Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Menjadi Pria Single


Tidak puas dengan jawaban Thalia, sekaligus ingin bertemu dengan putrinya, Alexander segera meluncur ke penthouse milik Moohan. Dia tidak memedulikan Sarah yang tengah berkemas dengan menekuk wajah. Alexander juga tidak berpamitan dengan sang mama, yang mungkin saja saat ini hati Nyonya Grace masih belum bisa menerima keputusannya.


Alexander melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga tidak butuh waktu lama, pria itu telah tiba di area parkir gedung bertingkat tersebut. Alexander segera memacu langkah menuju lift untuk naik ke lantai teratas. Setibanya di lantai yang dituju, dia mengetuk pintu hunian Thalia dengan tidak sabar.


"Ale, silakan masuk." Thalia yang membukakan sendiri pintunya untuk sang tamu, mempersilakan dengan ramah. Wanita cantik itu lalu membawa Alexander menuju ruang keluarga, di mana di sana sedang berkumpul Moohan beserta putri dan putranya, juga sang mama.


Ada juga sekretaris Thalia di sana, entah apa yang dia lakukan di hari libur seperti ini. Ameera tersenyum manis melihat kedatangan Alexander. Pria yang sudah lama dia kagumi.


"Nyonya, apa kabar?" sapa Alexander ramah seraya tersenyum pada ibu mertua dari Thalia.


"Kabar baik, Nak Ale. Terima kasih," balas Nyonya Brenda membalas sapaan Alexander dengan tersenyum hangat. "Bagaimana kabarmu, Nak?" tanyanya kemudian dengan tatapan lembut seorang ibu, membuat Alexander merasa disayangi.


"Saya juga baik, Nyonya. Hanya saja, ada sedikit masalah," balas Alexander berterus terang.


"Duduklah, Nak. Kita bisa ngobrol dengan nyaman," ajak Nyonya Brenda yang sudah menganggap mantan suami Thalia itu layaknya keluarga.


Sebelum duduk, Alexander mendekati sang putri yang tengah asyik bermain barbie bersama Ameera. "Hai, Sayang," sapa Alexander.


"Princess, ayo peluk Daddy Ale," ujar Moohan yang duduk tidak jauh dari Princess sambil memangku baby King.


Mendengar Moohan menyebutkan dirinya sebagai daddy, Alexander menatap suami Thalia. Moohan yang mengerti arti tatapan pria yang pernah bertahta di hati sang istri, tersenyum. "Kita harus mulai membiasakan dia sejak masih dini, Ale. Dan aku tidak masalah karena kamu memang ayah kandungnya."


"Daddy?" tanya Princess seraya mendongak menatap Daddy Moohan, seolah menuntut penjelasan. Ekspresi gadis kecil itu sangat lucu dan menggemaskan hingga membuat Alexander reflek memeluknya.


"Iya, Sayang. Ini daddy, Princess memiliki dua daddy," terang Alexander kemudian, setelah melepaskan pelukannya. Pria itu menatap dalam netra bulat putrinya.


"Daddy. Daddy," tunjuk Princess pada kedua pria tampan tersebut dan keduanya mengangguk bersama.


Thalia yang melihat semua itu, merasa lega. Begitu pula dengan Nyonya Brenda. Dia merasa senang karena sang putra dapat bersikap bijaksana.


"Ale, apa maksud ucapan kamu di telepon tadi?" cecar Thalia setelah Alexander duduk tidak jauh dari Moohan, sambil memangku sang putri.


Thalia yang duduk di hadapan kedua pria yang memangku kedua buah hatinya dari dua pria tersebut, tersenyum dalam hati. Senantiasa ada hikmah yang dapat dipetik dari setiap kejadian pahit yang dia lalui. Thalia bersyukur karena akhirnya mereka semua dapat dipertemukan dan tidak ada perselisihan yang mengiringi.


"Seperti yang aku katakan tadi, Tha. Princess putriku dan aku juga ingin memberikan yang terbaik untuknya," balas Alexander seraya mencium puncak kepala sang putri, penuh rasa sayang.


Kebahagiaan kini terpancar jelas dari netra tajam Alexander. Tidak seperti ketika pertama datang tadi. Masalah di rumah yang tidak kunjung selesai, membuat hati Alexander merasa lelah. Pertemuannya dengan sang putri kandung saat ini, telah mampu mengobati semua keletihan yang dia rasakan.


"Dan kami tetap tindak setuju seperti yang sudah aku sampaikan tadi. Bukan begitu, Dad?" Thalia menatap sang suami dan Moohan mengangguk setuju.


Ya, sejak Thalia menjabat sebagai orang nomor satu di perusahaan, Ameera telah banyak membantunya. Ameera yang sudah lama bekerja pada Alexander, tentu mengetahui banyak tentang perusahaan. Tidak jarang, Thalia menyuruh sekretarisnya itu untuk datang ke penthouse untuk membicarakan masalah pekerjaan.


Seringnya Ameera berkunjung dan karena keramahan wanita muda itu, membuat Nyonya Brenda menyukainya. Begitu pula dengan Princess yang kemudian nampak lengket dengan Ameera. Thalia yang sudah mengenal Ameera cukup lama meskipun mereka berdua jarang bersinggungan karena Alexander hampir tidak pernah mengajaknya ke kantor, tidak masalah dengan kedekatan mereka.


Di mata Thalia, Ameera adalah wanita yang baik. Dia juga bertanggungjawab, terbukti dia bekerja dengan sangat baik dan tidak terpengaruh dengan mantan asisten Alexander. Ameera tetap teguh dengan pendiriannya meskipun mendapatkan iming-iming uang yang banyak dari Lucas.


"Kenapa, Tha? Bukan hanya kalian, aku juga ingin membahagiakan putriku!" tegas Alexander, menatap Thalia dan Moohan bergantian.


"Bukan dengan cara memberikan semua hartamu, Ale!" balas Thalia, tidak kalah tegas. "Kamu masih muda, Ale. Masa depan kamu masih panjang. Bisa jadi, setelah ini kamu akan menemukan seseorang yang cocok lalu kalian menikah dan memiliki anak," lanjut Thalia seraya melirik Ameera. Ya, Thalia sudah tahu kalau Ameera sudah lama memendam perasaan pada mantan suaminya.


Nyonya Brenda yang sedikit banyak mulai dapat menangkap arah pembicaraan mereka, menganggukkan kepala. Wanita anggun itu setuju dengan ucapan sang menantu. Nyonya Brenda lalu menepuk pelan punggung tangan Ameera seraya tersenyum. "Saya do'akan yang terbaik untuk kalian," bisiknya, membuat pipi Ameera merona.


Alexander geleng-geleng kepala. Dia lalu menghela napas panjang. "Setelah semua yang terjadi, sepertinya aku memilih fokus untuk mengurus perusahaan Aleetha. Maksudku, perusahaan Princess," kekeuh Alexander.


"Hidup harus terus optimis, Ale! Gagal untuk saat ini, bukan berarti kamu tidak akan beruntung dalam urusan rumah tangga di masa depan." Moohan mencoba memberikan support untuk teman barunya itu.


"Apa yang dikatakan oleh Thalia tadi benar, Ale. Jika memang kamu ingin memberikan saham untuk Princess, silakan saja karena itu memang kewajiban kamu sebagai seorang ayah. Namun, jangan semuanya. Alihkan saja sebagian agar jika kamu sudah memiliki keluarga baru nanti, mereka tidak merasa iri dengan putri pertamamu itu," lanjut Moohan memberikan masukan.


Alexander masih menggeleng-gelengkan kepala. "Entahlah, aku tidak pernah berpikir untuk menikah lagi setelah ini. Semua orang di sekitarku selama ini ternyata bermuka dua!" Wajah mantan suami Thalia itu kembali terlihat kesal.


"Aku tahu kamu itu tipe pria yang setia, Ale. Kamu tidak mau melirik wanita lain, meskipun wanita itu selalu ada di dekatmu. Sehingga kamu tidak pernah tahu bahwa ada wanita baik yang menyukaimu sejak dulu." Thalia kembali melirik Ameera seraya tersenyum.


Mendengar perkataan sang mantan istri, Alexander mengerutkan dahi. Pria itu lalu terkekeh. "Jangan mengada-ada, Tha. Tidak ada wanita yang dekat denganku selain Bibi Maggie dan Amee ...." Alexander menghentikan ucapannya, tatapannya lalu tertuju pada sang mantan sekretaris.


Alexander kembali menggelengkan kepala. "Tidak mungkin wanita itu adalah Ameera, kan?" tanya Alexander yang kembali menatap sang mantan istri dan Thalia menganggukkan kepala.


"Wanita itu Ameera, Ale. Dia wanita yang baik dan aku yakin itu. Sudah sejak lama dia menyukaimu, tapi dia tidak pernah berusaha untuk merebutmu dariku, juga dari Sarah. Dia pendam sendiri perasaannya hingga tidak ada seorangpun yang tahu," terang Thalia, membuat Ameera menundukkan kepala karena rahasianya telah dibongkar di hadapan sang pria pujaan.


Alexander kembali menghela napas panjang. "Haruskah aku percaya, jika di dunia ini masih ada wanita yang tulus selain kamu, Tha?" Suara Alexander terdengar putus asa.


Kepercayaan Alexander terhadap wanita hampir pudar karena ulah orang di sekelilingnya yang tidak benar. Sang mama yang serakah dan ingin menguasai semua hingga tega mengorbankan kebahagiaan Alexander. Sang adik tiri yang manipulatif, bersama Lucas tega menusuknya dari belakang. Lalu menikah dengan Sarah yang semaunya sendiri tanpa pernah memikirkan perasaan Alexander.


"Jika Tuan Muda Thompson mengizinkan, saya akan buktikan kesungguhan hati saya." Suara merdu Ameera, mengurai lamunan Alexander. 'Kali ini, saya harus berjuang untuk bisa mendapatkan Anda, Tuan, karena Anda sudah kembali menjadi pria single.'


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.