
Senja kembali mengarungi bahtera bumi, terlihat dua anak kecil sedang bermain dengan riang gembira. Bermain diantara sela - sela tanaman bunga matahari. Senyum dan tawa terus mengembang dari bibir mungil mereka.
"Kak ... Besok dhisti mau pulang ke kota." Ucap dhisti tiba - tiba.
Suasana menjadi tenang hanya hembusan angin yang menerpa dedaunan menjadikan suara gemuruh begitu kentara.
"Ahhh kamu besok sudah pulang ya." Balas bocah kecil yang ada di depan Adhisti yang masih sibuk dengan adonan tanah.
"Iya kak," balas Adhisti dengan wajah sedih
"Tidak apa - apa jangan sedih, kita akan ketemu lagi kalau kamu kesini."
"Iya kak" jawab Adhisti dengan wajah yang lebih baik dari tadi.
"Ya sudah sepertinya sudah mulai gelap, ayo aku antar pulang, sebelum mama mu mencari mu seperti kemarin - kemarin"
Hanya dengan anggukan kecil Adhisti mengiyakan ajakan bocah yang ada di depannya. Mereka berdua berdiri lalu membersihkan tangan yang penuh lumpur setelah itu mereka berjalan beriringan meninggalkan ladang bunga matahari, menuju tengah desa. Lama mereka berdua berjalan akhirnya tibalah pada sebuah rumah yang terlihat epik, rumah yang tergolong megah diantara rumah - rumah sekitarnya. Rumah dengan taman depan yang begitu luas serta memiliki tingkat dan balkon putih terlihat menakjubkan.
"Ahhh ... " Bocah tampan itu terperangah melihat rumah besar yang ada di depannya.
"Masuklah!" Pinta bocah tersebut pada Adhisti. Seperti biasa Adhisti langsung menuruti perintahnya. Air mata Adhisti seolah tak dapat terbendung, namun ia masih bisa menahan. Adhisti mulai meninggalkan bocah yang ia panggil Kakak tersebut. Hingga beberapa langkah ia berbalik dan melambaikan tangan beberapa kali dan Adhisti mulai berlari menuju rumah besar tersebut.
"Hai ... Dhisti, ingat namaku ya, aku Deva Aryawan." Teriak Deva pada Adhisti. Adhisti yang mendengar ucapan Deva langsung berhenti berlari menolah dan mengangguk seraya berkata "pasti, pasti kak, aku akan mengingat mu" sembari tersenyum dan kembali berlari menuju pintu rumah besar tersebut.
Setelah sosok Adhisti menghilang dari balik pintu, Deva pun pergi meninggalkan rumah tersebut. Ia berjalan gontai, ada sesuatu yang bilang dalam dirinya, dan tak tau apa yang ia rasakan.
\=\=\=\=\=
Malam bertabur bintang layaknya permata yang bertaburan. Entah apa yang dirasakan Adhisti saat mengenang seseorang yang datang dari masa lalunya. Ada sedikit rasa bahagia dan tidak percaya akan ingatan tersebut yang tiba - tiba hadir dalam pikirannya.
Senyum teruntai saat mengenang sang pangeran berkuda tersebut, seorang bocah dekil dengan warna keabuan di sekujur tubuhnya. Seorang yang pernah menemani hari - harinya walau singkat namun sangat berarti.
- xxx -
Suasana riuh terlihat siang ini, tidak seperti biasanya gedung fakultas sastra benar - benar ramai dipenuhi oleh lalu lalang mahasiswa dari berbagai angkatan. Mereka ada yang sedang asyik nge-ghibah sana - sini atau hanya bermain dengan gadget yang mereka pegang atau juga penuh keseriusan mengerjakan tugas - tugas kuliah yang semakin menumpuk. Tak terkecuali seorang Adhisti Dewi Surya yang sibuk dengan progres sastra pemberian Mrs Santi. Adhisti sibuk dengan makanan yang ia makan, kata - kata klise dan baris - baris sajak yang berderet membuatnya kekenyangan. Matanya sudah seperti panda, lama ia menekuri laptop yang berisi ratusan sajak yang siap ia teliti. Sesekali ia merenggangkan tubuhnya serta meminum kopi yang sengaja ia bawa untuk melawan sang kantuk. Walau bukan berasal dari anak kuliahan Adhisti alias Luna sangat cepat belajar. Tidak butuh waktu lama ia sudah menguasai beberapa mata kuliah yang dosen - dosen berikan padanya
Hampir tiga jam Adhisti berkutat dengan sajak - sajak klise dan akhirnya ia dapat bernafas lega, sudah 1/3 bagian dari progres yang ia selesaikan. Mata dan otak Adhisti sepertinya sudah tidak bisa berkompromi lagi, apalagi ditambah dengan cacing - cacing di perutnya mulai bergeliat meminta jatah di setiap waktu makannya. Adhisti akhirnya menyudahi kegiatannya, ditekannya tombol subdown pada laptopnya dan tak lama laptop tersebut sudah masuk dalam ransel hitam milik Adhisti.
Padangan - pandangan itu mengarah ke arahnya, menusuk mata, hati dan pikiran Adhisti. Namun kini bukan ia bukan Adhisti yang dulu, yang selalu sensi dan seolah lemah, karena Adhisti yang sekarang akan membiarkan semua pandangan tersebut tanpa memikirkannya seujung kuku pun. Dengan santai Adhisti melewati semua pandangan tersebut. Jalannya tak goyah sedikitpun, mantap menatap depan dan terus berjalan.
\=\=\=\=\=
"Thiiiiiiiin ... " Suara klakson berbunyi kencang, dan disusul dengan suara "braak", terlihat Adhisti tersungkur, semua mata tertuju pada Adhisti namun tidak ada yang menolong, mereka yang ada di sekitar tempat tersebut hanya sibuk dengan gadget masing - masing mengabadikan momen dan sibuk bergunjing.
Namun tiba - tiba entah dari mana datangnya seorang pemuda tampan seolah pengeran berkuda yang menyelamatkan tuan Puteri dengan gagahnya. Pemuda tersebut mengangkat Adhisti yang pingsan karena kaget, terdapat beberapa luka memar di siku, tangan serta pelipis kiri Adhisti. Seolah tak memperdulikan sekitar ia membawa korban tabrak lari tersebut kembali kedalam salah satu ruang kelas yang berada di dalam gedung fakultas sastra.
Lina, Roy dan Fatih kaget sejadi - jadinya, melihat Adhisti dibopong oleh seseorang yang begitu asing. Mereka bertiga berlari menghampiri tubuh Adhisti yang masih tak sadarkan diri dan masih pada pangkuan sang pangeran berkuda. Pemuda tersebut meletakan tubuh lemas Adhisti di meja dan semua mulai berkumpul.
"Ada yang bawa minyak angin atau semacamnya." Ucap pemuda tersebut
"Sebentar sepertinya aku bawa." Ujar seseorang dari tengah kerumunan.
Dioleskan nya minyak angin tersebut pada kaki dan tangan Adhisti, dan Lina sibuk membasuh luka pada pelipis serta tangan dan kaki dengan menggunakan air mineral. Tak lama Adhisti terbangun, matanya mengerjab berlahan. Badannya serasa patah, ada rasa nyeri yang ia rasakan pada kepala serta bagian tubuh yang lainnya. Sesaat setelah Adhisti bangun, kerumunan mulai meninggalkan tempat kejadian tersebut, dan hanya tertinggal. Lina, Roy, Fatih, serta sang pangeran berkuda.
"Syukurlah kamu baik - baik saja, kami sangat mengkhawatirkan mu Dhisti." Ucap Luna, Adhisti yang mendengar perkataan Lina hanya dapat tersenyum.
"Baiklah jika semua baik - baik saja aku pamit dulu," ucap pemuda berkuda tersebut
Rasa penasaran menyeruak dalam batin Adhisti, mata Adhisti dan Lina saling bertatapan seolah mereka berkomunikasi tanpa kata dan suara.
"Oh ini, dia adalah seseorang yang meyelamatkan mu Dhisti." Ucap Lina seolah mengerti apa yang temannya isyaratkan.
"Terima kasih" ucap Adhisti pada pemuda tersebut.
"Sama - sama, kalau begitu aku undur diri dulu." Ucap pemuda tersebut. Sepersekian detik pemuda tersebut sudah menghilang di balik pintu.
"Siapa tadi?, aku belum pernah sekalipun melihatnya," tanya Adhisti pada ketiga kawannya. Dan ia hanya mendapat gelengan kepala dari ketiga kawannya tersebut.
- xxx -
Praaangg, jantung Luna tiba - tiba nyeri dan membuat semua piring yang ia bawa terjatuh dan pecah berserakan. Debaran jantungnya begitu cepat, dan nyerinya terus menjalar, Luna tertunduk dan terus memegang dada kirinya. Keringat dingin mengalir berlahan dari pelipisnya. Matanya berkunang dan tak lama hilang sudah kesadarannya.
- xxx -