Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Akulah Daddynya


Mendengar gumaman pria yang berdiri di hadapan sang istri tercinta, Moohan langsung berdiri lalu memeluk mesra pinggang sang istri. "Dia memang bukan Thaliamu, Tuan Alexander. Tapi dia adalah istriku, ratu di hati dan di istanaku," tegasnya, membuat senyuman di wajah putih Thalia mengembang sempurna.


Semua orang yang mendengar perkataan Moohan, menatap kembali Thalia dengan tatapan menelisik. Termasuk Nyonya Grace yang nampak membulatkan mata, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Thalia, wanita sederhana yang senantiasa dia rendahkan, kini menjelma bak seorang ratu.


Ya, kini dia memang seorang ratu. Thalia adalah ratu di hati dan di istana Hendrick Moohan. Ratu yang telah sukses merubah sang raja menjadi lebih bijaksana.


Thalia mengulurkan tangan, menjabat tangan Alexander. "Apa kabar, Tuan Alexander Thompson?" tanya Thalia seraya tersenyum.


Tangan Alexander nampak bergetar menerima jabat tangan dari Thalia. Tangan yang dulu sering dia genggam, kini telah menjadi milik orang. Tangan yang dulu melayaninya dengan sepenuh hati, kini telah pergi.


Terbersit penyesalan di hati mantan suami Thalia tersebut. Apalagi setelah mengetahui masa lalu sang istri yang ternyata adalah teman kencan sang casanova. Wanita pilihan sang mama yang katanya terhormat dan dari kalangan kelas atas, nyatanya tidak lebih baik dari mantan istrinya.


Istri sederhana yang telah disia-siakan keluarganya dan Alexander tidak berusaha untuk mencari setelah dia kembali sehat. Istri sederhana yang saat ini telah menjelma menjadi wanita yang sangat anggun dan berkelas. Alexander hanya dapat menelan saliva getir, menyaksikan pemandangan mesra di hadapan. 'Harusnya, aku yang memeluk mesra pinggangmu, Thalia.'


"Tuan Alexander, tolong lepaskan tangan istri saya!" Suara Moohan mengurai lamunan Alexander dan mantan suami Thalia itu segera melepaskan tangan sang mantan istri.


"Maaf. Putra saya hanya terkejut melihat dia bersama Anda, Tuan Hendrick. Saya pikir, istri Anda adalah dari kalangan terhormat, tapi nyatanya dia hanyalah seorang ja*lang!" sahut Nyonya Grace yang ikut berdiri.


Wanita paruh baya berpenampilan glamour itu masih saja pedas perkataannya terhadap Thalia. Dia bahkan menatap sinis pada wanita yang akan menggantikan posisi Alexander di perusahaan. "Dia tinggalkan suaminya yang sedang sekarat dengan pergi bersama laki-laki lain," imbuhnya.


Thalia hanya tersenyum mendengar celoteh Nyonya Grace. Dia sama sekali tidak terpengaruh dengan omongan pedas sang mantan mertua. Pembawaan Thalia yang tetap tenang dan anggun, membuat Moohan semakin jatuh cinta pada sang istri tercinta. Sementara Alexander semakin dalam penyesalannya.


"Apakah kalian akan membiarkan wanita itu ngoceh tidak jelas?" Moohan menatap sang pembawa acara dengan tatapan mengintimidasi.


Nyonya Grace segera diamankan oleh petugas yang berjaga di dalam ruangan khusus tersebut. Sementara Sarah yang melihat semua kejadian itu, baru mengerti bahwa Thalia adalah mantan istri Alexander. Dia semakin kesal pada wanita yang dulu bekerja sebagai tukang bersih-bersih di ruangan mantan teman kencannya.


Acara rapat terbuka itu pun dilanjutkan kembali. Kini Alexander tidak lagi memiliki nyali untuk menyuarakan protesnya. Dia kembali duduk di samping sang istri yang terus mencuri-curi pandang pada Moohan dan hanya mengikuti saja apa yang sudah menjadi keputusan bersama.


"Silakan Nyonya Thalia, kami semua ingin mendengar gagasan Anda." Pembawa acara itu lalu mempersilakan Thalia untuk maju ke depan.


Moohan yang sudah kembali duduk di tempatnya semula, menatap seksama sang istri yang tengah menyampaikan gagasan ke depan tentang kemajuan perusahaan. Pria tampan itu sampai lupa berkedip karena mengagumi sang istri yang sangat cepat dalam belajar. Senyum Moohan senantiasa menghiasi wajah tampannya yang bersinar karena aura kebahagiaan yang terpancar dari dalam.


Ya, baru beberapa malam Moohan mengajarkan pada istrinya untuk berpidato di hadapan para dewan direksi ketika mereka berdua sedang bersantai di ranjang. Kini, sang istri telah begitu fasih berbicara di hadapan orang-orang penting di perusahaan. Membuat bos TMC itu tidak henti memuji sang istri yang tampil menawan. 'You are the best, Mommy!' seru Moohan dalam hati.


Sementara Alexander yang duduk dengan menundukkan wajah, hanya mendengarkan suara Thalia yang terdengar semakin merdu di telinganya. Sesekali, mantan suami Thalia itu mencuri pandang wanita cantik yang berdiri di depan sana seraya menghela napas panjang. 'Kenapa dia terlihat semakin sempurna kala dia sudah tidak lagi aku miliki?' tanyanya dalam hati, penuh penyesalan.


Di akhir acara ketika Sarah juga diminta untuk berdiri mendampingi Alexander, wanita itu mengambil kesempatan mendekati Moohan. "Hendrick. Aku belum berganti nomor ponsel. Kamu bisa menghubungiku kapan saja kamu mau, Sayang."


Moohan tersenyum sinis mendengar bisikan Sarah. Pria itu tidak mengindahkan lalu berpaling menatap sang istri tercinta. Moohan lalu memeluk mesra pinggang istrinya sebagai bukti kepemilikan, membuat Sarah semakin geram.


Tentu saja Thalia tidak menghiraukan Sarah karena tatapan Thalia sibuk menyapa semua orang yang hadir di ruangan tersebut. Dia tatap mereka satu per satu dan mengingatnya dalam memori agar tidak lupa untuk menyapa jika di luar sana kembali bertemu dengan orang-orang penting di perusahaan itu. Ya, itulah salah satu yang diajarkan sang suami, yaitu untuk menghormati rekan bisnisnya.


"Jangan seperti ini, Sarah! Bersikaplah sewajarnya!" bisik Alexander seraya melirik sinis sang istri, membuat Sarah cemberut.


"Kenapa, sih, kamu jadi berubah sekarang?" cecar Sarah dengan berbisik. Dia nampak kesal pada sang suami karena sejak semalam, Alexander bersikap cuek padanya. Tepatnya setelah Alexander mengetahui dari Zack bahwa Sarah adalah mantan teman kencan Moohan.


Ya, setelah gagal bertemu dengan Moohan, Alexander akhirnya menyampaikan pada Zack tentang tujuannya ingin bertemu dengan Moohan. "Saya hanya ingin memastikan, apakah benar model yang bernama Sarah adalah mantan kekasih Tuan Hendrick?"


"Bukan mantan kekasih, Tuan Alexander, karena Hendrick tidak pernah menganggap teman-teman kencannya sebagai kekasih. Mereka berhubungan hanya untuk bersenang-senang," balas Zack, jujur.


"Ale, aku bertanya padamu?" Sarah menyenggol lengan sang suami, membuat lamunan Alexander buyar seketika.


Alexander menghela napas panjang. 'Kekasih lebih terhormat dari teman kencan. Kalau benar Sarah hanya teman kencan, bukankah itu sama artinya dengan dia menjajakan diri? Dia tak ubahnya seperti ja*lang seperti yang sering dituduhkan mama pada Thalia?' Alexander menggeleng-gelengkan kepala kemudian.


"Ale, aku ber ...."


"Tanyalah pada dirimu sendiri, kenapa sikapku menjadi seperti ini, Sarah!" sergah Alexander seraya mengibaskan tangan, menghentikan pertanyaan sang istri yang membuat kepalanya pening.


Sepasang suami-istri itu pun kemudian sama-sama terdiam. Perang dingin sedari semalam masih berlanjut bahkan permasalahan mereka berdua nampak semakin runyam. Sementara pasangan di hadapannya, terlihat semakin mesra dengan bibir yang terus mengulas senyuman.


Serah terima jabatan dan sesi foto pun usai. Acara selanjutnya adalah ramah tamah. Nyonya Grace selaku salah satu pemegang saham di Thompson Group, kembali dipersilakan masuk ke dalam ruang meeting. Bersamaan dengan Asisten Zack yang ikut masuk ke dalam ruangan luas tersebut sambil menggendong Princess.


Gadis kecil itu tertawa riang kala melihat sang mommy dan sang daddy. Dia melambaikan tangan ke arah Thalia dan Moohan sambil berseru, " Mom-my! Dad-dy!"


Mendengar suara anak kecil, Alexander yang tadinya sibuk memainkan ponsel lalu mencari sumber suara. Tatapannya tertuju ke arah gadis kecil yang memiliki wajah cantik mirip dengan Thalia. Senyuman kecil terbit di wajah kusut mantan suami Thalia tersebut.


"Aletha," gumamnya. Hati Alexander tergerak untuk mendekati gadis kecil yang masih berada dalam gendongan Asisten Zack. Dia meyakini bahwa gadis kecil itu pastilah Aletha, buah hatinya bersama wanita cantik yang duduk dengan mengulas senyuman di samping Moohan.


"Princess mau ikut Daddy atau Mommy?" tanya Zack seraya mencubit gemas dagu gadis kecil tersebut.


"Dad-dy!" Princess menunjuk Moohan, membuat hati Alexander mencelos dan kemudian kembali terduduk dengan lesu.


'Dia bahkan tidak mengenalkan pada Aletha bahwa akulah daddynya.'


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.