Pernikahan 99 Hari

Pernikahan 99 Hari
Part 102


"Kalian sudah selesai?" Sky menarik istrinya agar terlepas dari pelukan Mom Sandra. "Kasihan anakku terhimpit," ucapnya sembari mengusap perut Alana.


Melihat kelakuan putranya, Dwight juga Sandra pun tertawa. Mereka bahagia terlebih bisa melihat dari dekat perut menantunya yang buncit, karena selama ini mereka hanya bisa melihat kehamilan Alana melalui foto-foto yang diberikan Sky.


"Boleh Mom sentuh?" pinta Sandra dengan penuh harap.


"Tentu saja Mom," Alana meraih tangan Ibu mertuanya, menaruh di atas perutnya yang buncit.


Sandra mengusap perut Alana dengan perasaan bahagia, bahkan karena terlalu bahagianya ia kembali menangis. Sungguh Sandra tak menyangka keinginannya untuk menimang seorang cucu sebentar lagi akan terkabul, cucu yang sangat diharapkannya sebagai keturunan Dwight beberapa bulan lagi akan lahir ke dunia.


Sementara itu Dwight yang juga ingin menyapa sang cucu yang berada di dalam kandungan Alana, mengulurkan tangan hendak menyentuh perut menantunya.


"Dad mau apa?" Sky reflek menepis tangan Daddy nya.


"Dad ingin menyapa —"


"Tidak boleh! Jangan menyentuh istriku!" Sky menarik Alana menjauh dari Dad Dwight.


"Hei, Mommy saja boleh kenapa Dad tidak boleh?" protes Dwight dengan kesal karena putranya bersikap pilih kasih.


"Karena Mom wanita, sedangkan Dad pria." Sky tidak terima jika istrinya disentuh oleh pria manapun termasuk Daddy nya sendiri.


"Aku memang pria, tapi aku ayah mertuanya bodoh," ucap Dwight dengan kesal.


"Daddy memang Ayah mertua Alana, tapi siapa yang menjamin Daddy tidak berpikiran mesum."


"Kau...!" Dwight memukul putra semata wayangnya itu bertubi-tubi dengan emosi.


Bagaimana bisa putranya itu berpikiran sampai sejauh itu pada ayah kandungnya sendiri, tidak ingatkah Sky jika ia sudah memiliki Sandra yang tidak lain Ibu kandung putranya itu.


Sementara itu Sandra yang melihat pertengkaran suami dan anak, memilih membawa Alana dari pada melerai keduanya. Sandra membawa menantunya itu ke dekat meja makan untuk memperlihatkan masakan yang telah dibuatnya.


"Semua masakan ini untukmu dan calon cucuku," ucap Sandra dengan sangat antusias.


"Mom bisa tolong sampaikan pada koki yang memasak untuk memberikan rasa pada masakannya, karena selama ini rasanya hambar."


Alana memilih berterus-terang dengan rasa masakan tersebut, agar masakan itu lebih enak. Lagi pula yang memasak makanan itu pasti bukan ibu mertuanya, mengingat bagaimana sepak terjang seorang Sandra Dwight.


Sky yang sedang berdebat dengan Daddy nya, segera menghampiri Alana saat mendengar ucapan istri cantiknya itu.


"Al jangan bicara seperti itu."


"Kenapa Sky? Bukankah yang aku katanya benar?" Alana mengerutkan keningnya dengan bingung.


"Jadi rasanya tidak enak, ya?" tanya Sandra dengan kecewa.


"Bukan tidak enak Mom, hanya saja rasanya hambar," jelas Alana.


"Baiklah, lain kali Mom akan membuatkan yang lebih enak."


"Ya Mom," Alana menganggukkan kepalanya, namun didetik berikutnya wajah Alana berubah panik saat tersadar dengan ucapan ibu mertuanya. "Ja-jadi yang memasak semua makan ini Mommy?" tanyanya dengan meringis.


Sandra menganggukkan kepalanya masih dengan kecewa, sungguh ia tidak tahu kalau selama ini masakan yang dibuatnya tidak enak.


"Mom, maaf aku tidak bermaksud..." Alana bingung hendak berkata apa, karena yang ia tahu makanan itu diambil dari mansion Dwight.


Alana yang tidak enak hati pada ibu mertuanya, menatap Sky dengan tajam karena tidak memberitahu lebih dulu kalau semua makanan itu dibuat oleh Mom Sandra.


"Sudah-sudah kau tidak perlu tidak enak hati, lagi pula apa yang dikatakan itu sebuah fakta." Sahut Dwight dengan ringan tanpa perasaan bersalah sudah menyinggung perasaan istrinya.


"Oh.. jadi masakan yang aku buat tidak enak?" Sandra berkacak pinggang dengan menatap tajam suaminya.


Dwight menganggukkan kepala tanpa menyadari kemarahan istrinya, karena terlalu fokus menatap semua hidangan diatas meja