Pernikahan 99 Hari

Pernikahan 99 Hari
Part 65


"Ya Tuhan, kenapa mimpiku seperti nyata?


Alana mengusap dadanya dengan perlahan, menenangkan diri setelah mimpi buruk melihat Sky di pukuli oleh beberapa pria berpakaian hitam. Tidak dapat dipungkiri dalam hatinya, walaupun ia sangat marah pada pria yang berstatus sebagai suaminya itu, tapi Alana tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Sky.


"Semoga ini hanya mimpi buruk biasa." Ucap Alana pada dirinya sendiri, sembari turun dari atas ranjang.


Namun saat ia hendak berjalan menuju bathroom, suara dering pada ponselnya membuat Alana melangkahkan kaki menuju nakas di samping tempat tidur.


"Agam..." Alana membuka pesan singkat yang dikirim oleh sepupunya itu. Dan betapa terkejutnya ia saat melihat foto-foto yang dikirim oleh Agam Mateo. "Oh my God, Sky?" pekiknya kembali saat melihat wajah suaminya yang tampan itu dipenuhi oleh luka lebam, bahkan di ke-dua sudut bibir Sky terlihat berdarah. Entah apa yang sudah dilakukan Agam pada suaminya, tapi yang jelas luka-luka itu bukan luka ringan.


"Boy Arbeto..." Dengan kesal Alana menghubungi ponsel sepupunya, orang yang sangat ia yakini berada di balik pemukulan Sky. Padahal ia sudah mengatakan untuk jangan memukul Sky, tapi sepupunya itu sepertinya tidak mendengar permintaannya.


"B...!" teriak Alana saat panggilannya terhubung.


"Kenapa Al?" tanya Boy dengan berpura-pura tidak tahu apa tujuan wanita itu menghubunginya, karena dari suara teriakan Alana saja sudah bisa ia tebak Agam telah mengirimkan foto-foto hasil karya pria itu pada Alana.


"Sudah aku katakan jangan menyakiti Sky! Kenapa tetap kau lakukan?" protesnya dengan kesal.


"Aku tidak menyakitinya Al." Jawab Boy dengan tenang di ruang kerjanya yang ada di mansion utama.


"Ck, kalau kau tidak menyakitinya mana mungkin Agam mengirimkan foto-foto Sky yang babak belur." Ujar Alana yang semakin kesal. Bagaimana tidak kesal kalau sepupunya itu tidak mengaku sudah menyakiti Sky.


"Al.. Al. Sekarang aku tanya. Siapa yang mengirimkan foto-foto itu?"


"Bagus berarti kau tidak buta, jadi kau tahu bukan siapa yang memukuli Sky?"


"Agam," ucap Alana dengan lirih. "Tapi Agam melakukan itu karena perintah darimu." Karena ia tahu betul Agam tidak akan bertindak gegabah sampai memukuli orang tanpa sebab.


"Nah kalau ini baru benar." Boy tertawa.


"B...." geram Alana yang kini emosinya sudah dilevel sepuluh.


"Kau memintaku untuk tidak menyakiti pria bodoh itu, tapi tidak melarang ku untuk memerintahkan orang menyakitinya bukan? Lagi pula kau itu seharusnya bahagia, karena pria yang menyakitimu sudah mendapatkan balasannya." Jelas Boy panjang lebar.


Namun penjelasannya itu tidak mendapatkan respon apa pun dari Alana, wanita itu justru mematikan sambungan ponselnya begitu saja.


"Dasar wanita! Selalu menyusahkan dan sulit untuk dimengerti." Umpat Boy pada ponselnya.


Sementara Itu Alana yang masih kesal, segera menghubungi Agam untuk mencari tahu dimana keberadaan Sky. Dia ingin memastikan sendiri keadaan suaminya, juga untuk menyelesaikan hubungan mereka dengan baik-baik. Bukankah mereka mengawali pernikahan sembilan puluh sembilan hari itu dengan baik-baik, jadi Alana pun ingin mengakhirinya dengan baik-baik.


Setelah mengetahui alamat rumah sakit tempat Sky dirawat, Alana pun dengan segera pergi menuju rumah sakit tersebut. Sampai di rumah sakit, ia pun langsung berjalan menuju ruang rawat Sky. Namun langkah kakinya terhenti saat ia melihat ke-dua mertuanya tengah berdebat, atau kata yang lebih tepat Dad Dwight tengah meluapkan emosi pada Mom Sandra.


"Alana..." Sandra yang tengah dimarahi habis-habisan oleh suaminya, kini menatap pada menantunya yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berada.


Dwight yang juga melihat keberadaan Alana, segera menghampiri menantunya itu dengan menarik Sandra secara kasar. Ia ingin istrinya itu meminta maaf pada Alana, agar perusahaan miliknya tidak gulung tikar.