Pesona Sang Janda

Pesona Sang Janda
Menghisapnya Seperti King


Nyonya Brenda menyambut antusias keinginan sang putra yang ingin menikahi Thalia besok di gereja setempat. Malam itu juga, wanita paruh baya tersebut mengajak Thalia pergi ke butik langganan yang tidak jauh dari mansion. Mamanya Moohan itu yang paling bersemangat memilihkan gaun untuk sang calon menantu.


"Yang ini bagus, kayaknya, Joe. Atau yang ini." Netra Nyonya Brenda berbinar, menatap gaun-gaun pengantin yang panjang menjuntai. Gaun spesial rancangan dari Joe, desainer andalan butik tersebut.


"Semuanya memang bagus, Nyonya. Saya tidak berani menawarkan kepada pelanggan setia seperti Anda, gaun pengantin yang biasa saja. Ini istimewa dan limited edition," balas Joe, mempromosikan gaun rancangannya.


"Dan pasti akan lebih indah jika calon menantu Anda yang cantik ini yang memakainya. Cobalah, Nona," pinta Joe, memuji Thalia.


Moohan yang mendengar pujian tersebut dari seorang pria untuk calon istrinya, nampak tidak suka. Dia langsung mengambil gaun yang disodorkan Joe pada Thalia. Moohan lalu mengajak sang calon istri untuk ke kamar ganti.


"Ayo, Honey!" ajak Moohan seraya memeluk mesra pinggang ramping Thalia.


Joe terkekeh melihat sikap posesif Moohan. "Don't worry, Brother. Aku tidak akan merebutnya darimu!" seru Joe yang hanya ditanggapi Moohan dengan kibasan tangan.


"Lihatlah putra Anda, Nyonya Brenda. Sepertinya, dia sudah benar-benar jatuh hati pada calon istrinya itu," ujar Joe kemudian yang kembali menatap tamu, pelanggan setianya. Nyonya Brenda tersenyum lalu mengangguk, membenarkan.


"Hendrick tidak biasanya bersikap seperti itu pada teman-teman kencannya yang minta dibelikan gaun di sini. Dia bahkan tidak akan peduli jika mereka saya rangkul dan saya pegang-pegang. Tapi yang ini benar-benar beda, dia pasti sangat spesial," lanjutnya sambil menatap ke arah Moohan yang dengan setia menunggu Thalia di depan ruang ganti.


"Thalia memang wanita yang spesial, Joe. Aku juga sangat menyayanginya," tutur Nyonya Brenda.


Obrolan mereka terhenti ketika Thalia keluar dari kamar ganti. Wanita dua anak itu terlihat sangat cantik mengenakan gaun putih yang melekat pas di tubuh proporsionalnya. Gaun mewah tersebut semakin terlihat indah dan mahal dikenakan oleh Thalia.


"Wow ... so beautifull," puji Joe, kagum.


"Alihkan pandangan mata kamu, Joe! Kalau kamu tidak ingin matamu aku congkel!" ketus Moohan, membuat Joe mencebik.


"Dasar, bucin!" cibir Joe yang memang sudah akrab dengan Moohan.


"Bagaimana, Ma? Yang itu saja, atau cari yang lain?" tanya Moohan meminta pendapat sang mama yang menurutnya jago soal fashion.


"Yang itu saja, bagus," balas sang mama yang masih menatap Thalia, penuh rasa kagum.


Belanja di butik pun berakhir, setelah Moohan memilih beberapa gaun malam untuk Thalia. Mereka lalu menuju toko perhiasan terbesar di kota tersebut yang berada tidak jauh dari kantor TMC. Kali ini, Moohan yang nampak antusias memilih cincin kawin untuk mereka berdua.


"Honey. Mana yang kamu mau? Yang bertahtakan berlian, atau mau yang batu safir ini," tunjuk Moohan pada beberapa cincin dengan batu termahal di depannya.


Thalia menghela napas panjang kala melihat cincin berlian tersebut. Cincin itu modelnya sama persis dengan cincin yang diberikan Alexander di hari pernikahannya. Thalia menggeleng kemudian.


"Jangan yang berlian, ya," pinta Thalia, membuat Moohan mengerutkan dahi.


"Kenapa, Sayang?" tanya Moohan.


"Cincin itu sama persis dengan cincin kawin dari dia," balas Thalia, bergumam.


Meskipun diucapkan dengan gumaman, tapi Moohan dapat mendengar dengan jelas. Pria tampan itu lalu mengusap pundak sang calon istri. Moohan lalu menyingkirkan cincin yang bertahtakan berlian indah tersebut.


"Adakah model lain yang lebih bagus dan lebih mahal dari berlian yang itu?" tanya Moohan yang ingin memberikan yang terbaik untuk Thalia.


"Ada, Tuan, tetapi bukan berlian putih," balas pemilik toko perhiasan yang melayani langsung pembeli istimewanya.


Ya, siapa, sih, yang tidak mengenal Moohan di daerah tersebut? Seorang eksekutif muda yang sukses, sekaligus royal pada para wanita. Apalagi toko perhiasan itu juga salah satu tempat favorit ketika Moohan memberikan hadiah untuk para teman kencannya yang dianggap istimewa.


"Ini, Tuan. Berlian biru. Harganya lebih mahal dari cincin yang ini," wanita berusia sekitar empat puluh tahun tersebut menunjuk cincin berlian yang tadi disingkirkan oleh Moohan.


"Desainnya juga cantik. Pasti cocok jika dipakai di jari manis calon istri Anda, Tuan Moohan," lanjutnya seraya tersenyum pada Thalia.


"Apa kamu menyukainya, Honey?" tanya Moohan yang juga menyukai cincin tersebut.


"Iya, Hubby. Aku suka," balas Thalia.


"Iya, kan, Ma? Yang ini cantik?" lanjut Thalia bertanya pada sang calon mama mertua. Dia tidak ingin membuat Nyonya Brenda merasa diabaikan.


"Iya, Thalia. Cantik sekali," puji Nyonya Brenda, jujur.


Belanja cincin kawin pun usai. Moohan juga sudah mendapatkan cincinnya. Cincin dari logam mulia dengan permata biru mirip dengan milik Thalia, tetapi jenis batu yang berbeda. Model yang dipilihkan oleh Thalia pun sederhana, seperti karakter wanita cantik itu yang juga sederhana.


"Ada yang mau dibeli lagi tidak, Ma?" tanya Moohan ketika mobil yang dikendarai sopir sudah melaju di jalan raya.


"Seperti sudah cukup," balas Nyonya Brenda.


"Bagaimana, Thalia? Apa ada yang ingin kamu beli lagi, Nak?" tanya Nyonya Brenda kemudian, menoleh ke belakang ke arah Thalia yang duduk di samping Moohan.


Ya, Nyonya Brenda memilih duduk di bangku depan untuk memberikan kesempatan pada sang putra agar lebih dekat dengan calon istrinya. Benar-benar mama yang penuh pengertian. Moohan pun semakin sayang pada mamanya.


"Cukup, Ma. Ini sudah malam banget. Sudah saatnya King minum Asi," jawab Thalia yang ingin buru-buru pulang karena asinya terasa sudah penuh. Dada Thalia nampak semakin kencang.


Mendengar jawaban Thalia, Moohan melirik ke arah dada wanita yang duduk di sampingnya. "Apakah rasanya sakit jika tidak dikeluarkan?" bisik Moohan bertanya seraya menunjuk dada Thalia.


Thalia tersenyum lalu mengangguk. "Iya, sakit bahkan bisa membuat si ibu menjadi demam," balas Thalia yang juga berbisik.


"Jika King tidak mau menghisapnya nanti, aku akan membantumu dengan senang hati, Mommy," goda Moohan masih dengan berbisik.


Thalia langsung mencubit lengan Moohan. "Dasar mesum!" oloknya dengan bibir mengerucut.


Moohan terkekeh kemudian. Pria tampan itu lalu mengusap puncak kepala Thalia, dengan penuh rasa sayang. Moohan lalu menyandarkan kepala sang calon istri di bahunya yang kokoh. Thalia memejamkan mata, menikmati sikap lembut Moohan padanya.


Mobil tersebut berhenti tepat di halaman mansion yang sangat luas. Moohan segera membukakan pintu untuk Thalia.


"Ma, kami duluan, ya. Thalia harus segera menyusui putra kami," pamit Moohan pada sang mama yang baru saja turun dan wanita anggun tersebut mengangguk, penuh pengertian.


Moohan segera menuntun sang wanita pujaan masuk ke dalam mantion mewah tersebut. Mereka langsung menuju kamar Thalia di bagian belakang. Di dalam kamar, King nampak sudah tidur dengan ditemani oleh Maria. Sementara Princess sudah tidak di kamarnya bersama sang baby sitter.


"Maria. Apa King sudah tidur dari tadi?" tanya Thalia seraya menekan pelan dadanya. Rupanya asi Thalia mulai merembes keluar.


"Baru saja, Thalia. Dia baru minum asi dari botol terakhir," terang Maria seraya beranjak dari tempat tidur Thalia.


"Ya, sudah. Aku mau lihat Princess dulu, Thalia," pamit Maria kemudian yang merasa sungkan berada di antara Thalia dan Moohan karena pria itu sedari masuk ke kamar, terus berdiri di samping sang calon istri.


"Terima kasih, Maria," balas Thalia, tulus dan Maria tersenyum seraya menganggukkan kepala. Kekasih Asisten Zack itu segera berlalu dari kamar Thalia.


"Apa yang bisa aku bantu, Honey?" tanya Moohan khawatir ketika melihat blouse Thalia mulai basah di bagian dada.


Ya, Thalia adalah salah satu wanita yang beruntung karena produksi asinya berlimpah. Dia tidak perlu minum-minuman khusus pelancar asi atau sejenisnya. Thalia juga tidak memerlukan makanan yang dapat membuat asinya berlimpah. Semuanya alami, anugerah dari Yang Maha Kuasa.


"Bisa tolong ambilkan pompa asiku, Hubby. Itu, di atas meja." Thalia yang sudah duduk di sofa, menunjuk meja di sudut ruangan.


"Apakah harus pakai alat itu, Honey? Tidakkah aku boleh menghisapnya seperti King?" pinta Moohan, penuh harap dan Thalia menghela napas panjang kemudian.


☕☕☕☕☕☕☕☕☕☕ tbc.