
Suara kicauan burung dan suara ayam berkokok saling bersahutan saat menyambut pagi. Sinar hangat sang mentari mulai hadir di ujung timur. Semilir angin pagi menambah syahdunya suasana di desa tempat tinggal Fina selama ini. Segala aktivitas pun sudah dimulai.
Tepat pukul tujuh pagi, Badiah tiba di rumah setelah mencari nafkah di pasar. Wanita paruh baya itu sengaja pulang cepat karena di rumah ada putri sulungnya, Fina. Dia pun terkejut melihat Fina pulang mendadak dengan wajah murung, seperti sedang menahan beban berat dalam hidup. Sejak tadi malam, Badiah menunggu Fina bercerita, tetapi Fina memilih bungkam. Ibu dua anak itu hanya khawatir saja melihat sikap putrinya.
"Lah, masih tidur ternyata," gumam Badiah setelah membuka pintu kamar Fina.
Wanita paruh baya itu menutup kembali pintu tersebut. Lantas dia pergi ke dapur untuk masak dan melakukan kegiatan yang lain. Kondisi rumah terasa sunyi sepi karena di jam-jam seperti ini, Nisa pun sudah berangkat kuliah.
Bu. Tadi Mbak Fina habis sholat subuh tidur lagi. Jadi, Nisa sarapan sendiri. Mbak Fina susah dibangunin.
Badiah mengela napas setelah membaca surat yang ditinggalkan Nisa di atas kulkas. Setelah itu dia melanjutkan kegiatannya di dapur. Masak untuk makan siang bersama kedua anaknya nanti, mengingat untuk sarapan Fina, sudah ada makanan yang disiapkan.
"Bu," sapa Fina setelah duduk di kursi yang ada di dapur. Dia duduk berhadapan dengan ibunya yang sedang membersihkan sayuran.
"Cuci muka dulu gih! Masa anak perawan seperti itu!" ujar Badiah seraya menatap putrinya yang terlihat lesuh itu.
Tanpa banyak protes, Fina segera beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju kamar mandi dan setelah beberapa menit dia keluar dari sana. Tanpa membersihkan wajah dengan handuk, dia kembali ke tempat semula. Duduk di hadapan ibunya dengan malas.
"Kamu ini kenapa toh, Nduk? Masih pagi kok sudah murung saja?" tanya Badiah seraya menatap putrinya sekilas.
"Masa sih, Bu? Perasaan biasa saja," jawab Fina sambil menyibak rambut panjang yang dibiarkan tergerai itu, "Nisa kemana, Bu? Tumben sepi?" tanyanya setelah tidak menemukan batang hidung adiknya.
"Sudah berangkat kuliah," jawab Badiah tanpa menatap Fina. Dia masih sibuk mengupas terong sebelum dipotong-potong, "Fin, ada apa?" tanya Badiah seraya menatap putrinya dengan intens.
Hanya helaan napas berat yang terdengar dari gadis itu saat menanggapi pertanyaan ibunya. Dia masih merangkai kata yang tepat untuk disampaikan kepada ibu yang selama ini membesarkannya itu. Tentu Badiah tahu jika putrinya sedang ada masalah.
"Cerita saja, Fin. Jangan dipikir sendiri," ujar Badiah tanpa menatap putrinya.
"Fina lagi adalah masalah, Bu. Bukan masalah besar sih. Tapi ini masalah .... emm ...." Fina menghentikan pengakuannya.
"Masalah hati?" Badiah menatap putrinya dengan senyum yang manis, "memangnya hati siapa yang sedang kamu jaga?" tanya Badiah.
"Ini masalah rumit, Bu. Sangat rumit!" Fina memijat pangkal hidungnya setelah mengucapkan keresahan hatinya.
"Ya sudah cerita saja. Kalau dipendam sendiri, gak akan mungkin mendapat solusi," ucap Badiah sebelum beranjak dari tempatnya. Dia berjalan menuju tempat cucian piring untuk membersihkan sayuran yang baru saja dikupas.
"Fina bingung banget, Bu. Ada dua pria yang sedang dekat dengan Fina dan harus ada salah satu diantaranya yang harus Fina pilih," ujar Fina dengan diiringi helaan napas yang berat.
"Siapa mereka?" pancing Badiah sambil mencuci sayuran. Padahal, dia sudah bisa menerka siapa pria yang dimaksud putrinya.
"Pak Ben dan kang Aris, Bu," jawab Fina dengan suara lirih.
"Lalu?" Badiah membalikkan badan dan berjalan ke tempat Fina berada saat ini. Dia duduk di hadapan putrinya untuk mendengarkan keluh kesah seorang gadis yang beranjak dewasa itu.
"Terus kamu sukanya sama siapa? Tidak mungkin jika mereka punya nilai yang sama dari sudut pandangmu," ucap Badiah.
Pada akhirnya Fina menceritakan semua hal tentang kedua pria yang membuat perasaannya tak karuan akhir-akhir ini. Kondisi Elza pun tak luput dari pembahasan pagi ini. Sementara Badiah berusaha menelisik lewat sorot mata itu agar mengetahui apa yang sedang dirasakan oleh putrinya.
"Kamu sebenarnya suka 'kan sama pak Benny?" potong Badiah ketika Fina menceritakan tentang duda tampan satu anak itu.
Fina tercekat setelah mendengar pertanyaan itu. Dia menggerakkan bola matanya ke kiri dan ke kanan untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.
"Tidak! Fina tidak suka Pak Benny, Bu!" tolak Fina tanpa berani menatap ibunya, "Tidak mungkin Fina suka duda anak satu, Bu. Tidak mungkin!" kilah Fina sambil menatap ke arah lain.
"Oh jadi kamu mencoba mengingkari perasaan karena statusnya. Tidak ada masalahnya suka dengan duda. Ya ... apalagi kamu sudah sayang sama anaknya." Badiah mengulas senyumnya saat melihat perubahan ekspresi wajah putrinya.
"Cinta itu tidak memandang status. Asal pria yang kita sukai tidak memiliki istri. Meski status ekonomi berbeda jauh, tetapi mau bagaimana lagi ... keduanya saling mencintai kok." Badiah mencoba memberikan petuahnya, "ikuti kata hatimu, Fin. Jangan terlalu mengikuti akal karena terkadang akal kita tidak selalu benar." Badiah meraih tangan putrinya dan digenggamnya dengan erat.
"Tapi Fina bingung, Bu. Mereka sama-sama serius kepada Fina," ucap Fina dengan kepala tertunduk.
"Ya sudah begini saja. Kalau kamu bingung biar ibu yang menentukan. Ibu ingin tahu siapa diantara kedua pria itu yang serius dengan kamu." Badiah mengambil keputusannya.
"Siapapun yang datang terlebih dahulu menemui Ibu hari ini, maka dia lah yang akan menjadi suamimu. Mari kita buktikan bersama, siapa yang menjadi jodohmu. Pokoknya yang datang terlebih dahulu menemui Ibu, dia yang Ibu pilih menjadi suamimu." Badiah memberikan ultimatum dengan tegas.
Fina segera beranjak dari tempatnya setelah mendengar interuksi ibunya. Dia masuk ke dalam kamar untuk mengaktifkan ponselnya, karena sejak kemarin dia tak berniat ingin dihubungi kedua pria membingungkan itu.
Fina termenung di dalam kamarnya sambil memikirkan jawaban dari Badiah. Mungkin, kali ini dia harus mengikuti saran dari ibunya itu agar tidak menyesal di kemudian hari. Notifikasi pesan terus masuk di ponselnya, ternyata semua pesan itu dari Benny. Fina membaca sekilas pesan masuk tersebut dan setelah itu dia mulai mengetik pesan yang akan dikirim kepada Aris dan Benny.
"Aku harus ngirim pesan gimana ya?" gumam Fina sambil menatap ponselnya.
Dia memutuskan menghubungi kedua pria tersebut untuk memastikan jika keduanya membaca pesan darinya. Tidak adil bukan jika hanya salah satu yang membaca pesan tersebut. Panggilan dari Aris dan Benny pun bergantian masuk, tetapi tidak diterima oleh Fina. Dia segera mengetik pesan untuk kedua pria itu saat status keduanya online.
Pesan ini saya kirim untuk Kang Aris dan Pak Benny secara siaran. Saya sudah memutuskan pilihan dengan kepala dingin. Siapa pun yang hari ini datang terlebih dahulu menemui ibu saya, dialah yang saya pilih. Saya tunggu di rumah Mojokerto.
...πΉTo Be continued πΉ...
...Waduh bagaimana kalau Aris yang datang duluan? Pak Ben kan lagi jaga Elzaπ―...
...ββββββββββββββ...
...Sambil nunggu othor up, kuy baca juga karya author Lusiana Anwar dengan judul Penyesalan Suami: Pecah Seribu....
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...