Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
31


"Tapi apa kita gak keterlaluan kalau ninggalin dia di sini sendirian?" Kali ini Rani ikut-ikutan prihatin seperti kakaknya.


"Dia bakalan aman, mereka gak akan melukai tubuh inangnya, tapi jika di biarkan terlalu lama mereka bisa mengambil alih tubuh inang yang dia tempati," jelas Sintia yang masih menatap cemas ke arah lengan Risa yang belum juga di lepaskan oleh Naell.


"Bahaya dong, kita harus keluarin iblis itu dari tubuh dia," Komentar Rani demikian.


"Enggak, sekarang gak ada yang bisa keluarin roh jahat itu. Mending sekarang pergi aja," Sintia yang gelagapan melihat bola mata Naell yang tiba-tiba memerah langsung saja berjalan dengan langkah cepat walau sedikit pincang ke arah Risa.


Dia melirik ke arah Rani, dan berteriak.


"Lemparin pisau di kompas yang lo punya, tepat kenai tangan dia!," kata Sintia sambil meraih lengan Rudi untuk siap-siap keluar dari rumah itu.


"Tapi nanti dia terluka kak, atau mungkin bisa mati?" cemas Rani sambil menarik pedang kecil dari kompasnya.


"Enggak, dia bukan hantu sembarangan, seperti yang gue bilang tadi, dia itu iblis senjata lo gak bakalan mampu bunuh dia, palingan kasih rasa sakit doang," Rani yang mendengar itu agak sedikit ragu melempar pedangnya.


"Cepetan RAN! WAKTU KITA GAK BANYAK!," Teriak Sintia frustasi.


Dan kemudian dengan perasaan setengah tak setuju dia mengayunkan pedang itu hingga tepat menancap di atas punggung tangan Naell.


"ARGH!!," Seiringan dengan Naell yang berteriak kesakitan, Sintia menarik Rudi untuk segera keluar, berbeda dengan Rani yang menarik pedangnya yang menancap di tangan Naell terlebih dahulu.


Dia tak tega, tapi bisa apa? Langkah seribu di kerahkan, mereka pergi dari rumah itu, meninggalkan teriakan yang membuat gaduh rumah yang sepi itu. Tinggal Naell di situ sendirian, bersama Iblis yang bersemayam di tubuhnya.


🐾🐾🐾🐾🐾


"Ini rumah siapa?" Tanya Risa setelah sampai di sebuah halaman rumah yang terlihat minimalis dengan warna biru tua menghiasi setiap inci dinding rumah itu.


Tak terlihat ada bunga di halamannya, hanya ada satu pohon mangga dengan rumput terpotong rapi terhampar di setiap ruang di halaman itu. Membuat nuansa seperti karpet hijau yang alami.


"Mungkin lebih cocok kalau aku bilang ini rumah abang aku, atau... guru? teman? Ah... terserah kalian mau anggap apa," jawab Sintia tak memuaskan ketiga telinga yang mendengarkan.


"Asslamualaikum kak," Sintia mengetuk pintu itu tiga kali.


Di susul Rudi yang langsung duduk di sebuah kursi yang ada di teras, sedangkan Risa dan Rani memilih menunggu siapa yang akan keluar dari sana.


"Waalaikumsalam," pintu terbuka tanpa suara, berarti pintu ini bagus.


Dia mengenal orang itu, si guru ramah yang mengajar pelajaran agama Islam di sekolahnya.


"Ada Rani? Eh sama kakaknya juga, kalian kenal Sintia?" telunjuknya berpindah-pindah dari Rani, Risa lalu berakhir di Sintia.


"Hmm.. kami temenan," jawab Sintia singkat.


Membuat Risa agak sedikit terheran-heran, bukankah Sintia perempuan yang humoris? kenapa jadi sedingin itu?


"aa... gitu toh,"


"Yang di sapa mah cewek aja, yang cowok anggap aja patung yang bernafas, ya kan?" Sindir Rudi kesal, saat tak di lirik atau pun di sapa si pemilik rumah.


"Eh maaf dek, gak kelihatan"


"Udah minus tu mata? Sampai orang segede ini gak kelihatan," sindiran Rudi ternyata belum berakhir.


" Rud!," Tegur Risa saat melihat adiknya ceplas-ceplos begitu saja.


"Iya iya... aku diam," kata Rudi sambil menutup mulutnya rapat-rapat.


"Langsung to the point aja atau basa-basi dulu di depan rumah kakak? Ini kaki udah mulai pegel tau...." okeh, Risa sekarang makin yakin kalau Sintia itu gak punya rasa segan-segannya.


"Oh iya, masuk dulu," Ahmad tersenyum canggung.


Sepertinya dia belum terbiasa dengan sikap Sintia yang kalau sekali ngomong rasanya pedes banget.


"Ada apa nih?" Tanya Ahmad setelah memastikan menaruh empat cangkir teh yang masih berasap di depan para tamu tak di undangnya itu.


"Bantu gue, ada roh yang gak bisa bue lawan. Tolong bantu keluarin dia, kakak bisa kan?" Tanpa nada melas anak itu bicara dengan santainya kepada Ahmad.


"Wah... kalau kamu udah minta bantuan aku, berarti ini masalah udah besar banget ya? Apa sama dengan kejadian beberapa tahun lalu?" Tanya Ahmad yang di anggukkan oleh Sintia.


"Okeh, aku bantu, kita berangkat sekarang, sebelum iblis itu menyesuaikan diri dengan tubuh inangnya," tanpa bertanya pada keempat orang itu, dia berdiri begitu saja, memaksa mereka juga ikut-ikutan berdiri tanpa sempat menyentu teh yang masih mengeluarkan asapnya.