Pernikahan 99 Hari

Pernikahan 99 Hari
Part 43


"Kau dengar Rachel, Alana tidak keberatan. Jadi kau bisa tinggal bersama mereka." Sandra senang akhirnya bisa mengikuti keinginan ibu hamil tersebut.


"Tapi.., aku ingin tinggal disini. Maksudku aku ingin tinggal bersama Sky tapi di mansion ini bersama kalian."


"Kau gila ya!" Umpat Sky yang mulai emosi. Dia tak menyangka wanita yang selama ini dikencaninya ternyata banyak mau nya dan semua keinginannya itu tidak masuk diakal.


"Sky jaga bicaramu!" Sandra menatap tajam putranya. "Keinginan Rachel itu bagus dan Mom setuju. Mom dan Daddy jadi bisa melihat perkembangan kehamilan Rachel. Alana juga setuju bukan untuk tinggal di mansion ini?"


Alana menarik napas dan mengeluarkannya dengan berat. "Tentu Mom, karena aku tidak punya pilihan bukan?" Sindirnya dengan tegas tanpa peduli ekspresi Mom Sandra yang terlihat kesal. "Aku pulang dulu Mom, Dad." Alana pun bergegas pergi dari tempat tersebut.


"Mom aku sangat kecewa padamu." Setelah mengucapkan hal tersebut, Sky langsung menyusul Alana keluar dari Mansion.


Dan disinilah mereka berada, di dalam mobil yang masih terparkir di halaman mansion Dwight.


"Al..."


"Argh.. aku benci padamu Sky, kau pria brengsek!" Umpat Alana sambil memukul pria itu berulang kali sampai mengaduh kesakitan. "Dan aku lebih benci pada diriku sendiri karena tidak bisa meninggalkanmu. Pria brengsek yang banyak meniduri wanita."


"Karena kau sudah mencintaiku, itu sebabnya tidak bisa meninggalkan aku." Sky menahan kedua tangan Alana.


"Cinta..." ketusnya dengan berpikir. Apa benar ia sudah mencintai Sky sampai tidak bisa pergi dari pria brengsek itu.


"Aku minta maaf Al, sungguh aku tidak tahu kalau Rachel hamil." Ucap Sky dengan mencium kedua tangan wanitanya.


"Kau boleh menghabisi ku, tapi tidak boleh meninggalkan aku." Sky ingin mengecup bibir Alana, namun kepalanya sudah lebih dulu terdorong kebelakang.


"Dengar Sky! Sampai hasil tes itu keluar, kau tidak boleh menyentuhku sama sekali."


"What? Tidak bisa begitu Al, bukankah kita sudah sepakat untuk membuat anak." Protes Sky. Karena mana tahan dia tidak menyentuh Alana, karena tubuh Alana sudah menjadi candunya.


"Membuat? Kau pikir adonan!" Alana lagi-lagi menghela napas. "Sudahlah cepat jalan, aku akan mengambil penerbangan berikutnya ke Bali." Ya, Alana memutuskan untuk pergi menyusul Calvin hari ini juga. Karena pikiran dan hatinya benar-benar sangat kacau, butuh suasana baru setelah digempur habis-habisan oleh Rachel dan Mom Sandra.


"Tidak boleh, aku tidak mengijinkanmu."


"Kalau begitu sampaikan keberatan mu itu pada Boy Arbeto. Karena pekerjaan yang aku lakukan disana atas perintahnya." Karena memang rumah sakit internasional milik keluarga Arbeto.


Mendengar nama Arbeto disebut tentu saja membuat nyali Sky menciut. Namun demi Alana agar tidak pergi ke Bali, ia akan melakukannya.


"Oke, kita ke mansion utama sekarang." Sky menyalakan mobilnya.


"Tunggu! Kau serius?" Alana menatap Sky dengan tak percaya. Karena sebenarnya tadi hanya alasan Alana saja agar Sky tak menghalanginya untuk pergi ke Bali


"Tentu saja, kau pikir aku bercanda." Baru saja Sky ingin menginjak pedal gas, tiba-tiba saja Rachel berdiri tepat di depan mobilnya.


"Mau apa lagi dia?" Ucap Alana dan Sky bersamaan.