
Keluarga kecil Moohan tengah bersiap untuk terbang menuju ke kota asal pria tampan itu. Kedua buah hati mereka berdua sudah didandani dengan rapi oleh baby sitter yang dibantu sang asisten rumah tangga. Nyonya Brenda juga nampak sudah siap.
"Kita berangkat jam berapa, Hen? tanya Nyonya Brenda usai mereka menikmati sarapan.
"Kalau semuanya sudah siap, ayo, kita bisa berangkat sekarang. Pesawatnya juga sudah siap dari tadi, Ma," ajak Moohan yang kemudian segera beranjak, diikuti sang istri.
"Sus. Keperluan anak-anak, sudah semua?" tanya Moohan ketika mereka sudah berada di ruang keluarga.
Moohan memang selalu menomorsatukan kepentingan anak-anaknya. Hal itu membuat Thalia tersenyum bahagia. Dia benar-benar suami idaman meskipun di awalnya, hubungan mereka berdua diwarnai dengan noda.
"Sudah, Tuan Muda. Stok Asi untuk Baby King juga sudah saya simpan dalam cooler bag," terang pengasuh King seraya menunjuk tas bayi dan tas ransel kecil yang berisi mainan kesukaan Princess.
"Pakaian anak-anak juga sudah mama siapkan tadi," imbuh Nyonya Brenda yang menyiapkan sendiri pakaian untuk cucu-cucu kesayangannya.
"Terima kasih, Ma," ucap Thalia, tulus. Wanita cantik itu lalu memeluk bahu sang mama mertua.
Nyonya Brenda mengusap lembut pipi Thalia, seraya tersenyum. "Sama-sama, Sayang. Mereka berdua cucu mama, penyemangat mama."
"Ma. Sudah, jangan pegang-pegang pipi istriku terus!" protes Moohan pura-pura cemburu pada sang mama dengan mengerucutkan bibir. Sejujurnya, dia sangat bahagia melihat kedekatan sang istri dan mamanya.
Nyonya Brenda terkekeh. "Ya ampun, Hen. Masak sama mama cemburu! Sudah, yuk, kita keluar!" Sang mama malah semakin posesif pada Thalia.
Wanita paruh baya itu tidak melepaskan tangan Thalia walau sebentar saja. Dia genggam terus tangan sang menantu yang telah merebut perhatian Nyonya Brenda, di awal mereka berjumpa. Itu semua membuat Moohan kalang kabut sendiri. Sebab, dia tidak terbiasa berjalan tanpa menggandeng tangan sang istri.
Mereka semua segera menaiki mobil. "Mama depan saja ya, Ma. Biar Princess sama aku," pinta Moohan yang pengin duduk berdekatan dengan istrinya.
Sang mama menganggukkan kepala lalu segera mesuk ke dalam mobil. Moohan lalu duduk di samping sang istri, memangku Princess. Sementara baby sitter dan asisten rumah tangga, duduk di bangku belakang.
Mobil yang dikendarai Pak Lee segera melaju membelah jalanan beraspal. Membawa Moohan dan keluarga kecilnya menuju bandara. Mereka semua akan menghadiri pernikahan Zack dan Maria.
Setelah menempuh perjalanan cukup panjang lewat jalur udara, mereka tiba di landasan pacu pesawat pribadi Moohan yang terdapat di belakang mansion tepat pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Masih ada waktu setengah jam, bagi mereka untuk bersiap datang ke gereja. Moohan lalu menuntun sang istri yang nampak sedikit syok untuk masuk ke dalam mansion.
"Apa yang kamu rasakan, Sayang? Apakah pusing?" tanya Moohan sambil memapah istrinya.
Thalia mengangguk, lemah. "Iya, Dad. Perutku juga mual," balasnya.
"Apa jangan-jangan, kamu hamil lagi, Sayang?" tebak Moohan seraya tersenyum.
Thalia mencubit pelan perut rata suaminya. "Enggak mau, Dad! Mereka masih kecil-kecil. Aku juga belum puas menyusui King."
"Kamu benar, Sayang. Jangan hamil dulu karena setelah King puas menyusu, aku pun ingin puas menikmatinya dulu," ujar Moohan seraya mencuri remasan di dada istrinya, membuat Thalia cemberut karena kesal.
"Daddy! Bisa-bisanya mencuri kesempatan di saat seperti ini!" protesnya kemudian seraya mendudukkan diri sofa ruang keluarga.
Ya, Thalia memilih mengistirahatkan diri sebentar di sofa agar tidak kebablasan tidur jika istirahat di dalam kamar. Dia juga menghindari ulah nakal tangan sang suami yang selalu membuatnya terbang dan bisa-bisa nanti mereka tidak jadi menghadiri pernikahan Maria dan Zack. Sebab, jika mereka sudah berduaan di tempat tertutup, selalu muaranya ke sana. Ke puncak Nirwana.
"Thalia, terima kasih kamu datang tepat waktu," sambut Maria yang meminta ijin pada MUA yang meriasnya untuk menemui Thalia teman baiknya terlebih dahulu.
"Andai saja bisa, aku ingin menanggung rasa sakit di kepalamu, Honey," sahut Moohan yang kemudian memijat tengkuk sang istri, membuat Zack yang juga sudah berada di sana, mencibir.
"Enggak usah sok romantis! Dramatis! Puitis!" Zack lalu terkekeh sendiri dengan perkataannya.
"Brengsek kamu, Zack!" Moohan lalu meninju lengan Zack yang duduk di sampingnya.
"Oh, ya, Hen. Semalam, kamu mau bicara apa? Kenapa langsung dimatikan?" tanya Zack kemudian.
"Udah telat! Bikin emosi saja kamu! Di telepon bukannya buru-buru diangkat malah asyik-asyikan berduaan!" kesal Moohan teringat akan kejadian semalam.
Zack terkekeh, sementara Maria tersipu malu.
"Maria. Kamu harus dirias dulu, kan?" Suara Thalia, membuat Maria teringat bahwa dirinya harus segera dirias. Calon istri Zack tersebut segera berlalu, meninggalkan ruang keluarga.
"Kamu tahu, enggak! Semalam, bunyi telepon dari nomor Sarah juga sudah mengganggu kesenanganku," lanjut Moohan, setelah punggung Maria tidak lagi terlihat. Moohan lalu menceritakan kejadian semalam di mana dia harus mencabut miliknya yang lagi tanggung, membuat Zack semakin terkekeh.
"Apes banget, sih, Bos!" ujar Zack di sela tawanya. "Ngapain lagi dia telepon kamu?" lanjutnya bertanya setelah tawa Zack mereda.
"Biasalah, menawarkan diri kalau dia siap kapanpun aku mau," balas Moohan sesuai apa yang dikatakan Sarah.
"Jangan, Hen! Dia sekarang lebih parah dari dulu!" balas Zack, serius.
"Maksud kamu?" Moohan yang masih sambil memijat pelan tengkuk sang istri, mengerutkan dahi.
"Dia di sana masuk jaringan prostitusi kelas atas. Itu informasi yang aku dapatkan tentang Sarah. Anehnya, mama mertuanya sudah lama tahu hal itu, tapi diam saja. Sepertinya, ada kongkalikong antara menantu dan ibu mertua untuk mengelabui Alexander," terang Zack.
"Aku pikir setelah menikah, dia akan menjadi istri yang baik. Di rumah dan melayani suaminya," sesal Moohan yang ikut prihatin dengan cerita kehidupan yang dijalani Sarah.
Bagaimanapun, dia pernah dekat dengan Sarah. Wanita itu juga merupakan salah satu teman kencan kesayangannya yang sering Moohan pakai. Dulu, Sarah tidak seperti sekarang yang sembarangan mau berhubungan dengan setiap pria. Sarah termasuk pilih-pilih dalam hal berkencan dan selama menjalin hubungan dengan Moohan, dia tidak menjalin hubungan dengan pria manapun.
"Dad, apa dia masih istimewa di matamu?" tanya Thalia yang terdengar penuh kecemburuan.
"Tentu saja tidak, Sayang. Tidak ada satupun wanita yang spesial di mataku, setelah kejadian di dalam ruangan pribadiku di kantor, kala itu," balas Moohan, tegas. Dia merasa tersentil karena sang istri seolah meragukan cinta dan kesetiaannya.
"Hanya satu wanita yang spesial di mataku, di hatiku, dan di hidupku, Thalia! Kamu!" Moohan langsung membopong tubuh sang istri dan membawanya menuju kamar.
Zack yang dapat menebak apa yang akan dilakukan oleh Moohan jika sisi pribadinya disentil, berseru, "dua puluh menit lagi kita harus berangkat ke gereja, Hendrick!"
"Ten minutes, Zack! Itu waktu yang cukup bagiku untuk melampiaskan kekesalanku pada istriku!" seru Moohan.
Thalia hanya bisa pasrah dalam gendongan sang suami. Dia akan terima, hukuman apapun yang akan diberikan Moohan padanya. Hukuman yang pasti akan melenakan.
Zack geleng-geleng kepala sendiri. "Dasar, modus! Kasih hukuman, kok, di dalam kamar! Mau ngapain lagi, coba, kalau bukan mau nina ninu!"
☕☕☕ ☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.