
Sementara itu di Apartemen milik Alana. Wanita cantik tersebut tengah mati-matian mengusir Sky untuk pulang, tapi tetap saja pria itu bersikeras untuk tinggal di apartemennya. Bahkan saat ia melarang Sky untuk masuk kedalam kamarnya, ada saja alasan yang membuat Alana akhirnya mau tidak mau mengijinkan pria itu untuk masuk kedalam kamar dengan catatan tidak boleh tidur di atas ranjangnya.
"Sepertinya dia sudah tertidur dengan pulas." Alana segera beranjak dari atas tempat tidur menuju bathroom setelah mengambil test pack yang ada di dalam nakas. Sebelum masuk kedalam, ia menghela napasnya dengan panjang saat melihat Sky yang tertidur lelap di atas sofa kecil miliknya.
Ya, pria itu lebih memilih tidur di atas sofa kecil yang ada didalam kamarnya dari pada tidur di kamar tamu. Sky mengatakan jika tidur di kamar tamu tidak bisa menjaganya, dan takut jika sewaktu-waktu ia pergi melarikan diri. Aneh sekali bukan? Mana mungkin ia melarikan diri dari Apartemennya sendiri. Kalau pun Alana ingin melarikan diri, sudah sejak tadi ia melakukannya dengan bantuan Boy Arbeto.
Tak ingin membuang waktu, Alana pun bergegas masuk ke dalam bathroom dan menggunakan test pack tersebut, karena sudah tidak sabar untuk mengetahui apakah benar ia tengah hamil seperti yang dikatakan dokter Adrian.
"Oh my God." Pekik Alana dengan sangat terkejut dan tak menyangka saat melihat hasilnya. Dimana ada dua garis merah pada testpack tersebut. "Benarkah ini? Aku hamil?" Alana mengusap perutnya yang masih datar dengan perasaan haru penuh suka cita. Bahkan air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa ia tahan, karena perasaan bahagia yang tidak bisa ia lukiskan dengan kata-kata. Sungguh Alana tak menyangka ia bisa kembali mengandung ditengah kondisi rahimnya yang bermasalah.
"Ya Tuhan, aku hamil." Alana terus menangis sembari mengusap perutnya berulang kali. Tidak lupa ia pun mengucap syukur karena tuhan masih mempercayainya untuk kembali mengandung. Sungguh Alana berjanji untuk kehamilannya kali ini ia akan menjaganya dengan hati-hati bila perlu Alana akan berhenti bekerja, agar bisa konsentrasi pada kehamilannya karena tidak ingin kejadian dulu terulang kembali, keguguran karena lelah dalam bekerja.
Tok..Tok.
"Al..." Sky yang terbangun ingin buang air kecil, mendadak panik saat melihat istrinya tidak ada di atas tempat tidur. "Al kau di dalam?" Ia mencoba membuka pintu bathroom tapi tidak bisa.
"Al..." Sky kembali mengetuk pintu bathroom dengan tidak sabaran. "Kalau kau tidak membukanya akan aku dobrak pintunya."
Karena tidak ada respon apa pun dari dalam bathroom, Sky pun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu yang ada dihadapannya.
"Satu.. dua.. ti—" Sky menghentikan gerakannya yang ingin menerjang pintu, saat melihat pintu tersebut dibuka dari dalam, menampakkan wajah istrinya. "Al..." ia pun segera memeluk Alana. "Kau tidak apa-apa, apa tadi kau pingsan?" karena lama sekali wanita itu membuka pintunya.
"Sky ..." Alana yang awalnya tidak ingin menangis dihadapan pria itu, akhirnya tak bisa membendung rasa bahagia atas kehamilannya dengan menangis di dalam pelukan pria itu. "Terima kasih Sky." Ucapnya dengan tulus. Karena jika tidak ada Sky mana mungkin ia bisa hamil, bisa merasakan kembali menjadi wanita yang sesungguhnya.
"Terima kasih?" Sky yang bingung hanya mengerutkan keningnya. "Terima kasih untuk?"
"Untuk ****** unggul yang kau masukkan ke dalam rahimku." Jawab Alana namun hanya dalam hati.