
Suara musik IDM menggema di setiap sudut ruangan. Terlihat para gadis dan para lelaki sedang asik menikmati musik di atas lantai dansa seolah tidak memperdulikan apa yang terjadi pada sekitar mereka. Semakin malam suasana "The Ralabell" semakin panas, gadis - gadis cantik semakin banyak yang berdatangan, mereka menggunakan pakaian seminim mungkin, dengan aksesoris se minimalis mungkin serta ber make up se wah mungkin. Tak terkecuali Reila dan gengnya. Mereka terlihat cantik dengan dandanan minimalis seperti artis - artis Korea dengan di lengkapi lipstik warna merah. Membuat siapapun yang melihat pasti langsung terpana dengan kecantikan mereka.
"Hai girl, tidak biasanya kamu kesini hari ini,? Tanya seorang bartender pada Reila
"Hmmmm sedang ada janji dengan seseorang," jawab Reila singkat lalu menegak long island ice tea yang ada di tangannya.
"Hmmm baiklah, mau tambah?" Tawar bartender tersebut. Reila pun hanya menggeleng dan terus kembali fokus pada ketiga temannya yang sedang asik melantai di lantai dansa. Tawa mereka terlihat tanpa beban dan sangat bahagia. Reila yang melihat sahabat - sahabatnya tersebut tersenyum tipis. Namun senyum tipis tersebut adalah senyuman paling manis yang pernah terukir dari bibir ranumnya.
Semakin malam suasana "The Ralabell" semakin panas, bau parfum yang menyengat ditambah bau alkohol semerbak di setiap sudut ruangan. Dan seseorang yang Reila tunggu tak kunjung datang. Tiba - tiba ditengah kegalauan hati tersebut telepon genggam Reila berbunyi nyaring , dilihatnya layar telepon genggam tersebut dan tertulis sebuah nama. Tanpa ba bi bu Reila langsung mengangkat telepon tersebut.
"Halo boy, kamu dimana aku nunggu dari tadi nih." Rengek Reila seperti anak kecil pada orang yang ada di ujung telepon.
"Tenang ini aku sama Bagas lagi on the way menuju ke sana."
"Bisa di percepat nggak sih?" Balas Reila
"Sabar neng sabar ini 15 menitan lagi sampai."
"Hmmm baiklah," ucap Reila pasrah dan sambungan telepon pun diputus.
Lima belas menit pun berlalu, dan Reila masih setia menunggu kedua kawan pea' nya tersebut dengan pasrah sedangkan Ruri, Shinta, Nora dan Dewi sudah kembali berada di depan meja bertender meminum cocktail drink yang mereka pesan.
"Gimana Re, kawan mu jadi kesini?" Tanya Ruri penasaran
"Jadi, katanya masih on the way."
"Hmmmm ... Jadi penasaran siapa sih kawan lama sahabat ku ini," timpal Nora
"Iya bikin penasaran aja," tambah Shinta
"Nanti juga kalian bakalan tau." Jawab Reila singkat dan tak lama kedua sosok yang ditunggu tunggu tersebut datang. Sesosok lelaki tampan yang gaya dan dandanan yang kekinian terpampang nyata di depan lima gadis cantik yang membuat hati bergetar dan halusinasi liar yang tak terkendali terkecuali hati Reila.
"Hai Re, i am here." Ucap lelaki tersebut dengan senyum yang menggoda dan kerlingan mata yang mampu membuat siapa saja yang melihatnya bakalan pingsan dengan penuh kebahagiaan atau hanya sekedar mimisan.
"I know boy, kamu dari mana sih, udah nunggu lama kita tuh." Ucap Reila
"Eh Re kq kami nggak bilang kalau punya temen secakep dan sebening ini." Celetuk Ruri
"Eh btw si batok mana Gas?" Tanya Reila
"Dia masih memarkir mobil."
"Oh iya gengs sampai lupa, kenalin ini Bagas kawan aku dari pulau seberang," ucap Reila. Keempat gadis tersebut sekali lagi salah tingkah dengan adanya pemuda tampan nan menggemaskan. Mereka saling bersalaman dan berkenalan satu sama lain. Menguntai senyum terbaik masing - masing. Tak lama mereka pindah dari meja bar menuju meja para tamu yang memang sudah dipesan khusus oleh Reila.
"Yuk lanjut ngobrolnya di sana aja," ajak Reila.
Beberapa menit sudah berlalu obrolan demi obrolan silih berganti dari nge-ghibah dosen sampai kasus jomblo dan cari jodoh pun tak luput dari pembahasan. Ditengah - tengah obrolan asik tersebut terlihat sesosok pemuda berkulit sawo matang menghampiri meja Reila dan kawan - kawan.
Semua mata tertuju pada pemuda tersebut. Pemuda dengan ketampanan yang diatas rata - rata dan yang membuat terkejut adalah pemuda tersebut tidak asing di mata ke empat sahabat Reila.
"Boleh gabung kan?"
"Nggak usah sok manis ya, kamu udah telat masih sok manis lagi." Cerocos Reila.
Dengan senyum yang membabi buta serasa dapat meluluh lantakan setiap hati gadis di dunia pemuda tersebut membalas perkataan Reila. Dan akhirnya mereka mulai mengobrol satu sama lain
\=\=\=\=\=
Sudah hampir jam 3 subuh "The Ralabell" masih saja penuh dengan hentakan musik yang memekakkan telinga. Namun para tamu berangsur - angsur surut dan meninggalkan keriuhan yang terjadi di tempat tersebut.
Tak terkecuali Reila dan kawan - kawan. Mereka sudah cukup merasa melepas segala kepenatan yang mereka alami, alunan musik, wine dan teman - temannya cukup membuat mereka hilang kesadaran dan berpindah dunia.
Ruri, Dewi, Shinta dan Nora sepakat untuk pulang bersama karena Reila akan nebeng bareng Bagas dan seseorang yang Reila panggil Batok karena arah rumah mereka searah. Mereka berpisah sesaat setelah keluar dari "The Ralabell".
"Re ... Kita duluan ya," ucap Nora pada Reila.
"Yuhuu girl, hati - hati guys."
"Siap ... " Balas Dewi
- xxx -
"Thanks a lot, ya guys udah bantuin aku buat ngasih pelajaran ke dia." Ucap Reila pada ke dua kawannya tersebut
"Yoi Yoo ... " Bales Bagas dengan senyum yang cemerlang
"Dan kamu bathok ucul ku ... Harus bisa mainin dia,"
"Siap ndoro, aku bakalan bikin dia klepek - klepek." Jawab pemuda yang ia panggil bathok tersebut, dan mereka bertiga pun tertawa terbahak - bahak. Seolah ada bunga yang menyebar dan harumnya semerbak memenuhi hati dan pikiran ke tiga insan tersebut.
- xxx -
Freezy seperti tertampar petir, badannya merasakan sesuatu yang teramat nyeri seolah terbelah menjadi kepingan - kepingan kecil dan hancur. Deva yang berdiri agak jauh dari posisinya Freezy hanya bisa membeku melihat apa yang terjadi tepat di depan matanya. Ia tidak bisa berbuat apa - apa melihat seniornya mendapatkan hukuman yang belum tentu ia dapat mengatasinya.
Teriakan demi teriakan meluncur dari bibir Freezy dan terdengar oleh telinga Deva. Seolah seorang pesakitan Freezy diperlakukan, cambukan demi cambukan ia rasakan namun bukan malah merasa bersalah, ia malah tidak merasa melakukan kesalahan. Sebuah kesalahan karena telah ikut campur dalam kasus Luna dan Adhisti. Karena memang menjadi kode etik sejak jaman dahulu bahwa para malaikat tidak boleh terlalu ikut campur dan menunjukan jati dirinya kepada dan dihadapan manusia.
Dan kali ini Freezy melanggar kode etik tersebut, dari berjuta kasus yang ia tangani baru kali ini Freezy bermain main dengan kode etik dan melanggar aturan dunia dunia. Dan itu semua membuatnya dihukum sedemikian rupa seperti sekarang.
"Kau lihat Deva?"
Deva mengangguk berlahan, ingin rasa hati Deva untuk membantu seniornya tersebut tapi apalah daya, ia hanya seorang malaikat junior yang berpangkat rendah. Kata - kata dan perangainya tidak akan mempengaruhi apapun dan sama sekali tak diperhitungkan oleh sang kuasa.
Entah sejak kapan air mata Deva mengalir berlahan, melewati pipi putihnya dan Freezy yang melihat hal.tersebut hanya tersenyum. Senyum yang begitu indah yang dihiasi oleh tetesan tetesan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.