
Kekhusyukan begitu terasa di dalam gereja tempat Zack mengikrarkan janji suci bersama Maria. Pria itu mencium bibir wanita yang saat ini telah resmi menjadi istrinya, baik di mata hukum maupun di mata agama. Binar bahagia nampak jelas menghiasi wajah keduanya.
"Aku mencintaimu, Love," bisik Zack setelah ciuman yang dalam itu terlepas.
Maria tersenyum manis. "Aku juga sangat mencintaimu, suamiku."
Usai acara sakral tersebut, Zack bersama sang istri kemudian mendekati Nyonya Brenda. Pria itu lalu memeluk sang mama angkat dengan pelukan erat. "Terima kasih, Ma. Terima kasih atas kasih sayang dan segala yang telah Mama berikan padaku," ucapnya dari dalam lubuk hati yang terdalam. Asisten pribadi Moohan itu bahkan sampai menangis.
Nyonya Brenda mengusap punggung sang anak angkat. "Tidak perlu bicara seperti itu, Nak. Kamu putra mama. Kamu saudara Hendrick, Zack. Mama bahagia jika melihat kalian berdua bahagia." Wanita paruh baya itu lalu mengusap air mata putra angkatnya.
Melihat sang asisten meneteskan air mata, Moohan ikut memeluk keduanya. "Hai, brother. Jangan melo!" cibirnya tapi dengan netra yang juga berkaca-kaca.
Thalia dan Maria yang melihat Nyonya Brenda berada dalam pelukan kedua pria kesayangan, terharu dan ikut menitikkan air mata. Tentunya air mata bahagia. Keduanya kemudian saling memeluk.
"Kita akan menjadi saudara selamanya, Maria," ujar Thalia seraya tersenyum, setelah melerai pelukan dan Maria menganggukkan kepala.
Nyonya Brenda kemudian memeluk Maria, setelah Moohan dan Zack melepaskan pelukan. "Bertambah satu putri mama. Semoga pernikahan kalian langgeng dan bahagia selalu, Nak," do'anya dengan tulus.
Zack dan Maria mengaminkan, diikuti oleh Moohan dan Thalia. Nyonya Brenda lalu menyatukan tangan Maria dan Zack. "Dalam keadaan apa pun, tetaplah saling menggeleng erat," pesannya kemudian.
"Pengingat untuk kalian juga, Hendrick, Thalia," lanjut Nyonya Brenda seraya menatap sang putra dan menantu kesayangan.
Moohan dan Thalia menganggukkan kepala, serempak. "Iya, Ma. Nasehat dari Mama akan kami ingat selalu," balas Moohan yang kemudian merangkul pundak sang istri.
Acara yang mengharu biru itu pun berakhir. Mereka semua kemudian segera meninggalkan gereja. Zack berada di mobil pengantin bersama sang istri, sementara Moohan dan keluarganya di mobil lain.
Iring-iringan dua mobil mewah itu pun berakhir di halaman mansion. Mereka semua kemudian masuk ke dalam. Nyonya Brenda langsung pamit untuk beristirahat karena masih lelah setelah perjalanan cukup jauh dan tadi harus mengikuti prosesi acara pernikahan Zack dan Maria.
Terpaksa, Zack mengikuti kemauan Moohan meski dengan menggerutu. "Kayak enggak ada waktu lain aja, sih!"
"Jangan ngomel, Zack! Jangan bilang kalau aku mengganggu kesenanganmu! Karena semalam pun kamu sudah bersenang-senang dan aku yakin, tadi pagi sebelum kami datang kamu juga pasti sudah menabur benih di rahim Maria!" Perkataan Moohan membuat Zack tersenyum dikulum.
"Baru jadi asisten satu minggu, tapi instingmu sebagai paranormal sudah terasah tajam, Hendrick," balas Zack, membuat Moohan sangat kesal.
"Sialan! Nyamain aku dengan paranormal!" ujar Moohan, kesal. "Aku pastikan, dalam waktu dekat aku akan rebut kembali kedudukanku di sini!" lanjutnya, membuat Zack mengerutkan dahi.
Asisten pribadi Moohan itu lalu mendudukkan diri di kursi yang berada di seberang meja kerja sang atasan. "Memangnya, misi kalian sudah berhasil?" tanyanya, kemudian.
"Sepertinya begitu, Zack. Alexander sudah menyadari kesalahannya dan Thalia bermaksud menyerahkan kembali kepemimpinan perusahaan pada mantan suaminya." Moohan lalu menegakkan punggung.
"Hanya saja, saat ini dia masih disibukkan dengan urusan keluarga yang kacau. Aku khawatir juga jika kembali menyerahkan kepemimpinan pada Alexander. Khawatir, dia akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab seperti Lucas," terang Zack, panjang lebar.
"Kacau balau gimana, maksudnya? Apa karena ulah Sarah?" tebak Zack.
Moohan menggeleng. "Bukan hanya tentang Sarah, tapi mama dan adiknya Alexander." Moohan lalu menceritakan tentang kondisi keluarga mantan suami Thalia yang memprihatinkan.
Zack menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi mamanya itu maling teriak maling? Dia yang berbuat, dia pula yang menuduh orang lain?"
"Begitulah," balas Moohan. "Oh ya, Zack. Mengenai Sarah. Kenapa tadi pagi kamu mengatakan bahwa Nyonya Grace dan Sarah, ada kongkalikong?" Moohan menatap sang asisten pribadi, menyelidik.
"Aku belum tahu pastinya, Hen. Orang kita masih menyelidiki kebenaran informasi yang didapat tentang Sarah," balas Zack, membuat Moohan semakin penasaran.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.