Petaka Di Rumah Tua

Petaka Di Rumah Tua
Ocha Pulang


"Kau mengganggu ku! Kau menggoda Dimas! Kau mendekatinya! Kau harus tau! Dimas itu punyaku Sialan!," Suara Ocha menggelegar dan bergema. Itu pertanda bahwa tempat ini ada ujungnya. Tempat ini hanya sebuah ruangan yang berbentuk hutan. Ada dinding pembatas diantara mereka dan dunia yang nyata.


"Aku tak pernah menggoda atau pun mendekati Dimas! Dia bukan tipe ku! Jangan salah paham," Risa ingin menangis.


Karena pisau itu semakin dekat ke wajahnya, tinggal di dorong sedikit saja, maka pisau itu akan mendarat kasar di mukanya.


"Ocha, kau salah paham, itu tidak benar," entah kenapa sekarang Dimas seperti sedang membujuk sang pacar yang sedang curiga. Padahal mereka tak punya hubungan spesial apapun.


"Hee... benarkah? Kau bahkan lebih peduli dengan gadis ini, dari pada denganku yang lebih lama mengenalmu? Hahahah... Aku lupa, bukankah kau membenciku, kau selalu menyuruhku menjauh dari mu kan?" Risa merasa sakit, entah kenapa dia bisa merasakan yang di rasakan Ocha.


Padahal dia belum pernah suka dengan siapa pun, belum mengenal seperti apa cinta itu. Bukannya Risa tak normal, tapi emang pada dasarnya dia itu tak mudah menaruh hati pada siapapun, baginya semua teman, tak ada yang spesial.


Contohnya saja Kelvin, sampai sekarang dia hanya menganggap kelvin itu sahabat, tak lebih!. Padahal Kelvin begitu perhatian dan peduli padanya. Kelvin sudah menunjukkan betapa dia menyayangi Risa, tapi Risa masih dengan keluguannya. Dia tak juga kunjung peka. Dan Kelvin tak juga berani mengutarakan rasanya dengan pernyataan resmi.


Sungguh na'asnya hubungan mereka, yang cowok diam sedangkan si cewek gak peka. Jika terus seperti itu, sampai ayam beranak monyet pun takkan pernah bersama.


"Aku.... Aku, sebenarnya...," Dimas menggantung katanya.


Ada hal yang ingin di sampaikan tapi tak bisa keluar, bahkan lewat di tenggorokan pun begitu malu.


Apalah serumit dan sesusah ini menyatakan cinta?


"Apa Mas? Ngomong yang jelas," tubuh Ocha menggigil menahan tangis. Rani bisa lihat itu.


Sedangkan Risa, masih berkelana dalam pikirannya tentang apa yang di rasakan Ocha saat ini. Bagaimana cara membantu Ocha agar bisa kembali ke alamnya?


"Aku gak tau gimana bilangnya, ini semua salah aku Cha, aku terlalu mengedepankan gengsiku, aku terbiasa menyuruhmu pergi jauh, namun malangnya aku tak bisa melihatmu pergi. Cha mungkin ini kedengaran lebay, tapi... Aku benar-benar tak mengerti dengan hati ku sendiri. Aku benar-benar tak terima kau sudah pergi, aku tak terima kau menghilang begitu saja. Aku... aku mau kau tetap di sini, tapi aku tau, kita sudah beda alam," Ocha menangis.


Risa bisa melihat air mata yang menetes melewati mata Ocha. Hantu punya air mata juga ya?


"Aku akan pulang Mas, tapi sampai aku mendapatkan hal yang aku inginkan," pisau itu akhirnya menjauh juga dari muka Risa.


Risa bernafas lega, dia langsung memeluk adiknya. Tunggu! Dimana Sherly? Mata Risa mencari keberadaan hantu si mulut lebar itu dan dia menemukan hantu itu.


Tanpa rasa takut dia melotot ke arah Sherly, Sherly yang tak mengerti kenapa Risa tiba-tiba marah padanya hanya menganggkat bahu tak paham.


Risa mendengus kesal. Dia benar-benar mulai ragu dengan hantu itu.


Aku hampir di bunuh dan dia diam saja tanpa mau menolong, itu hantu mau aku jadi dia apa?


Gerutu Risa yang sangat ingin mengumpat kepada Sherly itu.


"Apa yang kamu inginin Cha?"


"Gimana perasaan kamu ke aku mas?" mata Dimas membulat dia menatap ke arah Cika yang langsung mengangguk semangat sebagai tanda lebih baik dia sampaikan saja perasaannya yang sebenanya.


"Aku... aku..." lidah Dimas bahkan masih begitu kaku mengucapkan kata cinta.


"Apa kau mencintaiku mas?" Dimas memejamkan matanya mendengar pertanyaan dari Ocha.


"Iya Cha, maafin aku baru sadar sekarang sama perasaan ku sendiri." Ocha tersenyum mendengar itu, dalam sekejap pisau di tangan Ocha hilang begitu saja.


Perlahan-lahan tubuh Ocha menjadi butiran pasir yang terbang terbawa angin, semua mata terpana menatap itu. Bukan hanya terpana tapi juga maulai berlinangan air mata. Gadis itu akan pulang, cintanya yang tulus ikut pergi bersamanya. Meninggalkan orang yang di cintai di sini. Air mata menetes saat wajah itu berubah menjadi wajah Ocha yang cantik, saat rambutnya berubah menjadi butiran pasir. Dimas kehilangan keseimbangan, untung saja Denis dengan cepat menahan tubuh abangnya itu.


WUUUSH....


Angin berhembus kuat membuat beberapa rambut tertiup, mata terpejam karena butiran pasir itu menghantam mata mereka. Ocha telah pulang, pulang bersama angin yang berhembus kencang.