
Mata sinis Reila terus memandang Adhisti dari kejauhan. Seperti elang yang sedang memandangi mangsanya. Entah apa yang dirasakan Reila saat ini, namun ada sedikit rasa bahagia yang merasuk dalam sanubarinya, seolah ia memenangkan sebuah lotre satu miliyar. Dilihatnya Adhisti berjalan menuju kelas sastra dan melewati lorong dan menghilang di balik keramaian. Sesaat melihat Adhisti menghilang Reila pun segera melanjutkan kegiatannya.
\=\=\=\=\=
Mata Adhisti terbelalak melihat tingkah konyol teman - temannya. Mereka seolah melihat seorang pangeran yang ada pada diri Tama. Seorang pangeran tampan dalam drama Korea. Seperti biasa mereka senyum - senyum sendiri atau bahkan mengambil foto secara diam - diam. Adhisti yang melihat kejadian tersebut hanya bisa tersenyum dan kembali berkutat pada kegiatannya.
"Ini buku literatur yang aku pinjam kemaren." Ucap Tama mengagetkan Adhisti
Adhisti mendongak dan mengangguk lalu kembali menekuri novel yang ia baca
"Hmmmmm letakan saja di situ,"
"Terimakasih." Ucap Tama
Tama melekatkan buku tersebut di meja tepat di depan kursi Adhisti dan meninggalkannya.
Hampir semua gadis yang melihat interaksi antara Tama dan Adhisti merasa cemburu dan iri. Banyangkan saja mereka melakukan semuanya untuk menyenangkan sang pangeran seperti, bersolek lebih cantik atau pura - pura manis dan semua itu hasilnya nihil. Dilirik pun tidak apalagi dilihat. Gadis - gadis tersebut mulai kembali menggunjing Adhisti. Namun untung saja Mr Aang tiba dan menghentikan kegiatan gadis - gadis tersebut.
- xxx -
"Apa yang kamu pikiran Lexa?" Tanya bunda membuat Lexa kaget
"Ahhhh tidak ada bunda, hanya melamun saja"
"Hmmmm, jangan bohong, bunda ini bunda mu, ayo bicara jangan ada yang dipendam nanti bintitan looh." Ucap bunda seraya tersenyum.
Mendengar kata - kata bunda yang terakhir Lexa pun tersenyum dan menggambil nafas panjang seraya berkata
"Tidak ada apa - apa bunda hanya sedikit kepikiran tentang sesuatu saja."
"Ohhh begitu, jangan berfikir terlalu dalam dan kalau merasa ada yang berat bilang aja sama bunda"
"Baik bunda." Jawab Lexa seraya menganggukkan kepalanya.
Bunda pun meninggalkan Lexa sendirian, menikmati sore harinya. Membiarkan Lexa tetap pada pikirannya.
\=\=\=\=\=
Minggu ini bunda, Lexa, Luna dan Raka menikmati waktu mereka untuk bertamasya ke sebuah pantai di selatan kota. Pantai yang masih asri dengan pemandangan laut yang begitu menakjubkan, pagi - pagi buta mereka berempat berangkat bersama. Menaiki 2 motor matik dan saling berboncengan, bunda bersama Lexa dan Raka bersama Luna. Hampir lebih dari 2 jam perjalanan mereka lalui dengan senyum yang mengembang di setiap inci perjalanan mereka. Mata Luna dan yang lain di suguhi pemandangan perbukitan hijau bagai permadani indah, begitu indah membuat dua jam perjalanan tidak membuat mereka berempat lelah.
Dalam perjalan Luna nampak diam, ia menikmati apa yang tersaji di depannya. Manik matanya bersinar melihat pemandangan yang ada di kiri dan kanannya. Raka yang melihat wajah Luna dari spion motor juga ikut bahagia, karena baru kali ia melihat Luna sebahagia ini sejak kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Ada sedikit rasa usil dalam diri Raka. Ia tiba - tiba mengencangkan laju motornya, Luna yang kaget secara reflek memeluk perut Raka erat, alhasil Raka pun tertawa, dan Luna pun memanyunkan bibir mungilnya. Ada sedikit getaran aneh yang Raka dan Luna rasakan. Ini kali kedua mereka merasakan rasa tersebut. Sebuah getaran yang berdesir merangsek masuk kedalam hati dan pikiran kedua insan tersebut.
"Apa kamu sudah gila, aku hampir jatuh Ka." Omel Luna pada Raka
"Hahaha ... Sengaja kok, lihat wajah polos mu membuatku ingin mengusili mu."
"Dasar ... " Celetuk Luna sembari mencubit pinggang Raka.
"Awwww ... Sakit tau."
"Salah sendiri usil." Balas Luna tanpa memperdulikan ucapan Raka
Bunda yang melihat kejadian tersebut merasa bahagia karena Raka mampu mengembalikan senyum dan tawa Luna yang menghilang sejak kecelakaan tersebut. Namun sepertinya tidak bagi Lexa, sorot matanya tajam, seolah ada rasa benci yang memuncak dalam dirinya. Seolah ada rasa panas yang mengepul dalam pikiran dan hati Lexa.
"Lihat Lexa, akhirnya bunda bisa melihat Luna tersenyum dan tertawa lagi."
"Hmmmm iya bunda, Lexa juga melihatnya, dan Lexa juga merasa bahagia."
"Syukurlah, memang tepat ide kamu Lexa yang mengajak kita untuk jalan - jalan menenangkan pikiran."
"Iya bunda ... " Jawab Lexa singkat sembari fokus pada jalanan yang berkelok - kelok
\=\=\=\=\=
Dua jam sudah terlewati dan akhirnya mereka berempat telah sampai di pantai yang mereka tuju. Pantai dengan pemandangan yang biru di sisi kanan dan hijau di sisi kiri. Pantai tersebut terbilang masih perawan karena pengunjung pantai tidak terlalu banyak. Hanya ada beberapa sepeda motor. Dan penjual jajanan dan makanan yang menjajakan dagangannya.
Mata Lexa dan Luna seolah tersihir akan keindahan pantai tersebut mereka tidak mau berlama lama terdiam di bibir pantai yang indah tersebut, dengan ombak yang tenang dan angin yang berhembus lamban sangat menenangkan. Luna dan Lexa akhirnya menceburkan diri ke pantai menikmati dinginnya air dan ombak yang menyegarkan. Terlihat juga bunda sedang menata makanan dan menggelar karpet untuk beristirahat dan Raka membantu beliau menyiapkan segalanya. Tak lama Raka pun ikut menceburkan diri ke pantai. Mereka bertiga terlihat bahagia, bermain air, saling kejar - kejaran dan masih banyak lagi keseruan - keseruan yang mereka rasakan hari ini.
\=\=\=\=\=
Angin berhembus pelan, suara ombak bergemuruh serta bau asin yang menusuk hidung, terlihat Adhisti sedang berdiri menikmati senja, senja keemasan yang begitu indah, senja dengan awan awan yang semburat kemerahan, pantulan cahaya matahari tenggelam dalam cakrawala semakin membuat senja menjadi sangat indah. Adhisti berdiri di tepi pantai, kakinya sesekali terkena riak ombak yang datang silih berganti, matanya tertuju pada sang surya yang berlahan mulai menghilang. Tiba - tiba angin berhembus kencang, menerbangkan topi vedora milik Adhisti, topi tersebut melayang - layang di udara lalu terhenti tepat di kaki seorang lelaki, seseorang yang tidak yang tidak memiliki banyangan. Adhisti berlari kecil mengejar topi tersebut dan meraihnya.tabgabnya sedikit menyentuh kulit lelaki tersebut.
Lelaki tersebut memunggungi tubuh Adhisti, jadi Adhisti tidak bisa melihat siapa gerangan lelaki tersebut. Seolah tidak begitu memperhatikan lelaki itu, ia pun pergi meninggalkannya. Beberapa langkah Adhisti menjauh tiba - tiba seseorang memanggilnya.
"Luna apa yang kamu lakukan di sini."
"Lexa sudah menunggu mu di sana
"
"Baik Ka,"
Adhisti meninggalkan lelaki tersebut sendirian membeku seolah patung yang terbuat dari besi, tidak bergerak dan kaku serta dingin.
\=\=\=\=\=
"Luna aku duluan ya?" Tanya Lexa pada Luna
"Iya Lexa duluan saja" jawab Luna dari balik bilik kamar mandi yang terletak di belakang bukit.
Lexa pun meninggalkan Luna sendiri, dalam kegelapan, ia hanya ditemani dengan cahanya dari senter HP yang remang. Lama gadis tersebut berada di dalam bilik tersebut.
Kegelapan semakin menyelimuti tempat tersebut. Setelah beberapa lama akhirnya Luna keluar dari bilik tersebut. Wajahnya terlihat begitu segar dan harum tubuhnya sangat wangi. Ia berjalan berlahan, menyusuri jalan setapak dengan penerangan seadanya, Cahaya Hp miliknya begitu redup hingga ia beberapa kali tersandung dan mengasuh berlahan. Tiba - tiba baterai HP Luna habis, alhasil tidak ada penerangan yang menerangi jalan Luna. Ia semakin tidak dapat melihat dalam kegelapan. Beberapa kali tersandung ditambah lagi ia berada di tengah hutan yang gelap.
Gadis tersebut merasa was - was dengan keadaannya. Matanya di tanamkan walau hasilnya tidak maksimal, langkahnya pun dipercepat agar ia cepat sampai di keramaian dan mendapat cahaya.
Jalanan semakin gelap ditambah lagi dengan rintik hujan yang mulai turun, membuat jalanan semakin licin. Lama kelamaan hujan semakin lebat. Dan alhasil tubuh Luna basah oleh terpaan hujan. Jalannya juga dipercepat.
"Buuook" Luna terpeleset. Buru - buru ia bangkit. Namun ada sesuatu yang membuatnya tidak bisa bangkit dengan cepat. Kaki kirinya terasa nyeri. Seolah otot tertarik ke keatas. Luna mencoba bangkit sekali lagi dengan susah payah dan berhasil. Walau jalan dengan sempoyongan dan menahan rasa sakit yang diderita Luna masih tetap memaksakan diri untuk berjalan.
"Buoook" Luna terjatuh untuk kedua kalinya. Ia merasakan sesuatu yang yang mengucur dari pelipisnya. Cairan berwarna merah segar bercampur dengan tetesan air hujan. Tiba - tiba pandangan Luna terasa kabur. Semua menjadi buram. Tak lama dari itu Luna sudah tidak sadarkan diri.
\=\=\=\=\=
"Apa yang kamu lakukan Lexa?" Bentak Raka pada Lexa
"Aku ... "
"Sudahlah aku akan mencari Luna." Porong Raka
"Dan jaga bunda, mengerti!" Tambah Raka
Lexa hanya bisa mengangguk pasrah, ia tidak pernah melihat Raka seperti ini. Raka yang sangat khawatir pada sesuatu.
Ada rasa iri terbersit dalam diri Lexa. Ingin rasanya ia menangis tapi ia tahan rasa tersebut. Rasa dongkol dan benci kepada sosok seorang gadis bernama Luna.
"Ini semua salah ku, seandainya aku bersabar menunggunya tadi, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi." Ucap Luna dengan nada memelas
"Biar saja dia menghilang, aku berharap ia tidak kembali." Batin Lexa
"Tidak apa - apa Lexa, itu bukan salah mu, mungkin memang Luna sedang berteduh di suatu tempat dan tidak terjadi apa - apa padanya. Hibur bunda pada Lexa
"Iya bunda semoga Luna baik - baik saja dan Raka dapat menemukannya."
\=\=\=\=\=
"Lunaaaaa ... " Teriak Raka berkali kali
Ia menyusuri jalan setapak yang licin karena hujan. Diarahkannya senter ke segalah penjuru arah. Berharap paparan cahaya tersebut menemukan sosok Luna.
Lama Raka mencari Luna dalam hujan dan malam pun semakin menjelma, ditambah hujan juga semakin deras. Beberapa kali Raka mengusap wajahnya agar jalanan di depannya dapat ia lihat dengan benar. Ia tidak perduli dengan tubuhnya yang basah dan menggigil kedinginan karena yang ia pikirkan adalah sosok gadis yang bernama Luna, sosok yang akhir akhir ini membuat hatinya bergelora dan merasakan kebahagiaan, sosok yang membuat hari - harinya semakin berwarna.
Raka terus berjalan dalam kegelapan dan hanya ada lampu senter yang mulai meremang. Dilihatnya hp miliknya dan benar saja sisa baterai hp tersebut tinggal beberapa persen dan kemungkinan besar beberapa menit lagi senter tersebut akan mati.
Banyak dedaunan dan ranting - ranting pohon yang basah menghalangi jalan Raka. Alhasil Raka pun menyibakan mereka semua ke kanan dan ke kiri. Membuat jalan benar benar bersih dari ranting pepohonan. Raka semakin jauh dari jalan setapak, dan benar saja akhirnya Raka menemukan sosok yang ia cari. Sosok Luna yang tergeletak tidak berdaya. Raka yang melihat Luna dalam posisi tersebut berlari kearah keberadaan Luna, tanpa peduli ranting dan dedaunan yang menggores kaki dan lengannya. Yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana ia membangunkan Luna dan keluar dari semua kekacauan ini.
Betapa terkejutnya Raka ketika mengetahui bahwa darah segar mengucur dari pelipis Luna. Raka berusaha membangunkan Luna dengan berbagai cara, menggoyang - goyangkan tubuh lunglai Luna atau memanggil - manggil nama gadis tersebut berkali kali. Namun semua itu nihil. Raka tidak mendapatkan hasil yang signifikan, tubuh Luna tetap lemas dan ia tetap tak sadarkan diri.