rudi yang melihat adiknya bersikeras tak ada niat untuk berbicara, dia yakin juga percuma karena Rani itu sangat keras kepala, susah untuk membujuknya pulang sekarang. Selagi keadaan baik-baik saja, dia akan membiarkan Rani mencari Sherly itu.
Ketika sampai di dekat pohon beringin Rani, terduduk di sana di ikuti Kelvin dan juga Rudi. Dia hampir putus asa, tapi di sisi lain dian harus terus berusaha mencari kakaknya, bagaimana pun kakaknya dalam kondisi yang berbahaya saat ini.
Tiba-tiba daun pohon beringin itu bergerak dengan cepat seperti di tiup angin, tapi anehnya cuman pohon ini saja yang tertiup angin, pohon di sekitarnya dan rerumputan sama sekali tidak terkena angin. Aneh. Tanpa di suruh mereka bertiga mendongakkan kepala melihat mana tau ada binatang entah itu burung atau tupai, namun sedang asiknya Mereka menatap ke atas Rani berteriak .
"Aaa..." Rani kaget bukan main karena saat dia mendongak keatas tiba-tiba saja Sherly melayang turun ke arahnya dan berhenti tepat di atas Rani. Sherly mengambang di udara dan Rani tergeletak di atas tanah, jarak mereka sangat dekat, tanpa Rani sadari darah yang berasal dari lubang mata Sherly menetes jatuh ke pipinya.
"Kita bertemu lagi Rani," Sherly tersenyum dengan sangat lebar membuat koyakan di mulutnya terlihat jelas.