Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Spesial Milik King


Waktu terasa begitu lambat berjalan. Malam seolah enggan merangkak pergi meninggalkan muka bumi. Matahari yang dinanti pun terus saja bersembunyi dan malas menampakkan diri.


Kedua sejoli yang sedang dilanda asmara itu tidak dapat memejamkan mata sepanjang malam. Mereka hanya duduk di ranjang yang sama sambil memandangi sang putra yang terlelap. Baby King nampak sangat nyaman dalam tidurnya karena ditemani oleh orang-orang yang sangat menyayanginya.


Tidak ada yang mereka lakukan. Hanya saling menggenggam tangan dan sesekali saling pandang. Mereka berdua seperti dua remaja yang baru mengenal cinta.


Ya, begitulah adanya. Thalia memang wanita pertama yang mampu menggetarkan hati Moohan kala berdekatan. Wanita yang telah mencuri seluruh perhatian dan waktu yang Moohan miliki.


"Honey, tidurlah di sini," pinta Moohan sambil menyandarkan kepala Thalia di bahu kokohnya.


Wanita cantik itu menurut saja. Dia sangat senang dengan sikap Moohan yang selalu mengutamakan dirinya. Pria di sampingnya memang bukan yang pertama di hati Thalia, tapi Moohan telah mampu menyembuhkan luka hati dan membuat Thalia merasa nyaman berada di sisinya.


Menjelang pagi, mereka berdua baru bisa tidur dengan posisi duduk. Thalia masih bersandar di bahu Moohan sementara pria tampan itu menempelkan kepalanya di kepala sang wanita. Sinar mentari yang menerobos masuk melalui celah-celah gorden, tidak mampu membangunkan lelap tidur mereka berdua. Pemandangan hangat tersebut membuat Maria tersenyum lalu segera keluar dari kamar Thalia kembali.


Maria bermaksud membangunkan Thalia karena wanita dua anak itu harus segera bersiap untuk ke acara pernikahannya. Teman baik sekaligus asisten Thalia itu lalu menemui Nyonya Brenda dan mengatakan apa yang dilihat. Nyonya Brenda nampak tersenyum.


"Benarkah? Baiklah, biar aku saja yang membangunkan mereka berdua," tutur Nyonya Brenda yang segera beranjak. "Maria, tolong kamu segera mandikan dan dandani cucuku biar makin cantik," pinta Nyonya Brenda sebelum benar-benar meninggalkan taman belakang, tempat favoritnya bermain bersama cucu.


Maria menganggukkan kepala meskipun Nyonya Brenda tidak dapat melihatnya. Wanita berkulit coklat dan berwajah manis tersebut hendak mengangkat tubuh Princess ketika sebuah suara yang akhir-akhir ini sering dia rindukan, memanggil dan membuat Maria urung menggendong Princess.


"Maria, my sweety."


Maria segera menoleh ke arah sumber suara lalu tersenyum manis pada sang pria yang berjalan mendekatinya sambil membawa sebuah paper bag. Zack lalu mencium pipi Maria, penuh rasa sayang. Asisten Moohan itu juga mengusap puncak kepala Maria, penuh kasih.


"Sayang. Kamu nanti pakai gaun ini ya, di acara pernikahan Hendrick dan Thalia," pinta Zack sambil memberikan paper bag yang dia bawa.


Maria mengintip isinya lalu tersenyum. "Kapan kamu membelinya, Sayang?" tanya Maria.


"Tadi malam, setelah Hendrick memberitahuku jika hari ini mereka akan menikah. Maaf jika aku tidak mengajakmu karena kamu harus menjaga King, bukan?" Zack menatap sang kekasih, meminta pengertian Maria.


"Benar, Sayang. Tidak mengapa, aku bisa mengerti. Lagipula, Nyonya Brenda akan marah jika tidak ada orang kepercayaan yang menjaga Princess dan King meskipun sudah ada baby sitter. Nyonya Brenda sangat sayang pada anak-anak Thalia," ujar Maria.


"Aku memang belum tahu ukuran baju kamu, Sayang, tapi aku yakin gaun itu pasti pas melekat di tubuh seksimu." Zack tersenyum menggoda pada sang kekasih, membuat Thalia tersipu malu.


"Benarkah menurutmu aku seksi, Sayang? Kamu sedang tidak mencoba untuk sekadar menyenangkan hatiku, kan?" tanya Maria, meminta kejujuran dari Zack dan pria berahang tegas itu menggeleng.


"Aku bicara yang sejujurnya, Sayang. Aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Kecantikan wajahmu, body-mu dan terutama, ini ...." Zack tidak meneruskan kata-katanya, tetapi langsung melu*mat bibir Maria.


Awalnya, Maria sangat terkejut dan tidak merespon apa yang dilakukan oleh Zack yang tiba-tiba menyerangnya. Namun, sedetik kemudian Maria membalas ciuman Zack hingga mereka berdua terhanyut dan tenggelam dalam kehangatan cinta. Saling melu*mat, menyesap dan berbelit lidah dengan nikmat.


Rengekan Princess menyudahi kemesraan mereka berdua. Maria tersipu lalu menundukkan kepala karena ini adalah ciuman pertama mereka berdua. Sementara Zack tersenyum lebar.


"Sangat manis dan lembut. Aku pasti akan selalu merindukan momen ini, Love," bisik Zack di telinga sang kekasih.


Suara dehaman Moohan yang baru saja datang, membuat Asisten Zack sedikit menjauh dari Maria karena bos sekaligus sahabatnya itu tidak suka jika Zack bermesraan dengan Maria di hadapan Moohan. Bos TMC itu lalu mendekati putrinya yang sedang duduk di kursi khusus bayi sambil melambaikan tangan ke arahnya. Moohan lalu mengangkat Princess dan menggendongnya.


"Sayang. Apa Paman Zack dan Bibi Maria mengabaikan kamu?" sindir Moohan seraya melirik sang asisten.


Maria kembali menundukkan wajah. Dia merasa malu karena Moohan pasti melihat ulah mereka berdua tadi. Wanita berwajah manis itu lalu melirik ke arah sang kekasih.


"Benarkah?" tanya Moohan dengan menyipitkan mata. Pria itu paham betul kapan sang asisten berkata sejujurnya dan kapan Zack menutupi sesuatu.


Zack tersenyum. "Habis berbicara, kami berciuman sebentar," lanjutnya yang membuat Maria semakin menunduk, malu.


Zack ikut tersenyum lalu menepuk pundak sang asisten. "Segera daftarkan pernikahan kalian karena tiket bulan madu kalian sudah aku siapkan," ujarnya sambil berlalu dengan menggendong Princess.


Asisten pribadi Moohan itu masih mematung, tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang bos. Begitu pula dengan Maria yang membuka mulutnya lalu menutupi dengan kedua tangan. Mereka berdua lalu saling pandang dan tersenyum bahagia.


Zack segera mendekati sang kekasih. Menangkup kedua pipi Maria lalu kembali melabuhkan ciuman panasnya di bibir seksi sang kekasih yang membuatnya kecanduan. Maria membalas dengan tidak kalah panas dan penyatuan bibir itu pun berlangsung dengan lama.


Sementara di kamar Thalia. Setelah dibangunkan oleh Nyonya Brenda tadi dan Moohan telah keluar dari kamarnya, Thalia segera membersihkan diri. Usai mandi, dia rebahkan diri sebentar sambil mengompres mata dengan air dingin agar mata panda yang muncul akibat semalam dia kurang tidur, segera hilang.


Setelah beberapa saat dikompres, Thalia merasakan matanya lebih segar. Dia lalu memakan sarapannya yang sudah disiapkan oleh bibi asisten di kamar karena Thalia harus segera dirias. Thalia makan dengan cepat dan dalam waktu singkat, sepotong sandwich isian salmon dan sayuran, telah habis. Begitu juga dengan segelas susu hangat khusus ibu menyusui, tandas tanpa sisa.


"Nyonya, apa Anda sudah siap?" Pintu kamar Thalia yang sengaja tidak ditutup rapat, diketuk lalu dibuka dari luar. Seorang wanita dewasa dengan riasan yang cantik muncul dari balik pintu sambil membawa koper kecil.


"Iya, Nyonya. Saya sudah siap," balas Thalia yang kemudian segera beranjak menuju meja rias.


Make-up artist professional di kota tersebut yang memang dipanggil secara khusus oleh Nyonya Brenda untuk mendandani sang calon menantu, segera melakukan apa yang menjadi tugasnya. Tangan wanita itu sangat terampil menari di wajah putih Thalia. Dalam waktu singkat, wajah calon pengantin yang memang sudah cantik dari sananya, semakin terlihat cantik.


"Nyonya, apa ini tidak terlalu tebal?" tanya Thalia yang tidak percaya diri dengan riasan di wajahnya karena wanita muda itu memang tidak pernah memakai riasan wajah.


Dalam kesehariannya, Thalia hanga mengaplikasikan pelembab di wajah dan vitamin yang mengandung pewarna lembut di bibir. Dia tidak pernah memakai bedak ataupun kosmetik yang lainnya, yang tidak dia mengerti. Ketika barusan melihat pantulan dirinya di cermin, Thalia malah merasa aneh. Ini seperti bukan dirinya.


"Tidak, Nyonya. Ini hari spesial Anda. Jadi, Anda juga harus tampil istimewa," balas sang MUA dan Thalia mengangguk, kemudian. "Dan satu lagi yang perlu Anda ketahui, Nyonya, ini pertama kalinya saya pangling sendiri dengan hasil riasan saya. Anda sangat cantik, Nyonya Muda Moohan," lanjutnya, memuji dengan tulus.


"Ah, Anda berlebihan, Nyonya," balas Thalia, tidak percaya.


"Benar apa yang dikatakan Nyonya Ellis, Honey. Nyonya Muda Moohan memang sangat cantik," timpal Moohan yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.


Pria itu terlihat semakin menawan dengan balutan tuxedo berwarna putih, senada dengan gaun yang akan dikenakan oleh Thalia. Thalia pun mengagumi ketampanan sang calon suami dan memuji Moohan dalam hati. Thalia bahkan sampai tidak berkedip menatap pria yang selalu menghujaninya dengan kejutan istimewa.


Moohan lalu mendekat. "Apa aku sangat tampan, Sayang, sampai-sampai kamu lupa cara berkedip?" goda Moohan berbisik, membuat wajah Thalia merona.


Sang MUA tersenyum, melihat kemesraan pasangan di hadapan.


"Nyonya Ellis, keluarlah! Biar aku yang membantu Thalia mengenakan gaunnya!" usir Moohan.


"Tidak, Hubby! Biar Nyonya Ellis saja yang membantuku," tolak Thalia. "Kalau Hubby yang bantuin, nanti pasti jatuhnya lama," lanjutnya.


Moohan menggeleng. "Aku janji, hanya membantumu dan tidak akan berbuat macam-macam. Paling hanya minta satu macam saja, Honey." Moohan mengerling lalu menunjuk dada Thalia dengan dagunya, membuat Thalia menghadiahi Moohan dengan cubitan di lengan.


"Dasar, nakal! Ini spesial milik King! Kalau Daddy mau, tunggu sampai King umur dua tahun!"


"Hah! Nunggu selama itu?" Moohan memijat pelipisnya yang berdenyut, sementara Thalia menyembunyikan tawa dengan menutup mulutnya.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.