
Kesehatan Fina berangsur membaik setelah Benny memberikan kepastian kapan akan pulang ke Mojokerto. Hari demi hari dia lewati dengan mual dan muntah di pagi hari. Sepertinya penyakit maag yang diderita wanita cantik itu belum sembuh total. Padahal obat dari dokter sudah habis sejak dua hari yang lalu.
"Gak, aku gak boleh kelihatan kalau masih sakit. Mas Benny tidak boleh melihat aku lemas seperti ini. Hari ini aku harus berangkat ke Mojokerto untuk bertemu ibu," batin Fina ketika duduk membungkuk di atas closet. Dia terasa lemas setelah memuntahkan isi perutnya meski saat ini masih jam empat pagi.
Setelah dirasa kondisi tubuhnya lebih baik, Fina bergegas membersihkan diri sebelum sholat subuh. Sepasang suami istri itu kembali merajut kasih setelah satu minggu melewati hari dengan keadaan membeku. Semua rasa kesal di hati terselesaikan di atas ranjang king size itu. Kehangatan telah melelehkan kebekuan di antara suami istri itu.
"Kenapa lama sekali sih!" Tiba-tiba Benny menerobos masuk ke dalam kamar mandi di saat Fina sedang menikmati dinginnya air shower.
"Ketuk pintu dulu kan bisa sih, Mas! Kaget tahu gak sih!" protes Fina seraya menatap Benny sekilas. Dia melanjutkan memijat kulit kepala yang dipenuhi dengan busa shampo itu.
"Aku kebelet pipis!" ucap Benny sambil melepas pakaiannya. Pria tampan itu mengamati setiap yang dilakukan oleh istrinya. Naluri alami yang ada dalam tubuh seketika bangkit dan ingin diselesaikan.
"Mas! Jangan macam-macam! Waktu sholat subuh udah mepet loh!" Fina memberi peringatan kepada suaminya itu saat merasakan sentuhan lembut di punggungnya.
"Tenang saja! Hanya satu macam kok," gumam Benny sambil menyibak rambut yang baru saja selesai dibilas itu. Dia mendaratkan beberapa kali kecupan hingga membuat tubuh Fina bergetar.
"Mas!" ujar Fina lagi saat memberi peringatan kepada suaminya.
"Sebentar dan hanya satu macam saja kok, Sayang." Benny mulai menjalankan aksinya di bawah guyuran shower itu.
Sentuhan lembut mulai menjalar di sekujur tubuh. Mantan duda itu menuang sabun cair di atas shower puff untuk membuat busa. Setelahnya dia menelusuri setiap lekuk tubuh mulus itu hingga busa seperti salju menutupi kulit mulus itu. Suara manja terdengar di sana tatkala Benny bermain-main dengan busa di puncak bukit teletubbies. Tentu hal ini membuat getaran hebat di pusat vulkano. Lahar hangat pun mengalir setelah sang empu sampai pada puncaknya.
"Buruan! Kita tidak punya banyak waktu!" ujar Fina dengan napas tersengal.
"Hmmm ... kalau udah selesai terbang, kok berubah jadi galak banget ya istriku ini," seloroh Benny sambil mengatur posisi yang tepat di sana.
Dinginnya air di sana tidak terasa karena kehangatan kembali tercipta. Asupan pagi telah didapatkan sepasang suami istri itu untuk mengisi amunisi semangat dalam menjalankan tugas hari ini. Suara-suara manja kembali menggema di sana karena dahsyatnya guncangan yang terasa. Hingga beberapa puluh menit lamanya, mereka akhirnya menyelesaikan kegiatan tersebut.
"Mas duluan deh, jangan lupa bangunin Elza. Gak papa telat dikit daripada tidak sholat," ucap Fina seraya mengguyur tubuh untuk yang kedua kalinya.
Benny bergegas keluar dari kamar. Dia pun bersiap untuk menunaikan kewajiban dua rakaat. Tak lupa, dia pun harus membangunkan Elza di kamarnya. Sungguh, mereka seperti dikejar oleh waktu.
"Loh jagoan Papa ternyata udah bangun!" Benny terkejut setelah membuka pintu kamar dan melihat kehadiran Elza di sana.
"Aku udah bangun dari tadi, Pa! Aku menunggu Papa sama Mama di sini lama banget. Aku ketuk pintunya berkali-kali tapi Papa gak kunjung keluar. Papa kok bisa bangunnya telat?" protes Elza dengan wajah yang tertekuk.
Benny hanya mengulum senyum setelah mendengar protes dari putranya. Dia tidak mendengar sama sekali jika pintu kamar berkali-kali diketuk oleh Elza, "sebaiknya kita ke tempat sholat dulu, Mama masih ganti baju," ajak Benny seraya merangkul tubuh putranya. Mereka menapaki satu persatu anak tangga hingga sampai di tempat ibadah yang ada di dekat dapur. Tak berselang lama, Fina pun hadir di sana. Dia belum sempat mengeringkan rambut panjangnya karena dikejar waktu.
"Mandi di waktu subuh itu baik untuk kesehatan, Sayang. Selain untuk membersihkan diri, mandi pagi bisa menyegarkan badan," jelas Benny dengan asal.
"Tapi Mama kan baru sembuh dari sakit, Pa," sanggah Elza seraya menatap wajah ibu sambungnya itu.
"Sudah, sudah. Lebih baik kita mulai saja sholat subuhnya. Udah terlambat." Fina memotong pembahasan tidak penting itu setelah memakai mukenahnya.
Suara lantang Benny terdengar fasih saat membacakan ayat-ayat Al-Qur'an dalam sholatnya. Duda tampan itu mulai terbiasa menjadi imam keluarga yang baik karena mereka membiasakan untuk sholat berjamaah setiap harinya.
Detik demi detik terus berlalu begitu saja. Langit gelap gulita perlahan berubah menjadi terang karena sang raja sinar telah hadir di cakrawala. Segala persiapan telah dilakukan sebelum berangkat ke Mojokerto, beberapa pakaian pun sudah disiapkan karena rencananya mereka akan menginap di rumah Badiah.
"Duh, kok badanku gak enak gini sih! Padahal udah mau berangkat," batin Fina sambil menatap dirinya lewat pantulan cermin yang ada di kamar mandi. Dia baru saja muntah padahal baru saja selesai sarapan.
"Mama! Sudah ditunggu Papa!" teriak Elza sambil mengetuk pintu kamar mandi.
"Iya, Nak. Sebentar lagi," jawab Fina sambil merapikan penampilannya agar Benny tidak curiga jika dia baru saja selesai muntah.
Tak berselang lama, Fina keluar dari kamar mandi sambil tersenyum tipis. Pasalnya, Elza masih ada di sana menunggunya hingga selesai. Mereka berdua bergegas keluar dari rumah dan tak lupa mengunci pintunya. Mobil pajero hitam yang akan dibawa ke Mojokerto pun sudah berada di luar pagar.
"Kita mampir ke rumah ibu Ani dulu kan, Mas?" tanya Fina setelah masuk ke dalam mobil. Mereka akan menitipkan kunci rumah kepada Ani.
Waktu berlalu begitu cepat. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dua jam lamanya. Mobil yang dikendarai Benny akhirnya sampai di Mojokerto. Tidak lama lagi mereka akan sampai di desa tempat tinggal Badiah selama ini.
"Ada apa ya kok banyak warga berbondong-bondong ke barat?" Fina bergumam karena melihat ibu-ibu tetangga membawa ember yang biasa diisi beras ataupun bahan pokok yang lain ketika datang unjung-unjung ataupun takziah.
Perasaannya mendadak resah ketika melihat ibu-ibu tersebut belok ke arah rumahnya. Benny pun menghentikan mobil tidak di halaman luas Badiah karena sepertinya ada tenda di sana. Mereka bertiga segera keluar dari mobil untuk melihat keadaan yang ada di sana. Fina tercengang begitu kakinya menginjak tanah di halaman rumah ibunya. Napasnya tersengal setelah melihat rumah tersebut dipenuhi banyak tetangga.
"Ya Allah ... Ya Allah, Mas!" gumam Fina dengan tatapan kosongnya. Tak lama setelah itu tubuhnya terjengkang ke belakang. Untung saja Benny dengan sigap menangkap tubuh istrinya itu. Fina pun tidak sadarkan diri setelah melihat apa yang ada di hadapannya.
...πΉTo Be Continued πΉ...
...Ada yang bisa menebak kira-kira apa yang menyebabkan Fina pingsan?π...
...π·π·π·π·π·π·...