
Semua telah bersiap untuk berangkat ke gereja. Seluruh penghuni mansion mewah tersebut nampak turut berbahagia dengan kebahagiaan yang dirasakan oleh sang tuan muda. Para asisten rumah tangga itu sangat senang dengan kabar pernikahan tuan mudanya.
Mereka semua ikut melepas kepergian kedua calon mempelai di halaman mansion yang luas dengan melambaikan tangan dan senyuman yang mengembang. Para asisten yang sudah lama mengabdi pada keluarga Moohan tentu sangat gembira karena pilihan tuan mudanya jatuh pada wanita yang bersikap baik seperti Thalia. Tidak seperti kebanyakan wanita yang biasanya dibawa pulang oleh sang tuan muda, yang kebanyakan sombong dan arogan.
Iring-iringan empat mobil mewah itupun segera melewati pintu gerbang yang menjulang. Mobil pertama adalah mobil milik Paman Hilbert yang sengaja datang jauh-jauh dari kota sebelah untuk menghadiri pernikahan sang keponakan yang sudah lama dinanti. Paman Hilbert adalah adik kandung papanya Moohan, Mack Moohan.
Mobil kedua adalah mobil pengantin. Nyonya Brenda ikut di dalam mobil tersebut dan duduk di depan, di samping Pak Lee yang juga disuruh datang ke pernikahan Moohan dan Thalia. Berikutnya mobil yang ditempati oleh baby sitter dan anak-anak.
Asisten Zack yang mengendarai mobilnya sendiri, memilih menjalankan mobilnya paling belakang. Sekaligus untuk menjaga Moohan dan anak-anak. Di dalam mobilnya, hanya ada Maria yang duduk di samping Zack dan terus mengulas senyuman.
"Kamu bahagia sekali, Love," ujar Zack seraya menoleh ke arah sang kekasih yang masih mengulas senyuman.
"Tentu saja, Sayang. Aku tidak menyangka, kesabaran Thalia selama ini akan berbuah manis. Aku ingat betul ketika dia pertama kali datang ke kontrakan. Kondisinya sungguh memprihatinkan." Wajah Maria tiba-tiba berubah menjadi sendu.
"Sudah-sudah. Aku tidak mau lagi mendengar cerita sedih itu. Sekarang, Thalia sudah bahagia dan itu berkat kamu juga, Sayang. Kamu yang membawa Thalia ke perusahaan dan akhirnya bertemu dengan Hendrick." Zack mengambil tangan Maria lalu mengecup punggung tangan sang kekasih.
"Dan kamu yang secara tidak langsung telah memaksa mereka berdua untuk bersama karena obat setan itu!" timpal Maria dan Zack tersenyum kecut, teringat dengan kejadian kala itu yang justru membuat Thalia sangat marah dan membenci Moohan.
"Yang penting, mereka berdua sudah menemukan kebahagiaannya sekarang. Sebentar lagi, kita juga akan segera menyusul." Zack mengusap lembut puncak kepala Maria dan kekasih Zack itu kembali tersenyum.
Maria lalu menjatuhkan kepala di bahu Zack. "Aku berharap, kebahagiaan yang aku dan Thalia rasakan bukanlah kebahagiaan semu, Zack," gumamnya.
Zack menggelengkan kepala meskipun sang kekasih tidak dapat melihatnya. "Tidak, Love. Aku mencintaimu dengan tulus dan akan selamanya seperti ini." Zack mencium puncak kepala kekasihnya, membuat maria tersenyum bahagia.
"Kamu sudah tahu masa laluku dan aku pun sudah tahu masa lalu kamu, Love. Aku tidak mau apa yang aku alami dulu, dialami juga oleh anak-anak kita. Aku ingin anak-anak kita nanti tumbuh besar dalam sebuah keluarga yang lengkap, tidak seperti kita berdua yang besar di keluarga broken hingga harus hidup menjadi gelandangan," lanjut Zack dengan tatapan menerawang jauh.
Pria tampan bermata biru itu menghela napas panjang. "Aku beruntung, Love, karena Hendrick menemukan aku dan membawaku pulang ke mansion. Itu sebabnya aku sangat sayang pada Hendrick dan menganggap dia seperti adikku sendiri," imbuh Zack.
Maria mendongak lalu melabuhkan ciuman di pipi sang kekasih. "Aku akan selalu mendukungmu untuk melindungi keluarga Hendrick dan Thalia karena bagiku, Thalia adalah keluargaku. Aku juga berhutang budi pada Hendrick. Dia yang membawaku kemari karena Thalia," ujar Maria, membuat Zack tersenyum.
"Andai kita tidak sedang mengantarkan mereka ke gereja, Love. Aku pasti akan membawamu ke suatu tempat lalu ...."
"Lalu apa, hem? Apa kamu mau ini?" Maria yang sudah menjauh dari Zack sengaja menggigit bibir bawahnya yang seksi, menggoda sang kekasih hati.
"Love, kamu ... ck!" Zack yang sudah kecanduan dengan bibir Maria berdecak kesal karena dia tidak bisa menikmati manisnya bibir Maria saat ini.
Sementara di mobil pengantin, Moohan membukakan pintu untuk sang calon istri. Pria tampan itu lalu menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam gereja. Mereka berdua disambut oleh suster gereja lalu dibawa menuju ke tempat yang telah disediakan.
Semua keluarga kemudian menempatkan diri di bangku yang telah tertata dengan rapi di dalam gereja. Nyonya Brenda didampingi oleh Paman Hilbert dan Bibi Anne. Princess dan King juga berada di sana, dipangku oleh baby sitter masing-masing.
Pak Lee dan sopir keluarga Moohan juga nampak duduk di sana. Setelah beberapa saat, Zack dan Maria menyusul masuk ke dalam gereja lalu duduk di deretan bangku depan. Sementara Thalia dan Moohan yang duduk di bangku khusus, menanti dengan hati berdebar.
Tepat pukul sepuluh waktu setempat, prosesi acara pernikahan Moohan dan Thalia pun berlangsung. Satu per satu acara berjalan dengan lancar dan sangat khidmat. Moohan lalu mengucapkan janji nikah.
"Kamu telah menjadikan aku pria yang paling bahagia di dunia saat ini dengan setuju untuk berbagi hidupmu denganku, Thalia. Aku berjanji untuk menghargai dan menghormatimu. Aku berjanji akan menjagamu dan melindungimu. Aku berjanji untuk menghiburmu dan mendukungmu. Aku berjanji akan bersamamu sekarang dan selamanya."
Thalia menitikkan air mata, mendengar janji suci yang diucapkan Moohan. Janji suci yang bukan pertama kali dia dengar. Namun, kali ini kata demi kata yang diucapkan oleh pria yang saat ini berada di sampingnya, terdengar begitu menggetarkan hatinya.
Kini giliran Thalia yang mengikrarkan janji suci di hadapan pendeta dan keluarga yang hadir. Moohan menyeka air mata Thalia dengan ibu jarinya, sebelum sang kekasih hati mulai berikrar suci. Thalia tersenyum lalu mulai membuka suaranya.
"Aku begitu mencintaimu, Hendrick. Aku tidak hanya berjanji bahwa cintaku untukmu akan tumbuh setiap hari, tetapi aku berjanji untuk menjadi teman dan mitramu di setiap langkah kita. Aku akan ada untukmu, siang atau malam, dalam kaya atau miskin, dalam sakit dan sehat. Aku mempercayai, menghargai, dan menghormatimu. Aku berjanji untuk berbagi denganmu harapan dan impianku saat kita membangun hidup kita bersama. Kamu, cintaku, adalah segalanya bagiku."
Moohan tersenyum bahagia hingga tanpa terasa bulir bening jatuh dari sudut netranya. Buru-buru, dia susut air mata tersebut. Moohan lalu menuntun Thalia berlutut di hadapan pendeta dan pria berusia paruh baya yang merupakan pendeta di gereja tersebut, kemudian memberkati kedua mempelai.
"Semoga Tuhan memperteguh janji yang telah kalian nyatakan di hadapan gereja dan berkenan melimpahkan berkat-Nya kepada kalian berdua. Yang telah dipersatukan Allah janganlah diceraikan manusia."
Pendeta kemudian menutup dengan doa-doa kebaikan untuk ke-dua mempelai dan juga untuk semua jemaat yang hadir.
Moohan lalu menyematkan cincin pernikahan yang dibeli semalam, di jari manis Thalia. Pria tampan itu kemudian mengecup punggung tangan sang wanita. Thalia pun melakukan hal yang sama dan mencium punggung tangan pria yang saat ini telah sah menjadi suaminya dengan begitu lama.
Selanjutnya, Moohan membuka veil yang menutupi wajah wanita cantik yang kini telah resmi menjadi istrinya. Pria tampan itu tersenyum. Pendeta kemudian berkata, "Semoga kalian selalu memandang dengan wajah penuh cinta."
"Time to kiss wedding, Honey," bisik Moohan dengan senyum kebahagiaan. Suami Thalia itu lalu mencium bibir istri cantiknya. Ciuman yang hangat dan lama. Thalia membalasnya dengan sepenuh hati hingga dehaman pendeta, menghentikan ciuman keduanya.
"Silakan dilanjut nanti, Tuan, Nyonya." Pendeta tersebut tersenyum, sementara semua yang hadir tertawa bahagia.
☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.