Persona

Persona
Chapter VII


Semua mata tertuju pada pemuda tersebut, pemuda yang memiliki kulit sawo matang dan mata yang indah serta tinggi bak idol - idol Korea. Gadis - gadis seperti cacing kepanasan, seolah salah tingkah. menyiapkan pose terbaik sebelum pemuda tersebut melewati mereka. Dan anehnya pemuda tersebut melirikpun tidak apa lagi melihat tingkah konyol gadis - gadis tersebut.


Mata kuliah sosiolinguistik pun dimulai. Mrs Endang mulai menyampaikan beberapa materi tentang alih kode dan campur kode dalam sebuah bahasa, dan semua mahasiswa hikmat mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan oleh beliau. Hampir satu jam tiga puluh menit proses belajar mengajar berlangsung. Banyak mahasiswa Mrs Endang yang merasa terbebani dengan materi kali ini, itu semua terlihat dari wajah wajah tampan dan cantik peserta didik beliau yang terlihat kebingungan. Karena sepertinya waktu satu jam setengah masih belum cukup untuk menjelaskan detail dari materi kali ini. Dan dengan terlewatkan nya satu jam setengah maka berakhir juga jam mata kuliah sosiolinguistik, seperti biasa di akhir kelas Mrs Endang akan melakukan ritual wajib, yakni presensi kelas.


Satu per satu nama peserta didik dipanggil dan satu persatu dari mereka mengacungkan lengan.


"Apa semua sudah saya panggil untuk presensi?" Tanya Mrs Endang


Dari belakang kelas seorang pemuda mengacungkan lengannya. Dan siapa lagiĀ  kalau bukan dia, dia adalah pemuda asing yang nangkring di kelas sosiolinguistik.


"Saya Mrs." Ucap pemuda tersebut


Suara pemuda tersebut begitu rendah dan tegas hingga membuat jantung para gadis bergetar tak karuan. Para gadis seperti kerasukan, mereka tersenyum sendiri seolah melihat dan mendengarkan sesuatu yang sangat membahagiakan bagi mereka.


"Baik anak muda, berdiri dan tolong sebutkan nama mu!" Pinta Mrs Endang


Tak membutuhkan waktu yang lama untuk mengikuti permintaan Mrs Endang pemuda tersebut bangkit dan berdiri serta menyebutkan mananya.


"Perkenalkan nama saya Arka Narendra Hutama."


Seketika suasana riuh menghampiri seisi ruang kelas, gadis - gadis semakin menggila, mereka benar - benar tersihir oleh sosok baru yang mereka temui, sosok yang hadir meramaikan koleksi cogan di fakultas sastra.


"Dan Mrs bisa memanggil saya dengan nama Tama." Tambah pemuda tersebut.


"Baik Tama, kamu boleh kembali duduk!" Seru Mrs Endang, "dan kalian para gadis jangan mencoba menggoda cogan baru yang masih polos ini ya!" Tambah Mrs Endang dan diikuti dengan gelak tawa seantero kelas.


Siapa yang tidak mengenal Mrs Endang, beliau adalah salah satu dosen yang terkenal dengan dedikasi tingginya terhadap para peserta didiknya dan memiliki selera humor yang tinggi. Membuat beliau menjadi salah satu dosen dengan fans terbanyak seantero fakultas sastra.


"Mengerti." Pungkas Mrs Endang lagi


"Mengerti Mrs," jawab para gadis serempak


Jika para gadis merasa bahagia dengan datangnya cogan baru yang hadir dalam kehidupan mereka, maka lain halnya dengan para lelaki. Mereka merasa terintimidasi sejak langkah pertama Tama tempo hari. Seolah mereka mendapat musuh baru dan bersiap untuk peperangan, padahal fakultas sastra apalagi jurusan bahasa Indonesia memiliki koleksi cogan yang lumayan banyak sebut saja Rama, Niko, Brian, atau Arjun yang selalu menjadi idola para kaum hawa, baik Kaka tingkat atau sebaliknya. Tapi entah mengapa kehadiran Arka Narendra Hutama menjadi ancaman paling menakutkan dari pada cogan lainnya.


\=\=\=\=\=


Kelas pun berakhir, sesaat setelah itu Mrs Endang meninggalkan ruang kelas dan sepersekian detik dari menghilangnya Mrs Endang dari pandangan. Para gadis berlomba - lomba mendekati dan mengerubungi koleksi cogan mereka. Berbagai tingkah konyol.dan bodoh pun dilancarkan demi menarik perhatian sang pangeran. Namun bukannya perhatian yang mereka dapatkan melainkan sebuah kekecewaan yang sangat pahit karena sang pangeran tersebut tidak secuilpun tergoda oleh tingkah konyol gadis - gadis tersebut. Lama Tama dikerubungi oleh gadis - gadis cantik tersebut seolah tidak tahan dengan tingkah aneh orang - orang disekitarnya maka ia pun berdiri dan bangkit dari tempat duduknya. Semua gadis seolah dibodohi oleh tingkah jual mahal Tama, namun ia tetap tidak peduli , ia pun merapikan meja lalu berjalan ke arah salah satu sudut ruangan, salah satu sudut ruangan yang terdapat seorang gadis dengan berban yang masih menempel di pelipis nya.


"Maksud kamu aku?" Tanya gadis tersebut. Dengan anggukan kecil tanpa menjawab pertanyaan gadis tersebut.


"Kamu bisa lihat sendiri, aku baik-baik saja dan sekarang berada di depan mu bukan?"


"Hmmmm baiklah.' jawab Tama singkat


Terlihat gadis tersebut mulai merapikan meja, memasukan peratalan tulis menulis kedalam tas pinknya dan tak lama ia bangkit dan berjalan ke luar ruangan, namun sesaat sebelum sampai pintu keluar gadis itupun berbalik dan berujar "emmm terimakasih atas bantuannya tempo hari." Diiringi dengan senyum yang begitu manis.


"Hmmm dia lagi, dia lagi," celetuk salah seorang gadis


"Iya, heran apa sih hebatnya nya dia," tambah gadis lainnya.


"Si anak pungut pakai susuk kali agau pelet biar para cogan selalu mempel sama doi," celetuk yang lain.


"Dasar Adhisti nggak berguna." Dan masih banyak lagi cemoohan untuk seorang Adhisti Dewi Surya. Cemoohan demi cemoohan yang dilontarkan seolah berubah menjadi dengungan lebah yang sangat mengganggu telinga dan jika terus menerus dibiarkan dengungan tersebut akan semakin kencang dan merusak telinga. Tapi siapa yang akan meredakan dengungan para lebah betina tersebut jika bukan diri mereka sendiri. Namun berbeda dengan yang lain Tama secara terang - terangan melawan dengungan lebah tersebut. Wajah Tama memerah dan sorot matanya menjadi tajam, dilihatnya satu per satu gadis yanv mulai berceloteh tidak.karian tentang Adhisti dan alhasil.mereka semua terdiam seribu bahasa. Tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir ranum para gadis tersebut. Sesaat setelah dengungan tawon berhenti Tama pun keluar ruangan mencari udara segar.


- xxx -


"Blue and sky cafe" Lexa nampak sedang menikmati secangkir coffe matcha hangat, ditemani dengan dinginnya malam serta hembusan angin yang membuat suasana hati Lexa menjadi lebih tenang. Mata Lexa menerawang ke langit yang gelap tanpa embel - embel bintang atau bulan, hanya gelap dan suram. Terkadang Lexa nampak tersenyum tipis menikmati pemandangan yang tersaji di depannya. Seolah ia sedang benar - benar sendiri di dunia ini.


"Apa kamu nggak pulang Lex?" Tiba - tiba muncul suara Raka dan membuat Lexa merasa terkaget - kaget hingga ia tersedak oleh minumannya.


Uhuk "Ah kamu mengagetkan ku Ka."


"Jangan pulang larut malam, nanti bunda akan kwatir!" Seru Raka


"Iya bawel,"


"Bagus kalau begitu sana buruan pulang, aku lanjut kerja dulu, nggak enak dilihat yang lain."


Lexa pun mengangguk dan Raka kembali pada rutinitasnya. Mata Lexa seolah tidak ingin lepas memandangi sosok pemuda tersebut, pemuda yang dianggapnya seperti sodara, teman, sahabat dan bahkan lebih. Pikiran Lexa kembali melayang melakukan time traveler beberapa tahun yang lalu. Mengingat hal - hal tersebut membuatnya semakin tau apa arti seorang Raka pada hidupnya.


- xxx -